Oleh: Asyhadi Mufsi Sadzali*
“Air, Ayer, Aek, Water, Miyahun, Hydor, Nero, Tirtha” dan sejuta nama lain dalam banyak peradaban menempati rantai teratas unsur paling penting bagi kelangsungan hidup manusia dan alam semesta. Keberadaannya menutupi sebagian besar permukaan bumi, dan berdasarkan pada data Geologi AS (USGS), 72 persen permukaan bumi tertutupi air atau sebanyak 326 Juta mil kubik atau seluas 1,332 milyar kilometer kubik. Fakta menarik lainnya, bahkan tubuh manusia sendiri terdiri dari 70 persen air, sehingga membutuhkan minimal dua liter per-hari.
Boomgaard (2007) dalam buku “A World of Water” Mendefenisikan air sebagai suatu kebudayaan sekaligus penentu berkembangnya peradaban umat manusia. Sedang dalam kitab kuno Taittiriya Upanishad, air menjadi salah satu dari pancamahabhuta; air, api, angin, tanah, udara. Pentingnya air pada peradaban melayu kuno Jambi, dipandang tidak sebatas untuk kebutuhan konsumsi kehidupan sehari-hari, lebih dari itu, pada banyak prasasti berbahasa melayu kuno air dinarasikan sebagai akar dan penggerak peradaban yang melahirkan satuan geopolitik yang dikenal sebagai kerajaan melayu kuno dari abad ke-7 hingga abad ke-15 M.
Sebagai kerajaan yang lahir dari “tepian sungai” lokasi nya juga berada dekat sekali dengan air, yakni disepanjang Daerah Aliran Sungai Batanghari, mulai dari Hulu ke Hilir, hingga ke Muara. Dimana jejak peradabannya baik berupa artefak, ekofak, dan fitur masih dapat kita saksikan dan jadikan madah pembelajaran dan acuan melangkah dimasa depan.
Ernest Hamy (1885) seoarang antropolog Prancis dalam karya “Revue D’ Ethnographie” menyebutkan bahwa kata “Air” dalam bahasa melayu kuno juga dikenal dengan sebutan “Ayer”. Kata air tidak muncul pada masa kerajaan melayu kuno, namun telah dikenal sejak zaman purba atau yang dikenal dengan migrasi awal rumpun bahasa Austronesia ke Sumatera pada 3500 tahun yang lalu.
Retno Purwanti (2019) dalam karya berjudul “Bahasa Austronesia Dari Sumatera”, mengemukakan bahwa akar dari bahasa melayu kuno berasal dari rumpun bahasa Austronesia yang mulai berkembang di Sumatera setidaknya sejak 3500 tahun yang lalu. Satu diantara suku kata yang banyak ditemukan pengembangan variannya adalah kata air, dan kata ini juga ditemukan dalam beberapa prasasti berbahasa melayu kuno, diantaranya prasasti kedukan bukit (682 M), menyebutkan bagaimana Dapunta Hyang berangkat dari Minanga Tamwa atau pertemuan dua sungai menuju mukha upang. Sedangkan prasasti Saruaso I (1375 M), menyebutkan “sukle ?a??ithir n?pottamagu?air “ artinya pembangunan saluran air untuk kebutuhan pertanian. Baik air maupun aliran sungai, sangat akrab dengan kehidupan masyarakat melayu kuno.
Beberapa pakar berpendapat bahwa Minanga Tamwa dalam prasasti Kedukan Bukit merujuk pada Daerah Aliran Sungai Batanghari dengan 17 anak sungainya; sungai Pijuan, Bulian, Batang tembesi, Tabir, Batang Tebo, Batang Jujuhan, Batang Pangea, Plaku, dan Sinabuan. Hal ini diperkuat dengan tinggalan arkeologi yang tersebar di sepanjang DAS Batanghari dari hulu hingga ke muara. Baik Wolters (2011), maupun Codes (2014), dalam buku Kedatuan Sriwijaya menawarkan hipotesa kedua kerajaan besar di Sumatera lokasi geopolitiknya berada di kedua sungai utama yakni Musi dan Batanghari. Walaupun terdapat teori tandingan, bahwa keduanya hanyalah bagian dari perpindahan lokasi ibu kota kerajaan.
Seperti tercatat dalam teks kuno dan berita penjelajah asing, kerajaan melayu kuno pada awalnya berlokasi di hilir sungai Batanghari, lalu pada abad ke 12 berpindah ke hulu sungai. Dimana kemudian temuan arkeologi membuktikan melalui sebaran bangunan di kawasan Dharmasraya, hingga Tanah Datar, pun demikian bukti tertulis penguat yang dimuat dalam dua 22 buah prasasti yang dikeluarkan semasa pemerintahan Adityawarman. Sebagai kerajaan yang lahir dan hidup dari air, maka perhatian dalam pengelolaan air juga sangat ditekankan. Ada relasi yang kuat antara manusia dengan air, alam dan konsep religi. Kramrisch (1976) dalam buku The Hindu Teample, bahwa pembangunan bangunan suci seperti percandian senantiasa ditempatkan dekat dengan aliran sungai, dan lebih suci bila diantara kedua aliran sungai. Mengingat peranan air sebagai unsur yang mensucikan dan membersihkan segala kotoran dan penyembuh segala penyakit.
Keluasan pengetahuan dan harmonisasi masyarakat melayu kuno dengan air tergambar pada kompleksitas pembagian hirarkis tingkatan sungai. Dimulai dari aliran terbesar atau induk sungai yang disebut “Batang”, kemudian induk sungai ini memiliki anak sungai yang disebut batang air, dan setiap batang air memiliki beberapa buluran, hingga satuan terkecil parit dan tali air. Selain mengklasifikasikan aliran sungai dalam tingkatan hirarkis, dalam pengendalian dan pengelolaan air masyarakat melayu kuno juga sanngat arif dan bijaksana. Terlihat dari pengolaan socio-hidrologi yang diterapkan yakni mengelola air untuk kepentingan masyarakat luas, baik dalam keperluan religi, kepentingan ekonomi, sosial, budaya maupun politik. Bukti arkeologis nya dapat kita saksikan pada jaringan kanal kuno di percandian Muarajambi.
Kanal kuno Muarajambi merupakan suatu jaringan kompleks, dimana satu aliran terhubung dengan lainnya seperti; sungai melayu terhubung dengan sungai Jambi, juga terhubung dengan parit johor, serta parit sekapung, dan bersumber awal dari Sungai Batanghari. Asyhadi Mufsi Sadzali (2017) dalam jurnal berjudul “Kanal Kuno Candi Muarajambi; Mitigasi Banjir Musiman di Situs Candi Muarajambi”, mengungkap bahwa terdapat lima tujan utama pembuatan kanal; 1) Penataan ruang kosmologi pemisah antara yang sakral dengan profan, 2) Bagian dari jaringan pengendalian luapan air sungai Batanghari, 3) Sistim penampungan dan pengelolaan air bersih pada kolam-kolam penampung seperti situs telago rajo, 4) Sebagai jalur penghubung antar wilayah percandian. 5) Untuk pengairan perkebunan “talang” disekitar kawasan. Alhasil kebutuhan terpenuhi, termasuk kwantitas dan kwalitas komoditas perdagangan berupa rempah yang penting dalam pemajuan perekonomian masa melayu kuno.
Seolah lupa akan warisan kearifan leluhur dalam mengelola air dan sungai Batanghari, luapan sungai kini tak lagi menjadi berkah namun musibah. Seperti berita antara edisi kamis 1 April 2021, sebanyak 28 rumah di tiga kecamatan yakni Maro Sebo, Muara Tembesi, dan Muara Bulian terendam banjir. Bahkan bila hujan turun lebih dari satu jam banyak jalan di Kota Jambi terendam banjir. Belum lagi tingkat pencemaran sungai yang semakin meninggi. Termasuk hulu sungai tutupan lahannya semakin kritis, hutan gundul, PETI dan illegal drilling terus ber-operasi. Seperti kata seloko “Kalu aek keruh di muaro, cubo tengok ke hulu”, maka sebagai solusi paling ampuh, mari kita mulai dari diri sendiri untuk peduli dan merasa air-sungai sebagai bagian dari kelangsungan hidup kita dan generasi setelah kita.(")
Asyhadi Mufsi Sadzali, adalah arkeolog dan akademisi Universitas Jambi.*
Maulana di Harla Pancasila: Implementasi Kampung Bahagia Wujud Semangat Nilai-Nilai Pancasila



