Guru Kesatria Di Hari Guru



Rabu, 24 November 2021 - 09:00:45 WIB



Oleh: Amri Ikhsan*

 

Indonesia sudah menghadapi banyak peperangan sejak zaman penjajahan dulu.Ada perang Dipenogoro, Perang Padri, Perang Aceh, dll. Perang ini  tidak cukup mengandalkan kesaktian, namun kepiawaian dan strategi pertempuran tingkat tinggi.

Kini, setelah ratusan tahun berlalu, kisah perang legendaris itu masih dipelajari walaupun sudah memasuki dunia yang semakin tak berbatas (borderless).Perang kekinian adalah "Perang Saudara", perang melawan kebodohan, keterbelakangan. Perang ini harus dipimpin oleh pasukan ‘sekolah’ yang siap tempur. Namun, pasukan tersebut tak ada artinya jika tidak dipimpin kesatria handal. Peperangan hanya akan dimenangkan pihak yang memiliki kesatria cerdik, dapat membaca situasi, dan kualitas kepemimpinannya sangat mumpuni (Handono).

Dalam perang ini, pendidikan memiliki lima orang kesatria: guru, tenaga kependidikan, kepala sekolah, pengawas dan komite sekolah. Mereka hasil didikan dan tempaan “para dewa”. Sebutlah guru, ksatria utama pendidikan, yang tidak hanya belajar dari LPTK dalam hal ilmu mengajar dan membidikkan siswa, namun juga ditempa mentalnya melalui tapa ‘sertifikasi’, sebelum akhirnya ‘lulus’ dan dianugrahi senjata khusus oleh pemerintah bernama TPG (tunjangan profesi Guru).

Pendidikan dan tempaan yang diterima oleh guru, pengawas dan kepala sekolah adalah pendidikan lengkap.Bukan hanya ilmu pengetahuan (kognitif)) yang didapat, melainkan juga pengasahan kematangan, kearifannya (asertif), serta keterampilan menerapkan ilmu (Hardono).Dengan modal itulah pendidikan ‘direncanakan’ menaklukkan kebodohan.

Setelah belajar dan pelatihan di suatu tempat selama ‘beberapa minggu’, pemerintah akhirya menganugrahi guru dengan gelar utamanya, yaitu: guru profesional. Guru profesional adalah lambang ilmu paripurna, bukti kelulusan cum laude sebagai guru, yang membuat guru tidak hanya menguasai ilmu mendidik, tapi juga bermental profesional, berpenghasilan handal.

Para guru yang kesatria mampu menyesuaikan karakter dan potensi siswa dengan ilmu yang diberikannya.Guru ini memang harus ‘membeda bedakan’ siswa karena siswa siswa itu berbeda. Tapi, guru tentu tidak berjuang sendiri tapi dibantu oleh banyak pihak. Pengawas adalah partner guru. Pemerintah tidak memaksa pengawas berada di garis depan medan laga melawan kebodohan. Namun, ia mendapat tugas khusus mengawasi, membina para guru dalam menjalankan tugasnya

Sejatinya, bak dalam perang, guru masa kini pun harus memiliki senjata ‘paling mendidik’  jika ingin memenangkan perang ini. Seorang kesatria harus datang dengan 'keunggulan':  keunggulan akademis dan nonakademis. Keunggulan akademis guru bisa didapat dari belajar menulis yang berperan penting mengasah keahlian mendidiknya.

Keunggulan nonakademis bisa didapatkan dari banyak membaca dan menganalisis untuk melatih  berpikir kritis, situasional, out of the box dan juga kearifan yang merupakan ‘senjata pamungkas’ untuk memenangkan peperangan.

Keunggulan guru kesatria yang menjadi senjata andalan dalam proses pembelajaran (PP) adalah kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, membuat jaringan serta berinteraksi dalam lingkup multikultur. Satu hal yang tak kalah penting adalah kesadaran akan potensi diri dan kepekaan terhadap tantangan ke depan (Kompas).

Pembentukkan guru kesatria perlu waktu, binaan dan sebuah proses panjang. Mereka tidak dapat "dikarbit", terutama untuk hal-hal yang berhubungan dengan kedewasaan, kematangan, dan kearifan (Kompas).

Guru harus menyadari bahwa perjuangan kekinian dan kedisinian adalah perjuangan yang mengandalkan human resources ketimbang mengandalkan kebiasaan dan rutinitas. Menyadari bahwa pembelajaran guru berbasis kebiasaan akan menjadi usang dan digeser menjadi pembelajaran berbasis kompetensi, integritas dan nilai-nilai.

Begitu juga, guru harus disadarkan bahwa revolusi teknologi informasi dan digital harus mendorong guru untuk berinovasi dalam PP berbasis digital. Tanpa kepekaan, revolusi teknologi hanya disikapi sebatas kecanduan update status atau sekedar mengunduh foto selfie di berbagai media sosial.

Guru kesatria harus mencontoh kepemimpinan Nabi (prophet), karena beliau mengkombinasikan antara akhlakul karimah dengan model kepemimpinan yang ada. (Firdaus).Nabi terkenal sebagai orang yang ramah, ringan tangan dan suka berbagi pada sesama. Beliau memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama manusia.Beliau memikirkan kondisi masayarakatnya yang terbelakang dan jauh dari peradaban.Kegelisahan inilah yang membuatnya merenung di gua Hira hingga diangkat menjadi nabi. (Hart)

Oleh karena itu, minimal ada 4 karakter kepemimpinan profetik: pertama, siddiq, kejujuran merupakan syarat utama bagi seorang guru yang sebenarnya. Kejujuran seorang guru dinilai dari perkataan dan sikapnya.Sikap guru yang jujur tercermin dari perkataannya, dan perkataannya merupakan cerminan dari hatinya.

Ciri khas karakter siddiq antara lain tidak suka berdusta, tidak mudah terpengaruh hawa nafsunya, serta tidak mengutamakan kepentingan pribadi di atas organisasi (Kumolohadi & Budiharto, 2012).

Kedua, amanah: dapat dipercaya, setia, profesional, dan penuh tanggung jawab. Kebalikan dari amanah adalah khianat (Budiharto & Himam, 2006).Guru yang amanah memiliki kredibilitas dan integritas yang tinggi, dipercayai oleh siswanya. Dia tidak akan mudah goyah oleh godaan untuk mengabaikan pembelajaran berkualitas. Dia tidak pernah terbawa arus mengajar ‘seenaknya”, tanpa persiapan, ceramah ‘melulu’, dll.

Ketiga, tabligh, guru dalam berkarya menjadikan siswa sebagai subjek pendidikan yang ‘wajib’ diajak berkomunikasi. Guru berkomunikasi dengan perasaan, pemikiran, kepentingan, kebutuhan siswa. Oleh karena itu, hanya komunikasi yang santun yang dapat mewujudkan cita cita ini.Komunikasi merupakan pintu masuk untuk terjalinnya silaturrahmi yang baik dengan siswa.

Tablighjuga bermakna transparan, bukan sebaliknya menyembunyikan informasi dan kebenaran (Budiharto & Himam, 2006). Karakter gurutabligh: berkomunikasi dengan siswa untuk memotivasi, melenjitkan prestasi siswa walaupun itu ‘pahit’. 

Keempat, fathonah, memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Kecerdasan guruakan menambah kepercayaan diri dan membantu mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang terjadi dalam pembelajaran. Guru yang cerdas tidak mudah frustasi menghadapai problema, karena dengan kecerdasannya dia akan memandu menemukan jalan keluar terbaik. Guru yang cerdas tidak akan membiarkan masalah berlangsung lama, karena dia selalu tertantang untuk menyelesaikan masalah tepat waktu.

Guru yang kesatria yang menerap sifat sifat nabi menjadikan guru ‘tahan dan siap’ menghadapi banyak tantangan dan problematika di era distrupsi. Selamat Hari Guru Nasional Tahun 2021, “Bergerak dengan Hati,Pulihkan Pendidikan”.(*)



Artikel Rekomendasi