Orang tua Hebat: Pandemi Covid-19 Menciptakan Atmosfer Keluarga yang Kolaboratif



Jumat, 17 April 2020 - 10:02:11 WIB



Siti Amanah,S,Pd.M.Pd
Siti Amanah,S,Pd.M.Pd

Oleh: Siti Amanah,S,Pd.M.Pd*

 

Seluruh orang tua diseluruh penjuru tanah air bahkan sedunia sangat berharap kondisi buruk saat ini cepat berlalu, wabah Covid-19 sudah hampir dua bulan berdampak besar bagi keberlangsungan hidup di berbagai sisi kehidupan, salah satunya pada sisi kehidupan bidang pendidikan.

Berbicara tentang pendidikan dalam situasi sulit sekarang ini harus menjadi prioritas yang mesti kita sikapi bersama. Selama ini, jika menyinggung pendidikan yang kita fikirkan, adalah keberadaan sekolah yang didalamnya ada guru, siswa, praktisi pendidikan serta sarana dan prasarana yang mendukung.

Pendidikan formal menjadi tempat pilihan utama yang dijadikan tempat prosesnya pembelajaran bagi seorang anak, maka daripada itu, orang tua merasa tenang dan nyaman karena sebagian perannya dalam mendidik anak di ambil alih oleh lembaga tersebut.

Namun dengan adanya wabah besar ini yaitu pandemi Covid-19, semua lembaga pendidikan lumpuh dan tidak dapat berperan aktif dalam melaksanakan proses pembelajaran/ pendidikan. Walaupun berbagai alternatif dan strategi di tempuh oleh para praktisi pendidikan dan pemangku kebijakan yang dianggap sebagai solusi terbaik dalam kondisi saat ini. Namun, sama-sama kita ketahui semua itu tidak sebaik yang diharapkan. Banyak keluhan yang berasal dari orang tua terkait pelaksaaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini, banyak hal yang di aggap tidak efektif dan tidak efisien dengan dilakukannya PJJ berbasis android (IT).

Berbagai kendala yang sering muncul setiap hari maupun setiap saat yang terjadi di tengah masyarakat , baik kendala hardware maupun kendala software. Teknologi mungkin bisa mengambil alih peran dalam proses pembelajaran pada kondisi sekarang ini namun kehadiran sosok guru tidak akan tergantikan oleh apapun. Sangat terasa perbedaannya jika proses pembelajaran di laksanakan secara langsung oleh guru dan siswa maka hasilnyapun akan terlihat nyata baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya.

Apapun kondisi dan alasannya pendidikan harus tetap hidup di tengah keprihatinan ini. Didukung dengan kebijakan baru bapak menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Anwar Makarim,B.A.,M.B.A. bahwasannya setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang baik dan layak yang disebut Merdeka Belajar. Ada 4 hal yang menurut mas menteri menjadi prioritas dalam pendidikan, prioritas pertama adalah pembelajaran anak, kedua struktur kelembagaan, ketiga menggerakkan revolusi mental masyarakat, keempat pengembangan teknologi.

Pada prioritas pertama pembelajaran anak tidak bisa kita abaikan walau apapun kondisinya seperti saat pandemi Covid-19 sekarang ini. Sebagai orang tua sudah saatnya berperan aktif dan menjadi garda terdepan dalam menjalankan roda pendidikan dalam proses pembelajaran bagi anak-anaknya, menjadi nahkoda yang handal dalam mendampingi anak-anaknya dalam mengarungi masa sulit ini.

Ketahanan keluarga harus semakin di tingkatkan, Pendidikan berbasis keluarga menjadi solusi yang dianggap paling tepat setiap saat. Walaupun selama ini kebanyakan orang tua menjadikan sekolah adalah ruang kelas utama pada proses pendidikan anak-anaknya, sepenuhnya proses tersebut di bebankan kepada guru dan praktisi pendidikan yang ada di sekolah.

Namun, dalam kondisi sekarang ini sepenuhnya dikembalikan kepada orang tua selaku pendidik pertama dan utama bagi seorang anak, keberagaman kemampuan yang dimiliki para orang tua, menjadi unsur penentu kesiapan PJJ. Suka maupun tidak suka, siap maupun tidak siap semua harus dapat menerima kenyataan ini dengan penuh rasa tanggung jawab.

Walaupun berbagai penekanan terkait pelaksanaan proses pembelajaran pada masa pandemi ini sudah di tentukan, seperti guru harus tetap berkomunikasi dengan murid dan tetap memberikan bimbingan pada muridnya secara jarak jauh, semua akan terlaksana ketika kedua belah pihak saling mendukung berperan aktif.

Banyak hal yang di butuhkan dalam mendukung proses PJJ yang berbasis teknologi , Antara lain keaktifan orang tua, keaktifan anak, dukungan fasilitas IT dan kesiapan mental kedua belah pihak serta peran guru dari jarak jauh.

Sebagai orang tua disini harus betul-betul menyadari bahwasannya pendidikan anak-anaknya saat ini kembali menjadi tanggung jawab sepenuhnya, kembali ke kodratnya bahwa Orang tua adalah pendidik pertama dan utama bagi seorang anak.

Keluarga adalah tempat terbaik bagi proses pendidikan bagi seorang anak, fungsi keluarga sebagai fungsi pendidikan haruslah hidup dan bernyawa secara utuh. Orang tua menjadi guru terbaik baik anak-anaknya.

Jika konsep ini sudah ada pada orang tua insya Allah dalam menjalani masa sulit seperti sekarang ini akan terasa ringan dan bermakna. Keluarga adalah ruang kelas pertama dan sekolah menjadi tempat kedua bagi proses pendidikan anak. Walaupun, terkadang fenomena menunjukkan orang tua mempunyai paradigma bahwa sekolah adalah laundry dan bengkel bagi anak-anaknya. Sebagian orang tua beranggapan bahwa di sekolah, anak-anak mereka akan menjadi bersih dan bebas dari perilkau tidak benar, hal ini yang harus sama sama kita kikis, bahwa keluargalah yang harus menjadi laundry dan bengkel bagi buah hatinya.

Dibandingkan dengan profesi-profesi lain, menjadi orang tua adalah profesi yang paling tidak tersiapkan. Sebuah keluarga didalamnya terbentuk suatu pembelajaran melalui pengasuhan yang dapat meningkatkan prestasi akademik anak (lakshmi dan Arora, 2006). Henry Ward Beecher mengatakan “The Mother’s heart is child’s schoolroom” yang artinya hati seorang ibu adalah ruang kelas tempat anaknya belajar.

Dapat diartikan pendidikan yang diberikan keluarga haruslah berdasarkan situasi yang dihadapi dan dibutuhkan anak. Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara orang tua dan anak selama interaksi itu proses pendidikan berlangsung secara nyata. Apalagi dalam kondisi sekarang ini, peran kita sebagai orang tua sangat dibutuhkan oleh ana-anak, baik secara fisik maupun psikologis.

Orang tua yang hebat memberikan perlindungan senyaman mungkin bagi anaknya, menyediakan ruang hati sepenuhnya buat proses pendidikan anaknya selama di rumah, pada saat ini mereka tidak membutuhkan orang lain dari luar rumah namun kedua orang tuanyalah tempat terbaik baginya.

Pengasuhan positif haruslah menjadi bagian kurikulum mandiri yang menjadi panduan bersama bagi semua orang tua pada pelaksanaan PJJ , adapun bentuk pengasuhan positif sebagai berikut:

1. Pengasuhan berdasarkan kasih sayang, saling menghargai, membangun hubungan yang hangat antara anak dan orang tua, serta menstimulasi tumbuh kembang anak.

2. Pengasuhan yang menggunakan pendekatan dengan mengedepankan penghargaan, pemenuhan dan perlindungan hak-hak anak, juga mengedepankan kepentingan terbaik anak.

3. Upaya untuk memberikan lingkungan yang bersahabat dan ramah sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.
Dalam menerapkan pengasuhan positif sebagai orang tua haruslah memahami hal mendasar yaitu, tahap perkembangan anak, komunikasi efektif dan disiplin positif.

Kita faham bahwa semua anak merasa tidak nyaman dengan kondisi sekarang ini, banyak hal yang menjadi beban mereka ketika berada di rumah dalam kurun waktu yang tidak dapat ditentukan, walaupun secara langung tidak tersirat pada wajah-wajah jernihnya, namun meraka tentunya rindu suasana sebelumnya yang menyatu bersama teman-teman dan lingkungannnya, dunia yang bisa memberikan ruang untuk bisa berekspresi di luar rumah dengan bebas, tapi sekarang anak-anak hanya bisa dirumah dan bertanya kepada kita tentang berbagai hal yang mereka tidak ketahui.

Menjadi tantangan dan tugas utama bagi orang tua untuk bisa menjadi mitra bagi anak dalam melewati hari-harinya supaya penuh dengan makna. Jika ini yang terjadi orang tua sudah sepantasnyalah memberikan layanan pendidikan terbaik buat mereka para tunas bangsa yang menjadi harapan kita semua.

Dengan memberikan pendampingan yang maksimal, sangat diharapkan bisa membantu anak-anak melalui masa sulit seperti sekarang ini. Kalimat yang bijak ketika Bapak Anies Baswedan mengatakan “Keluarga adalah tempat lahirnya benih-benih pendidikan bagi generasi berkarakter dan sekolah adalah tempat tumbuh kembangnya generasi tersebut.

Menciptakan atmosfer keluarga yang kolaboratif akan memperkuat pertumbuhan anak dan membuat mereka dapat memperlajari pelajaran yang paling ingin diajarkan oleh orang tuanya. Terlibat secara fisik dan non fisik merupakan peran orang tua sebagai pendidik terpenting dalam masa tumbuh kembang anaknya, maka orang tua adalah mitra sejati bagi anak dalam menjalani proses pendidikan sekarang dan masa yang akan datang.

Orang tua hebat dapat menjadi panutan atau “Rolemode” bagi anak-anaknya, orang tua sejati adalah guru nyata bagi anak-anaknya “Parents Are The Real Teachers for Children”.(*)

 

Penulis adalah: Ibu dari tiga orang anak
Dosen FKIP Universitas Jambi sekaligus Mahasiswa Program Doktor Kependidikan Pasca Sarjana Universitas Jambi dalam Study Akhir.*



Artikel Rekomendasi