Di Hadapan Mahasiswa Baru UIN, Ketua FKPT Jambi Berikan Pemahaman Soal Moderisasi Beragama



Selasa, 07 September 2021 - 11:36:04 WIB



 

JAMBERITA.COM- Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Jambi Prof Ahamd Syukri memberikan materi terkait moderisasi beragama yang digelar ) Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi dalam rangka “Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi” Selasa (7/9/2021). Acara ini diikuti secara virtual oleh seluruh Mahasiswa baru UIN STS Jambi.

Dalam pembahasannya, Prof Syukri mengatakan Konsep universal yang dipromosikan moderasi Islam antara lain: keadilan, persamaan, keseimbangan dan toleransi. “Moderasi Beragama, dalam hal ini konteks Moderasi Islam. Karena jika mayoritas sudah bisa menerapkan hal ini, maka yang minoritas bisa terayomi,” katanya.

Moderasi sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perilaku atau perbuatan yang wajar dan tidak menyimpang. Dalam bahasa arab, moderasi merujuk kepada tiga terma yaitu wasath (tengah), wazn (alat ukur), dan ‘adl (adil/ seimbang). Dalam al-qur’an menyebut wasath 5 kali, wazn 23 kali dan ‘adl 28 kali.

Ciri islam moderat adalah pentingnya menetapkan prioritas dalam beramal. Contohnya: persoalan khilafiyah dalam masalah fiqih. seringkali seseorang bersikap radikal dalam berpegang kepada salah satu mazhab fiqih untuk amalan yang hukumnya sunnah dan menyalahkan pihak lain yang berbeda sehingga menimbulkan pertentangan dan permusuhan.  Hal ini tidak akan terjadi apabila orang tersebut memahami fiqih prioritas dengan baik. karena memelihara persaudaraan sesama muslim adalah wajib hukumnya, sementara amalan yang diperselisihkan hukumnya sunnah.

Ia mengatakan fanatisme adalah keyakinan atau kepercayaan yang terlalu kuat terhadap ajaran (agama, politik, dan sebagainya). “Untuk  menghindari fanatisme yang berlebihan maka kerukunan hidup antar pemeluk agama yang berbeda dalam masyarakat yang majemuk harus diperjuangkan dengan catatan tidak mengorbankan akidah,” katanya.

Ia menambahkan, ada dua kemudahan dalam ajaran islam, yaitu pertama, kemudahan yang asli; sebagai ciri khas ajaran islam yang memang moderat dan sesuai dengan naluri manusia (qs. al-baqarah/2: 185; al-nisa’/4: 28; al-hajj/22: 78). Kedua, kemudahan yang disebabkan adanya alasan yang memudahkan. misalnya: tidak berpuasa di bulan ramadhan karena sakit atau safar (qs. al-baqarah/2: 184).

Dengan membaca ayat-ayat al-qur’an secara utuh akan disimpulkan bahwa kata jihad dalam al-qur’an tidak selalu berkonotasi perang mengangkat senjata melawan musuh, tetapi dapat bermakna jihad melawan hawa nafsu dan setan. “Pesan al-qur’an akan tampak sebagai rahmat bagi seluruh alam, berwatak toleran dan damai bila dicermati berdasarkan semangat umum ayat-ayatnya, sebaliknya bila ayat-ayat perang yang diperhatikan, terlepas dari konteks dan kaitannya dengan ayat-ayat yang lain, maka al-qur’an akan terkesan sebagai ajaran keras, kejam, dan tidak toleran,” jelasnya.

Dalam penetapan syariat islam dikenal tiga azas yaitu tidak menyulitkan, meminimalisir/meringankan beban, bertahap dalam pembinaan hokum.(*/sm)

 





Artikel Rekomendasi