OPINI: Wajah Baru Pariwisata Candi Muarajambi



Rabu, 05 Mei 2021 - 15:29:26 WIB



Oleh: Asyhadi Mufsi Sadzali*

Kilas balik ke Festival Internasional Europalia di Brussel, Belgia, Oktober 2017 silam, Eropa digemparkan dengan kehadiran tiga objek dari Muarajambi. Selain stand yang selalu ramai pengunjung, media masa Eropa juga kerap mengabarkan keberadaan ketiga objek itu, yakni arca Prajnaparamitha, dan dua arca Awalokiteswara berlapis emas. Berdasarkan informasi dari tim yang turut ke Belgia, pengunjung antusias melihat nilai seni estetis yang luarbiasa, juga karena nama besar Muarajambi di masa lampau yang telah tersohor sebagai pusat Pendidikan di Asia Tenggara, tempat It Sing dan Guru Besar Athisa pernah menuntut ilmu.

United Nation World Tourisme Organization, dalam penelitiannya, sejak 2010 paradigma pariwisata global telah mengalami peralaihan. Beberapa negara Eropa, dan di Asia mulai mengemas ulang identitas wisata-nya. Jambi dalam waktu yang sama, masih pada tahapan menelisik apakah wisata benar-benar mampu meningkatkan APBD atau tidak. Keragu-raguan itu membuat langkah peralihan belum sepenuhnya dipacu, dan gerbong panjang berisi penumpang yang sebahagian telah lama bersiap, duduk bosan menunggu lokomotif menyalakan mesin menuju tujuan.

Sekilas menerawang potensi wisata Nusantara, tak banyak daerah yang memiliki karunia komplit dimana perpaduan alam nan-indah menyatu dengan jejak panjang peradaban kaya sejarah, budaya, dan cagar budaya. Satu diantara yang sedikit itu adalah Jambi dengan alam dan warisan peradaban kuno yang menyebar dari dataran tinggi Kerinci hingga ke Muara Sabak dengan sejuta hal menarik sesuai selera masyarakat global di era smart tourisme, era baru pariwisata yang tidak hanya melihat fisik, akan tetapi pengalaman, nilai, dan cerita yang terkandung didialamnya.

Seperti jarum jam yang tak pernah bertahan pada angka yang sama, demikian juga trend dan cara publik berwisata senantiasa berkembang sesuai jiwa zamanya. Di tahun 2010 hingga di 2020, wisata didominasi dengan konsep massal, dan cukup puas dengan melihat, membeli souvenir, dan foto-foto. Namun siapa sangka, bila kini cara berwisata dunia lebih bermuatan edukasi dan pengelaman berharga berniali sosial budaya. Alhasil konsep massal kurang sesuai, beralih ke konsep wisata tematik. Dan perubahan ini besar dipengaruhi oleh generasi milenial. Bersama gadget-nya, mereka lebih selektif mencari informasi destinasi dan hal menarik lain yang bermanfaat untuk pengembangan diri dan wawasan. Secara tidak langsung milenial “memaksa” dunia pariwisata untuk lebih serius dan smart dalam mengemas dan mengelola.

Berwisata kini terlihat begitu mudah. Segalanya jadi begitu ter-planing, dengan pertimbangan dan analisis statistik kelemahan dan kelebihan beberapa target destinasi yang akan dikunjungi. Seperti Bali dibandingkan dengan Lombok dalam segala aspek, tidak hanya mempertimbangkan soal keindahan pantai, tapi juga dalam tradisi, keunikan desa “pekaraman” atau pun konsep “Trihita karana” nya, bahkan mempertimbangkan situs cagar budaya, museum dan hal-hal smart lainnya. Maka para pakar menyebutnya “Era Smart Toursime” telah dimulai.

Merujuk kepada data UNWTO, United Nation World Tourisme Organization, bahwa data riset terkini menunjukkan pendapatan wisata mampu mengimbangi pendapatan Negara dari sektor Migas dan pertambangan. Cukup banyak negara maju yang mulai melakoninya, antara lain; Dubai, Korea, Jepang, dan Amerika. Para pakar pariwisata percaya, trend ini akan terus berlangsung hingga beberapa decade di masa depan. Argument utamnya, berpadangan kepada bahwa kebutuhan parwisata bukan lagi sebatas memuaskan mata, dan lidah, namun untuk pemenuhan nutrisi otak dan jiwa.

Perilaku berwisata pasca “New Normal” bukan akan menurun, tapi jutsru aka semakin meningkat. Pakar sejarah parwisata, Sunjayadi (2019) dalam bukunya berjudul “Pariwisata di Hindia-Belanda 1891-1942, membuktikan bahwa parwisata sejak zaman purba hingga era kolonial, akan terus menjadi kebutuhan umat manusia. Pelakunya pun tidak pandang usia, staus sosial, ataupun tingkat pendidikan. Terbukti bahwa pengunjung situs taman gantung di Babilonia yang dibangun pada masa Raja Nebukadnezar II, pada tahun 650 SM tidak hanya dikunjungi para bangsawan kerajaan namun juga rakyat biasa.

Pun demikian, pembangunan taman Sriksetra oleh Raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanasa dalam prasasti Talang Tuwo berangka tahun 684 M, dibangun untuk semua lapisan masyarakat dan mahluk di alam semesta.   Walau target wisata ke Lombok tahun ini belum dapat terpenuhi, berkunjung ke kawasan Percandian Muarajambi patut dicoba dan masuk daftar list destinasi wisata yang wajib dikunjungi.

Teori pariwisata yang selama ini digunakan dianggap kurang relevan dalam tata kelola era “Kebiasaan Baru”. Seperti yang dikemukakan pakar wisata dari UNS, Derria Adi di Wijaya, bahwa berwisata dimasa depan akan terus melonjak tinggi walau dengan aturan tambahan ketat seperti wajib mengikuti Protokol Kesehatan, surat non-reaktif Rapid Tes, dan jumlah pengunjung yang terbatas. Hal ini sejalan dengan konsep UNWTO, yang dikemukakan Zurab Pololikasvhvili, bahwa wisata selain meningkatkan pendapatan Negara, dan masyarakat lokal juga harus menjaga kelestarian alam, budaya dan cagar budaya, maka wajah baru parwisata tidak lagi sekedar menawarkan produk barang-jasa, namun juga menawarkan pengalaman dan pengetahuan tentang alam, budaya dan keseharian masyarakat lokal.

Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Candi Muarajambi yang telah mulai dikunjungi wisatawan setidaknya sejak tahun 2008, hingga kini 2021, perlahan mulai ber-transformasi ke wajah baru, dimana dalam tata kelola pemerintah berkolaborasi dengan masyarakat lokal, serta tidak hanya menjual produk barang, dan jasa namun juga mulai menawarkan pengalaman bermuatan pengetahuan sejarah sosial dan budaya. Tentu peran aktif komunitas pelestrai Muarajambi sangat besar dalam perubahan ini. Namun jalan menuju wajah baru yang sesuai era baru masih harus terus dikembangkan dengan inovasi dan kreatifitas sesuai dengan akar budaya lokal dan paradigma global, “Think Globally, Act Locally”.

Untuk itu beberapa hal penting yang perlu dibenahi menuju wajah baru wisata KCBN Candi Muarajambi, tidak sebatas buying product, juga buying experience, pertama menyipakan regulasi pendukung baik tingkat provinsi maupun kabupaten, kedua melengkapi sarana prasarana yang relevan dengan wisata era “New Normal”, ketiga memperluas sebaran destinasi, tidak menumpuk di kawasan candi Gumpung sekitarnya, keempat memperkuat daya tarik dengan storynomics, penguatan dengan konten cerita, narasi berlandaskan data dan hasil riset dalam bahasa dan gaya populer, kelima meningkatkan promosi melalui Film dan jurnalisme populer, ke-enam pemerintah support penuh gerak langkah komunitas dan masyarakat, baik moril dan materil. Ketujuh, wisata patuh Protokol kesehatan, menyenangkan dan membawa kebahagian lahir dan batin. “Better to see something once than hear about it a thousand times_Asian Proverb.

Asyahdi Mufsi Sadzali, Arkeolog dan akademisi Universitas Jambi.





Artikel Rekomendasi