Oleh: Presilia Putri Ananda*
Kenal lama dan menjadi akrab bukan alasan untuk sesuka hatimu berperilaku. Kita harus tetap menjaga adab pertemanan sampai kapanpun dan dimanapun. Selayaknya diawal berkenalan yang sangat santun, tutur kata yang baik, memiliki sifat dan sikap malu, menjaga haknya, saling menghormati, mengasihi, tidak merendahkan, tidak menyakiti perasaannya dan masih banyak lagi. Sudah seharusnya adab dan tingkah laku yang terbaiklah yang ditunjukkan.
Sebagai makhluk social, manusia tak bisa hidup sendiri. Dia membutuhkan teman dalam hidupnya untuk berinteraksi dengannya, menyelesaikan masalahnya dan sebagainya. Maka dalam bergaul, kadang seseorang akan berbeda antara keadaan baru bertemu dengan keadaan setelah sudah semakin akrab. Terkadang orang akan merasa biasa jika sudah semakin akrab. Adab-adab berbicara, bertindak, mulai biasa, tanpa ada rasa canggung bahkan sopan santun pun mulai hilang. Mulai Suka bercanda yang kadang keterlaluan dan melampaui batas. Ledekan, lawakan, juga sering terjadi kejutan-kejutan, yang sifatnya gurauan namun kadang menyinggung dan menyakiti. Semakin akrab semakin tak sopan. Padahal adab pergaulan seorang Muslim harus tetap diperhatikan, hak-hak seorang mukmin pun harus tetap dijaga.
(Tulisan Aya Ummu Najwa, pada channel telegram. t.me/MuslimahCintaIslam).
Islam sangat memperhatikan masalah adab. Semua yang kita lakukan memiliki adabnya. Begitu sempurna Islam menjelaskannya bahkan sampai buang hajat sekalipun. Termasuklah adab dalam berteman. Pilihlah teman yang baik, karena tidak semua orang bisa kita jadikan teman. Karena seseorang itu tergantung temannya. Perlakuannya, tutur katanya, kesehariannya dan lainnya. Maka dari itu pilihlah teman yang baik sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam :
“Seseorang ada diatas agama temannya, maka hendaknya salah seorang kalian meneliti siapa yang dijadikan sebagai temannya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud no.4833, dihasankan oleh Asy- Syaikh Al- Albani dalm Ash- Shahihah no.127)
Al-Imam Qatadah berkata: Demi Allah. Kami tidaklah melihat seseorang berteman kecuali dengan yang setipe dan sejenis (satu sama sifatnya). Maka hendaknya kalian berteman dengan hamba-hamba Allah yang shalih agar kalian bersama mereka atau seperti mereka.
pilihlah teman yang jika kita dekat dengannya maka semakin Ingat kita pada Allah, semakin kita ingat pada akhirat. Dan juga semakin akrab berteman maka semakin bertambah dan giat kita menuntut 'ilmu syar'i bersamanya. Semoga Allah menjaga kalian.
Bersama siapa kita bergaul? seperti itulah cerminan diri kita.
Seseorang yang hobinya jika biasa berkumpul dengan berbuat keburukan maka kurang lebih kita akan seperti itu. Begitupun sebaliknya, jika kita biasa berkumpul dengan orang yang rajin ibadah, rajin bermajelis, rajin menuntut ilmu syari, rajin bersedekah dan kebaikannya lainnya maka cepat atau lambat kita akan seperti itu juga.
Seorang Ustadzah yang tidak ingin disebut namanya ketika ditanya oleh penulis via WhatsApp berkata: Karena sudah akrab dan saling tau, jadi tidak ada rasa malu untuk menyembunyikan sesuatu. Akan tetapi, seakrab- akrab nya kita dalam berteman harus tetap menjaga rambu- rambu pertemanan. Seperti: menjaga lisan, tidak bercanda berlebihan, tidak berkata bohong supaya membuat temannya tertawa, berkata kasar dengan maksud bercanda, mengghibah, dan hal buruk lainnya. Tidak demikian.
Dilansir dari almanhaj.or.id Sudah dapat dipastikan bahwasanya seorang teman memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap temannya. Teman bisa mempengaruhi agama, pandangan hidup, kebiasaan dan sifat-sifat seseorang.
Syaikh Abdul Muhsin Al-Qâsim ( Beliau adalah Imam Masjid Nabawi dan Hakim di Mahkamah Syariah Madinah) berkata: Sifat manusia adalah cepat terpengaruh dengan teman pergaulannya. Manusia saja bisa terpengaruh bahkan dengan seekor binatang ternak.
Siapa sih yang pantas kita jadikan sebagai teman dan sahabat karib?
Mari kita lihat point- point dibawah ini:
1. Berakidah lurus, ini syarat mutlak dalam memilih teman. Kita bisa mengambil pelajaran pada kisah kematian paman Rasulullah, Abu Thalib;
2. Taat beribadah dan Menjauhi Perbuatan Maksiat;
3. Berakhlak Terpuji dan Bertutur Kata Baik;
4. Teman yang suka menasehati dalam kebaikan;
5. Zuhud terhadap dunia dan tidak ambisi mengejar kedudukan;
6. Dapat berbagi ilmu dengannya
7. Berpakaian yang Islami;
8. Sosok yang tidak banyak bergurau dan meninggalkan hal- hal yang tidak bermanfaat.
Akan sulit memang mendapatkan teman ideal seperti point diatas. Akan tetapi atas izin Allah Azza Wa Jalla yang dibarengi dengan usaha yang kuat serta berdoa kepada Allah, In Syaa Allah kita akan mendapatkan seperti yang kita harapkan.
Sebagaimana keterangan syeikh Muhammad al- Utsaimin rahimahullah, jika di dalam pergaulan dengan orang fasik menjadikan sebab datangnya hidayah bagi mereka, maka tidak mengapa berteman dengannya. Bisa undang dia kerumah, jalan bersamanya, namun dengan syarat tidak mengotori kehormatan dirimu dalam pandangan masyarakat sekitar. Betapa banyak orang- fasik mendapatkan hidayah dengan berteman dengan orang orang yang baik.
(At- Ta?liquts Tsamin ?ala Syarhi Ibni al?Utsaimin Li Hilyati Thalabil ?ilmi hlm.24. Diakses pada 20 Juni 2020. Didalam situs web almanhaj.or.id/temanbergaulcerminandiri)
Perlu digarisbawahi, pada keterangan diatas yang menganjurkan mencari teman yang baik, bukan berarti kita tidak boleh bergaul dengan orang sekitar lingkungan kita. Misalnya orang non muslim dan sebagainya. Niatkan bergaul dengan mereka untuk mendakwahi dan memperbaiki mereka. Tentu saja kita harus melhat dan mempertimbangkan dari segi kemaslahatan (kebaikan) dan kemudharatannya (bahaya).
Wallahu a'lam.(*)
bersambung....
Part 1 silahkan baca di
Penulis adalah: Mahasiswi UIN STS JAMBI, dalam rangka KKN -DR*
Keterwakilan Perempuan dan Budaya Politik Santun Menyongsong Duel di Pilgub Jambi


Menambal Asa di Jalur Penyangga : Komitmen PUTR Jambi Benahi Infrastruktur Jalan Padang Lamo



