Oleh: Muhammad Beni Saputra*
Masih belum hilang dari ingatan betapa resahnya warga desa di Kabupaten Tebo setelah Sekretaris Daerah Bumi Seentak Galah Serengkuh Dayung itu dinyatakan positif terinfeksi Covid-19. Yang membuat semakin sulit tidur adalah beberapa hari sebelumnya si Sekda menghadiri serangkaian acara, termasuk mewisuda ratusan mahasiswa. Tak pernah terpikirkan sebelumnya virus yang mulanya muncul di Wuhan, daerah yang jauh di Tiongkok sana dapat menjalar ke Tebo. Mengingat ancaman virus covid-19 kian hari kian nyata, perhatian serius terhadap desa-desa di Jambi perlu dicurahkan agar skenario terburuk dari pandemi ini tidak terjadi.
Ada sekitar 1.562 desa dan kelurahan yang tersebar di 141 kecamatan Provinsi Jambi. Sebagian dari desa ini terisolir dan sebagian lagi berada sangat jauh dari Kota Jambi. Ada yang tidak bisa ditempuh melalui darat seperti Desa Air Liki di Merangin. Untuk mencapai desa ini mesti melawan arus deras sungai yang tak jarang membuat perahu terhempas ke batu besar dan karam. Ada yang memiliki medan jalan tapi kondisinya tidak mulus, khususnya saat musim hujan seperti sekarang. Pematang Kabau di Sarolangun atau Muaro Sekalo di Tebo adalah dua contoh dari desa seperti ini. Dan sejatinya banyak lagi desa dengan kondisi serupa di seantero Provinsi Jambi.
Maka tak terbayangkan jika wabah covid-19 merebak tak terkontrol di setiap penjuru desa di Jambi. Pemerintah dan segenap tenaga medis pasti akan sangat kewalahan. Pasien akan meregang nyawa sebab banyak kendala teknis yang menghalangi mereka menerima perawatan medis yang cepat, tepat, dan didukung oleh peralatan khusus Covid-19. Sementara di Jambi hanya ada satu rumah sakit rujukan Covid-19, yaitu RSUD Raden Mattaher. Artinya, jika ada warga desa yang terinfeksi Covid-19, yang bersangkutan harus menempuh perjalanan jauh ke Kota Jambi agar bisa mendapatkan perawatan. Tentu ini bukan hal yang mudah bagi si pasien, apalagi jika kondisinya sudah kritis.
Alasan lain mengapa desa perlu perhatian lebih adalah masyarakat desa pada umumnya religius serta memiliki ikatan sosial yang kuat. Kombinasi ini, jika disalahartikan, akan menjadi bom waktu yang dapat meledak kapan saja. Bukan tidak mungkin warga desa mengintrepretasi pandemi Covid-19 sebagai hukuman Tuhan atau buatan setan yang harus diperangi bersama melalui ritual keagamaan. Ini telah terjadi di salah satu desa di Jambi, di mana warga desa berkeliling melakukan ritual 'cuci kampung’' untuk ‘membersihkan’ desa mereka dari Covid-19. Bisa juga intrepretasi itu mengarah kepada teori konspirasi bahwa covid-19 sejatinya tak lain adalah akal-akalan ‘orang kafir’ untuk membunuh orang Islam. Ini sudah saya dengar sendiri dari salah satu warga desa saya. Dan penelitian saya juga menunjukkan jika teori konspirasi tumbuh subur di tengah pandemi, yang semakin mudah menyebar melalui masifnya penggunaan internet dan media sosial.
Apa yang telah terjadi di luar Jambi semestinya menjadi contoh betapa kekeliruan beragama, yang dipropagandakan oleh para pemuka, bisa menjadi penggerak bunuh diri massal. Pada awal pandemi corona merebak di Indonesia, organisasi keagamaan seperti MUI, NU, dan Muhammadiyah langsung mengambil langkah antisipatif melalui anjuran physical distancing. Tapi tetap ada saja yang ‘ngeyel’. Habib Luthfi memotivasi jamaahnya agar tidak takut virus corona dan tetap beraktifitas di luar. Habib Luthfi sangat dihormati oleh banyak penduduk desa di Jawa Tengah. Penahbisan uskup baru Ruteng di Nusa Tenggara Timur, yang dihadiri oleh ribuan jemaat, tetap berlangsung walaupun pemerintah telah menganjurkan penundaan. Pastor Yakob Nahuway memurkai penutupan gereja di hadapan jemaatnya. Baginya itu suatu kesalahan karena Covid-19 hanya menyerang mereka yang tidak ke gereja. Seorang penceramah Jamaah Tabligh, kelompok yang sebelumnya memicu infeksi besar di Malaysia dan berkumpul dalam jumlah besar di Gowa, Sulawesi, memotivasi pengikutnya untuk mendatangi daerah yang terinfeksi Covid-19. Ini sebagai pembuktian ‘iman’ bahwa Covid-19-lah yang takut kepada Jamaah Tabligh bukan sebaliknya. Jenderal Gatot, yang dianggap sebagai jenderal yang dekat dengan Islam, mengajak masyarakat untuk tetap memakmurkan masjid.
Hal seperti ini berbahaya, sebab disamping memberikan justifikasi teologis kepada masyarakat, ia juga berpotensi meningkatkan kepercayaan diri. Jika tidak ada intervensi dari pemerintah tidak mustahil apa yang terjadi di Korea Selatan dan Iran terulang kembali di Jambi. Sebagaimana diketahui, perkumpulan di rumah ibadah menjadi ajang penularan Covid-19 secara masif di dua negara tersebut. Sejarah juga telah memberikan pelajaran berharga. Ritual keagamaan untuk mengusir pandemi Black Death, wabah mematikan di abad pertengahan, justru memicu infeksi besar-besaran. Ritual keagamaan juga dipraktekkan oleh masyarakat nusantara ketika menghadapi wabah flu Spanyol di tahun 1918. Ritual tersebut tetap tidak berhasil menghentikan lonjakan kematian.
Sangat penting bagi pemerintah daerah, dari tingkat provinsi sampai ke RT mempersolid kerjasama untuk mencegah infeksi masif Covid-19 di desa-desa. Satuan tugas di tiap desa mesti dibentuk. Satgas ini berperan aktif menyebar informasi penting mengenai Covid-19, memantau pergerakan orang yang keluar masuk desa, dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Mereka harus dilengkapi dengan ambulan dan fasilitas medis yang cukup. Apa yang sudah dilakukan selama ini sudah cukup diacungi jempol. Jalanan di semprot disinfektan, beberapa desa juga sudah kebagian tindakan antisipatif yang sama. Tapi tentu semua ini masih belum cukup. Pemerintah perlu melobi pusat untuk memberikan peralatan medis untuk ditempatkan di puskesmas dan rumah sakit kabupaten. Hal ini untuk mengantisipasi tidak tersedianya ruangan perawatan di Jambi. Yang tidak kalah penting adalah pemerintah wajib berkolaborasi dengan pemuka agama di desa-desa untuk membentuk kesadaran physical distancing melalui landasan agama.
Pemerintah pusat pernah menyepelekan hasil penelitian Harvard tentang kemungkinan mewabahnya Covid-19 di Indonesia. Kini virus menular tersebut telah sampai ke pekarangan rumah kita. Jika kita tidak awas, infeksi Covid-19 di desa akan menjadi bagian terburuk dari sejarah pandemi mematikan ini.(*)
Penulis adalah: Akademisi Universitas Sulthan Thaha Saifuddin Jambi*
Optimalisasi CSR untuk Bantuan Masyarakat Terkena Dampak Covid-19
Penguatan Tridharma Perguruan Tinggi Di Tengah Wabah Covid-19
“So glad to be an Australian”; Melirik Australia di Masa Covid-19


Pangkas Hambatan Investasi, Kemenkum Jambi Pastikan Aturan Baru di MPP Tak Tabrak Hukum



