Oleh: Devi Saraswati*
Keberadaan pandemi virus corona (Covid-19) yang tak kunjung usai ini .Tentunya membuat masyarakat dilema , akibatnya sudah banyak sekali yang menjadi korban jiwa . Virus tersebut bisa menyerang siapa saja tidak dilihat dari sisi umur atau pun profesi . Hal tersebut mengakibatkan kekhawatiran sejumlah masyarakat pada aspek kesehatannya. Tidak hanya itu saja, tentunya virus tersebut dapat berimpikasi kepada perekonomian dunia.
Dimasa pandemi ini sebagian masyarakat demi memenuhi kebutuhan sehari-hari tentunya ada yang berbelanja dipasaran bagi pembeli . Dan berjualan bagi pedagang untuk mencari penghasilan sebagai mata pencaharian mereka. Padahal tanpa disadari atau tidak, pasar merupakan tempat kerumunan yang paling rawan yang sangat berpotensi untuk tertularnya virus corona (Covid-19). Hal tersebut dibuktikan dengan adanya data kasus covid -19 yang dicatat oleh DPP IKAPPI.
Dikutip dari Nasional. Okezone.com. bahwa Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKPPI) mencatat sebanyak 529 pedagang positif corona (Covid-19) di Indonesia. Diantara ratusan pedagang tersebut yang positif corona sebanyak 29 yang meninggal dunia. Hal tersebut diperjelas lagi oleh Ketua Bidang Keanggotaan DPP IKAPP, Dimas Hermadiyansyah mengatakan, bahwa saat ini terdapat 13.450 pasar tradisional yang tersebar di seluruh Tanah Air. Sebanyak 12,3 juta orang tercatat menjadi pedagang dipasar tersebut. Angka itu belum termasuk para pemasok barang, PKL, Kuli panggul, serta jejaringan rantai di pasar tradisional. (12/6/2020). Dengan demikian tentunya membuat khawatir banyak pihak , karenanya masyarakat takut berbelanja di pasar tradisonal khususnya. Akibat dari Corona( Covid-19) berdampak pada kehilangan mata pencarian sebanyak 12 juta pedagang. Sebaran virus dipasar tersebut diduga karena pedagang tidak patuhi protocol kesehatan, bahkan petugas covid-19 dari gugus tugas percepatan penanganan yang ada dikabupaten bogor diusir oleh para pedagang dan pengunjung pasar celeungsi pada Rabu (10/6/2020) . Petugas tersebut diusir ketika akan melakukan rapid test.
Terkait dngan pengusiran petugas covid-19 itu, staf humas dan keamanan pasar cileungsi , ujang rasmadi, menyebutkan pedagang pasar celeungsi bereaksi karena kekecewaan terhadap gugus tugas. Sebab adanya aturan pembatasan pengunjung pasar yang dikeluarkan gugus tugas, akan berdampak pada omzet mereka sehari-hari . disatu sisi juga para PKL yang ada diluar area tidak ditindak oleh gugus tugas. (Kumpran com.)
Oleh karena itu , seharusnya pemerintah harus menyediakan sarana tes dan himbauan agar patuh, dan juga butuh pendekatan kepada masyarakat agar sadar pada protocol kesehatan. Dan tidak lupa pemberian jaminan pemenuhan kebutuhan sehingga rakyat tidak memaksakan untuk berjualan yang beresiko sangat besar terhadap penyebaran virus . Serta harus ada sanksi tegas yang dijalankan oleh aparat setelah edukasi memadai.
Seperti pada masa Rasullulah dan Sahabat, umat pernah terkena wabah penyakit. Cara yang dilakukan dalam menangani wabah saat itu ternyata bisa diterapkan di zaman modern saat ini. Termasuk menangani covid-19 . Yaitu dengan anjuran selalu menjaga kebersihan, cuci tangan, juga karantina yang saat ini disebut dengan lockdown, serta berdoa kepada Allah Ta’ala .Dan dalam islam menjaga kebersihan diharuskan, sebelum beraktifitas harus selalu cuci tangan, berwudhu selalu dilakukan lima waktu dalam sehari sebelum shalat. Bahkan ilmuan membuktikan bahwa dengan sering cuci tangan pakai sabun bisa mencegah infeksi virus. Dengan begitu InsyaALLAH kita semua bisa terhindar dari adanya Virus Corna (Covid-19).(*)
Penulis adalah: Mahasiswa dari Program Studi Tadris Biologi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi*
Menghitung Peluang Menang Kandidat Perempuan Pilgub Jambi 2020


Komisaris Utama PT PAL Bengawan Kamto Kembali Ditahan di Rutan Jambi


