Cahaya di Balik Jendela Coding: Perjuangan Hafiyan dan Semesta yang Mendukungnya di UTBK UNJA



Jumat, 24 April 2026 - 11:55:43 WIB



JAMBERITA.COM - Di sebuah sudut ruang Laboratorium UPATIK 1 Universitas Jambi (UNJA), Kamis (23/04/2026), jemari Muhammad Hafiyan Fuad mungkin tak secepat peserta lain dalam menavigasi kursor. Namun, di balik keterbatasan penglihatan yang ia miliki, ada gelombang tekad yang jauh lebih besar dari sekadar deretan angka dan soal ujian. Hafiyan sedang merajut mimpi besarnya: menjadi seorang ahli teknologi melalui Program Studi Teknik Informatika.

Kisah Hafiyan dalam UTBK SNBT tahun ini bukan sekadar tentang menjawab soal, melainkan sebuah simfoni dukungan yang melibatkan keluarga, guru pendamping, hingga kebijakan inklusif pihak universitas.

Bagi sebagian orang, Teknik Informatika mungkin dianggap sebagai bidang yang mustahil bagi penyandang disabilitas netra. Namun bagi Hafiyan, coding adalah bahasa yang ia cintai. Di tengah keterbatasannya, ia adalah sosok yang aktif dan telah beberapa kali mengasah kemampuannya dalam perlombaan coding.

Ika Thalia Nisa, S.Si., Gr., M.Si., guru pendamping yang mengenal Hafiyan dengan baik, menyebutnya sebagai siswa yang memiliki inisiatif luar biasa."Hafiyan ini anaknya menyenangkan, suka berinisiatif, dan banyak bertanya. Secara pemikiran sebenarnya sama seperti anak pada umumnya, hanya memiliki keterbatasan pada penglihatan. Tapi itu tidak menghalangi dia untuk terus belajar dan berkembang," ungkap Ika Thalia penuh bangga.

Keberanian Hafiyan untuk mendaftar di jurusan yang kompetitif tidak muncul secara instan. Ada tangan-tangan yang terus menggenggamnya agar tidak jatuh. Pihak keluarga adalah garda terdepan yang melakukan riset mendalam demi mencari kampus yang memiliki aksesibilitas baik sekaligus menyediakan jurusan impian Hafiyan.

Dukungan teknis pun tak kalah kuat. Ika Noor Hidayati, S.Pd., Gr., selaku Koordinator Kelulusan Siswa SLBN Prof. Dr. Sri Soedewi MS, S.H., memastikan setiap prosedur pendaftaran hingga kesiapan mental Hafiyan terjaga. Baginya, perjuangan Hafiyan adalah implementasi nyata dari amanat undang-undang.

"Jangan ragu. Negara sudah menjamin melalui Undang-Undang bahwa setiap warga negara Indonesia, baik difabel maupun tidak, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan," tegas Ika Noor.

Melihat perjuangan Hafiyan, Rektor UNJA, Prof. Helmi, yang meninjau langsung pelaksanaan ujian, memberikan angin segar bagi para pejuang disabilitas. UNJA tidak hanya menyediakan fasilitas teknis saat UTBK, tetapi juga membuka pintu lebar-lebar melalui jalur afirmasi pada seleksi mandiri mendatang.

“Kami memprioritaskan mereka agar dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan tinggi di Universitas Jambi,” ujar Prof. Helmi. Langkah ini menjadi bukti bahwa UNJA bukan sekadar tempat belajar, melainkan institusi yang peka terhadap kesetaraan.

Fasilitas yang responsif dan panitia yang sigap di UNJA tahun ini mendapat apresiasi tinggi dari para pendamping. Namun, bagi Hafiyan, perjalanan baru saja dimulai. Langkahnya di ruang ujian hari ini adalah bukti bahwa hambatan fisik hanyalah sebuah variabel, bukan hasil akhir.

Kisah Hafiyan adalah pengingat bagi kita semua: bahwa pendidikan adalah milik mereka yang berani bermimpi, dan tugas kita adalah memastikan jalan menuju mimpi itu tetap terbuka bagi siapa saja, tanpa terkecuali.(afm)





Artikel Rekomendasi