Selamatkan Negeri dari Ancaman Kedaulatan dan Perpecahan Umat



Minggu, 08 November 2020 - 15:18:21 WIB



Oleh: Farah Sari, A. Md.

 

 

Saat ini sudah menjadi kebiasaan  penguasa di negeri muslim termasuk Indonesia sering meminta bantuan negara imperialis/kolonialis seperti AS dan negara Barat lain. Untuk menyelesaikan masalah di negeri mereka. Sebagaimana dalam kasus  Timor-Timur,  Aceh,  Papua,  Khasmir, dan Palestina. Padahal negara kolonialis   tersebut nyata-nyata memusuhi umat islam dan terus berusaha untuk menguasai negeri kaum muslim. Selain itu,  hampir seluruh persoalan yang mendera negeri-negeri islam saat ini sesungguhnya adalah sengaja diciptakan negara kolonialis. Para penguasa itu meminta bantuan negara kolonialis juga demi memelihara dukungan negara itu untuk kekuasaannya, karena mereka paham tanpa dukungan tersebut kekuasaan mereka akan roboh.

Laut Cina Selatan (LCS) Jadi Rebutan Karena Wilayah Potensial

Dikutip dari CNN.Indonesia (03/07/20) LCS merupakan suatu wilayah yang membentang seluas 1,4 juta mile persegi di Samudera Pasifik yang melintasi berbagai negara seperti Filipina, Indonesia hingga Vietnam. LCS juga meliputi wilayah mulai dari Selat Malaka hingga Selat Taiwan. LCS juga memiliki ratusan pulau. Namun yang paling besar antara lain adalah Pulau Spratly, Pulau Paracel, Pulau Pratas  yang juga diklaim oleh enam negara ASEAN.

Namun kebanyakan pulau-pulau tersebut tak berpenghuni menurut Council for Foreign Relations (CFR). Sehingga secara historis sangat susah untuk menyelesaikan konflik yang terjadi. Isu teritorial lain juga melibatkan China. Pemicunya adalah klaim negeri Xi Jinping bahwa 80% LCS atau 2.000 km area merupakan bagian negaranya dengan konsep Sembilan Garis Imajiner.

Besarnya potensi LCS sebagai berikut :

Pertama, cadangan migas, ikan hingga logam tanah jarang atau Rare Earth Element (REE) yang aplikasinya banyak untuk industri hilir berteknologi tinggi. Menurut CFR, di LCS ada sekitar 900 triliun kaki kubik gas alam. Angka ini tentunya sangat fantastis. Jika memang benar cadangan gas yang ada mencapai sebanyak itu, maka LCS memang wilayah yang kaya sumber daya alamnya. Sumber lain dari American Security Project menyebutkan bahwa cadangan gas di LCS mencapai 266 triliun kaki kubik dan menyumbang 60% - 70% dari total cadangan hidrokarbon teritori tersebut. Tak hanya estimasi cadangan gas saja yang beragam, tetapi juga berlaku untuk cadangan minyaknya. Ada yang memperkirakan cadangan minyak LCS mencapai 7,7 miliar barel. Sementara estimasi lainnya memperkirakan jumlahnya mencapai 213 miliar barel atau hampir 80% dari cadangan minyak Arab Saudi. Ini adalah informasi yang berhasil diperoleh di tahun 2012.

Kedua, LCS menyimpan kekayaan ikan yang tak ternilai harganya. Pada 2012, Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam Filipina menyebutkan bahwa LCS memiliki sepertiga dari total keanekaragaman laut di dunia yang berkontribusi terhadap 10% dari total tangkapan ikan di planet bumi. Beberapa komoditas perikanan laut yang terkandung di dalam LCS seperti ikan layur, makarel, scraper hitam, teri, udang, kepiting hingga ikan kecil lainnya.

Ketiga,  potensi LCS juga berada di jalur perdagangan strategis yang dilalui oleh kapal tanker pengangkut minyak. Menurut CFR, 50% dari total kapal tanker pengangkut minyak global melewati LCS. Jumlah kapal tanker pengangkut minyak yang melalui LCS 3 kali lebih banyak dari Terusan Suez dan lebih dari lima kali Terusan Panama. Lebih dari setengah dari 10 pelabuhan pengiriman terbesar di dunia juga berlokasi di LCS.

Jika melihat kekayaan alam yang melimpah ini, wajar saja jika LCS sering jadi rebutan. Terutama oleh negara yang memiliki Ideologi seperti AS dan Cina. 

//Bergantung Pada AS atau Cina Adalah Bunuh Diri Politik//

Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya bukanlah negara ideologis, sehingga mereka tak punya power untuk bisa berdiri di hadapan negara-negara adidaya yang merupakan pengusung ideologi kapitalisme dan sosialisme komunis. Sebagaimana diketahui, keberadaan ideologi bagi sebuah negara memang merupakan hal yang mendasar dan sangat urgent. Karena, ideologilah yang sejatinya akan memberi visi global, dan mengarahkan negara dan bangsa manapun untuk tampil menjadi negara yang mandiri, adidaya bahkan menjadi negara pertama. Jadi bukan sebagai negara pengekor yang bergantung pada belas kasih bahkan dijajah oleh negara dan bangsa-bangsa lainnya.

Sayangnya meski Indonesia dan banyak negeri Muslim lainnya dipandang sudah merdeka, namun negara-negara ini bukanlah negara ideologis. Hanya saja, pada praktik politik dan ekonominya rata-rata menganut sistem kapitalisme, namun bukan sebagai kapitalis subjek sebagaimana AS dan negara Eropa lainnya melainkan sebagai kapitalis objek .

Upaya AS mencari Simpati Indonesia :

Dilansir dari Galamedianews.com (29/10/20) Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengundang investor Amerika Serikat (AS) untuk investasi di Kepulauan Natuna. Pernyataan tersebut disampaikannya kepada Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo saat berkunjung ke Indonesia. Upaya AS mencari simpati Indonesia terlihat dari beberapa hal, diantaranya :

Pertama,  Seperti diketahui kapal patroli Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China  kerap mengganggu Indonesia dengan memasuki zona maritim NKRI di Kepulauan Natuna. Aparat militer Indonesia tak bisa berbuat banyak karena Beijing menyatakan wilayah tersebut masuk dalam zona bebas terkait klaim laim sembilan garis putus-putus (nine dash line). Kepulauan Natuna tengah terancam dampak dari konflik Laut China Selatan (LCS). Konflik memanas usai China mengklaim sepihak 90 persen dari perairan LCS.

Terkait hal tersebut, Retno mengatakan menolak berbagai klaim maritim di wilayah perairan tersebut. Ia mengatakan konvensi PBB tentang hukum laut atau The United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS 1982) merupakan acuan hukum yang harus diterapkan dan dihormati semua negara.

Sikap tersebut sejalan dengan upaya AS menentang klaim China tersebut. Bahkan, kedua negara telah sepakat bekerja sama untuk melindungi ketahanan LCS. Sepertinya Pemerintah Indonesia ingin menuntaskan masalah tersebut tanpa harus berkonflik langsung dengan Beijing.

Kedua,  AS memang merupakan salah satu investor utama Indonesia. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat investasi AS ke Indonesia sebesar 279 juta dola AS pada kuartal III 2020 untuk 417 proyek. Dengan jumlah tersebut, AS menempati posisi ke-7 negara dengan investasi terbesar.

Kunjungan AS ke Ormas Islam Upaya Kokohkan Islam Moderat Strategi Pecah Belah Umat

Menteri Luar Negeri AS menyempatkan diri berkunjung ke salah satu ormas Islam di Indonesia. Mike Pompeo menggelar pertemuan dengan Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nahdlatul Ulama (NU) di Jakarta. Ditemui sebelum menggelar pertemuan dengan Pompeo, Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, GP Ansor memiliki beberapa kesamaan tujuan. Pertama, Ansor ini ingin agar citra soal Islam, terutama di dunia Barat tidak melulu citra yang identik dengan kekerasan dan teror. "Ada sisi Islam yang lain, Islam yang penuh rahmah, Islam yang penuh kasih sayang yang di sini kita kenal dengan Islam rahmatan lil alamin," tuturnya. (Okezone.com, 29/10/20)

Amerika Serikat memang merancang pendekatan yang amat halus dalam pertarungan ideologi antara Islam dan Kapitalisme. Cheryl Benard –peneliti RAND Corporation– menyebutkan bahwa dunia Islam harus dilibatkan dalam pertarungan tersebut dengan menggunakan nilai-nilai (Islam) yang dimilikinya. AS harus menyiapkan mitra, sarana dan strategi demi memenangkan pertarungan. Tujuannya adalah pertama, mencegah penyebaran Islam politik. Kedua, menghindari kesan bahwa AS “menentang Islam.” Ketiga, mencegah agar masalah ekonomi, sosial, dan politik tidak akan menyuburkan radikalisme Islam (Civil democratic Islam, partners, resources, and strategies / Cheryl Benard. Copyright 2003 RAND Corporation).

Rancangan Rand Corporation menjadikan Indonesia sebagai poros Islam moderat dan sebagai penjaganya. Islam moderat terus dipropagandakan. Menghantarkan pada perpecahan ditubuh kaum muslim, memalingkan muslim dari musuh sesungguhnya serta menunda kebangkitan islam.

Upaya Cina Mencari Simpati Indonesia

Duta Besar China Xiao Qian menyebut kedatangan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo ke Indonesia memprovokasi hubungan bilateral China-Indonesia. Xiao Qian menentang keras tindakan Menlu AS tersebut, menurutnya, pernyataan keliru Pompeo juga justru semakin menunjukkan intensi buruk AS, disamping telah mengganggu perdamaian dan stabilitas kawasan.

"Di tengah kunjungannya ke Indonesia, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo telah melakukan serangan yang tidak berdasar terhadap Tiongkok, telah memprovokasi hubungan Tiongkok-Indonesia, serta telah mengganggu perdamaian dan stabilitas kawasan," ucapnya dikutip dari situs resmi Kedutaan Besar China di Indonesia.  (CNNIndonesia.com, 30/01/20)

Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya menjadi rebutan negara berideologi. Untuk dijadikan wilayah jajahan. Dijajah secara ideologi. Kondisi ini terjadi setelah dunia islam kehilangan payung negara ideologis bernama Khilafah Utsmani pada 1924 akibat konspirasi Barat. Pada saat Khilafah tegak, negara ideologis inilah yg sempat menyatukan negeri-negeri muslim di dunia berikut semua potensi strategis yang dimilikinya, hingga mampu tampil sebagai negara adidaya di hadapan bangsa-bangsa lain dan berhasil membangun sebuah masyarakat yang sejahtera.

//Negara Islam (Khilafah) Adalah Negara Adidaya Pembawa Kebaikan //

Negara islam tidak akan pernah meminta bantuan pada negara kolonialis. Yang memusuhi dan memerangi umat islam. Untuk menyelesaikan persoalan umat islam tersebut. Allah SWT berfirman : " Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim  pada thagut.  Padahal mereka telah diperintahkan meninggalkan thagut itu.  Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka  dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya" (QS.  An-Nur 60).

Rasulullah SAW juga bersabda: "Janganlah kalian mencari penerangan dengan api kaum musrik"

Khilafah juga tidak akan berpartisipasi dalam lembaga - lembaga  yang menjadi alat penjajahan seperti PBB,  Bank Dunia, dan IMF. Lembaga ini digunakan untuk memancarkan kepentingan haegemoni  dibisang politik dan ekonomi. Negara barat mendorong lepasnya  Timor Timur dari Indonesia melalui mandat PBB. Sementara resolusi PPB yang mengutuk penyerangan Israel ke Palestina tidak pernah sungguh-sungguh diperhatikan. Semua itu sekedar lips  service yang tak berguna. Negara Barat menginjak - injak piagam PBB ketika menyerang Afganistan dan Irak. Sebagaimana yang selalu dilakukan Israel. Meski begitu penguasa negeri-negeri muslim masih saja percaya kepada PBB dan menganggap  piagam PBB lebih penting dan mulia dibandingkan wahyu Allah SWT.

Adapun lembaga keuangan internasional IMF dan Bank Dunia selalu digunakan kolonialis untuk menguatkan cengkraman ekonomi Barat atas negeri-negeri kaum muslim. Dengan mengikat leher negeri kaum muslim ke lembaga keuangan Barat dengan mudah mengintervensi dan mempertahankan dominasnya atas negeri kaum muslim.  Allah SWT mengharamkan  ketundukan pada kafir penjajah.  Allah SWT berfirman : " Dan Allah sekali-kali  tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk  memudahkan orang-orang beriman" (QS. An-Nahl 141).

Oleh karena itu,  politik luar negeri Khilafah berdasarkan syariah Islam. Sedangkan pelaksanaan syariah Islam sebaik-baiknya merupakan kepentingan umat islam. Karena jika ada kebijakan luar negeri yang tidak berlandaskan islam maka kebijakan tersebut tidak termasuk kepentingan umat islam. Khilafah tidak akan mengadopsi konsep "kepentingan Nasional" yang akhirnya bermuara pada penyerahan  kepentingan umat islam ke tangan  orang kafir.  Dengan jalan menyediakan pangkalan militer,  dukungan logistik dan jaringan intelegen yang ada pada mereka. Khilafah akan mendata gunakan seluruh  sumber daya umat islam yang ada untuk memenuhi tuntutan syariah, yaitu mewujudkan kepemimpinan Islam di seluruh dunia.

Saat ini urusan masyarakat internasional  didominasi oleh kekuatan kolonialis. Yaitu negara-negara kapitalis yang terus memperkuat cengkramannya dan menciptakan konflik diberbagai  belahan dunia. Negara kapitalis memicu peperangan demi terciptanya kepentingan eksploitasi sumberdaya dunia dan memperbudak bangsa-bangsa di dunia. Adapun kebijakan luar negeri khilafah  tidak berorientasi pada kepentingan materi. Tapi kepentingan dakwah,  yakni misi mengeluarkan umat manusia dari gelapnya kekufuran menuju terangnya cahaya Islam. Allah SWT berfirman : " Dan tidaklah Kami mengutusmu Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam" (QS Al-Anbiya 107).(*)

 

 

Penulis adalah: Aktivis Dakwah Islam*



Artikel Rekomendasi