“So glad to be an Australian”; Melirik Australia di Masa Covid-19



Jumat, 10 April 2020 - 18:54:00 WIB



Nisaul Fadillah
Nisaul Fadillah

Oleh: Nisaul Fadillah *

Banyak yang bertanya bagaimana pemerintah Australia terkait dengan penanganan Corona Virus Disease (Covid-19) dan bagaimana respon masyarakatnya. Tulisan ini saya uraikan karena saya menilai ada perkembangan yang cukup menggembirakan terhadap perkembangan terkini laporan kasus Covid di Australia. Saya perhatikan ada hubungan yang signifikan antara tindakan pemerintah dan respon masyarakatnya. Lebih jauh saya ulas bagaimana aksi pemerintah Australia secara umum dan perkembangan kasusnya yang lebih spesifiknya di New South Wales. Saya gambarkan lebih jauh seberapa seriusnya pemerintahnya maupun masyarakatnya terhadap ancaman virus ini.

Membaca Sekilas Angka Tren Covid-19 Australia dan Indonesia

Kalau mau melihat laju kasus covid di negara-negara di dunia, cobalah pantau situs ini: https://www.worldometers.info/coronavirus/#countries. Di sini bisa terlihat rekam dan pergerakan Covid di negara-negara di dunia. Mulai dari jumlah total kasus, angka kematian, tambahan kasus setiap periodic dan kapan kasus pertama kali ditemukan. Saya perhatikan ratio jumlah kasus positif di dunia dan jumlah prosentase kematiannya semakin meningkat. Di awal tingkat kematian hanya berkisar 10%, saat ini meningkat menjadi menjadi 19%. Rasio antara pasien sembuh dan yang melaporkan kasus.

Kasus pertama di Australia ditemukan pertama kali pada 24 Januari 2020 (sekitar 2 bulan yang lalu). Australia mulai melakukan himbauan seperti rajin mencuci tangan, tidak bepergian jika sakit terutama flu dan batuk dan sekolahpun belum ada pilihan untuk belajar di rumah. Aturan tidak begitu ketat, angka kasus pun naik meskipun tidak drastis. Sadar terancam, pemerintah akhirnya menerapkan lockdown dengan cara bertahap. Terjadi perubahan cukup berarti. Jumlah laporan kasus Covid Australia tanggal 31 Maret 2020, saat artikel ini ditulis sejumlah 4.460 dengan angka kematian 19 orang. Artinya tingkat kematian masih dibawah 1% (0,4%). Indonesia, laporan kasus pertama kali 1 Maret 2020 (satu bulan yang 2 lalu). Jumlah kasus saat ini adalah 1.414 dengan jumlah kematian 122 orang. Artinya angka risiko kematiannya sudah sangat tinggi, 11%.

Secara umum tren pertambahan kasus di Australia seminggu terakhir ini mengalami perlambatan. Ini cukup melegakan. Tren pertambahan kasus di New South Wales (NSW), negara bagian Australia dimana kami tinggal saat ini, menunjukkan penyusutan. NSW ini adalah kota terpadat di Australia (7.5 juta jiwa) dan menjadi pusat penyebaran Covid tertinggi di antara negara bagian Australia lainnya. Tanggal 29 Maret 2020, kasus baru yang dilaporkan hari itu sejumlah 174, turun dari 212 di hari sebelumnya. Hari ini (31 Maret) menurun lagi menjadi 114. Saat ini angka kematian di NSW, 8 kasus. Mungkin terlalu dini untuk mengambil kesimpulan bahwa ini akan segera tuntas, karena di Wuhan pun yang pernah 0 laporan kasus, ternyata masih saja ditemukan kasus baru di hari hari berikutnya.

Karena itulah barangkali pemerintah Australia tetap memberlakukan lockdown hingga stage 3 tanggal 29 Maret, dua hari yang lalu. Lockdown itu prosesnya bertahap, dari level 1 ke level 3 jaraknya kurang dari satu bulan satu dengan lainnya. Makin tinggi stage, makin banyak larangan, dan makin banyak pembatasan serta makin serius pemberlakuan sanksi. Di stage 1 dua bulan lalu, masih dibenarkan berkumpul tapi tidak lebih dari 500 orang, sekarang di stage 3 berkumpul maksimum di tempat publik hanya 2 orang kecuali keluarga.

Kebijakan Prioritas

Pertama, mengunci bandara untuk pendatang yang masuk antar negara khusunya negara yang tinggi angka kasus Covid dan memperketat alur masuk untuk pendatang dari negara-negara tertantu. Saat ini untuk penerbangan dari Sydney ke Indonesia hanya melayani 3x seminggu. Di beberapa negara bagian lain kurang lebih sama bahkan mungkin lebih jarang lagi frekuansinya. Prosedur pun sangat rumit jika ingin pulang ke Indonesia apalagi untuk untuk permanent resident Australia. Saat ini di stage 3 sudah tidak ada lagi pendatang dari LN yang boleh masuk hingga enam bulan ke depan.

Kedua, melarang perjalanan antar kota/antar negara bagian dalam Australia. Satusatunya yang boleh masuk adalah angkutan kebutuhan essensial seperti makanan dan kebutuhan harian lainnya. Ketiga, memberlakukan karantina mandiri selama 14 hari untuk yang sebelumnya datang dari luar negeri ataupun dari luar kota. Melakukan proses swab check untuk seluruh pendatang dari luar kota.

Memonitor pelaksanaan social distancing di tempat publik dan pengaturan kunjungan antar rumah. Di stage tiga ini, bahkan bertamu dengan keluarga atau temanpun pun hanya boleh dengan syarat tertentu. Dipastikan ramadhan ini sudah tidak ada lagi tarawih bersama apalagi Ramadhan festive, atau semacam pasar malam, jelas sudah dibatalkan. Tidak juga ada acara berkunjung. Bahkan untuk anak yang hidup terpisah dengan orang tua pun tidak dibolehkan sepanjang tidak kebutuhan sakit atau pelayanan medis. Acara wedding tak boleh lebih dari 10 orang dan sudah termasuk pengantin dan juru nikah. Acara penguburan pun demikian terbatas pelayat. Memantau pelaksanaan aturan di lapangan oleh pihak kepolisian. Pelanggaran terhadap semua ketentuan di atas berakhir dengan saksi yang tidak main-main. Sebagai contoh untuk pelanggaran social distancing umumnya minimal AUD 1000 atau sekitar 10 juta rupiah, dan pelanggaran terberat adalah pelanggaran aturan karantina mandiri pasca bepergian dari luar negeri atau luar kota dikenakan hingga 110 juta rupiah. Dan ini bukan isapan jempol, hampir setiap hari polisi menyergap orang-orang yang menyergap kebanyakan kelompok anak muda ini melanggar aturan.

Melakukan test sample berkesinambungan bagi masyarakat umum. Ini bertujuan selain mendeteksi jumlah proporsi sample terhadap populasi, juga untuk melakukan tracking terhadap orang-orang yang dinyatakan terinfeksi ini. Hingga saat ini untuk wilayah NSW, sudah 3000 ribu lebih test sample dilakukan dan akan terus dilakukan.

Apa yang tidak dilakukan di sini?

Saya tidak melihat adanya penyemprotan desinfectant dari rumah ke rumah ataupun di jalanan, apalagi melibatkan orang yang beramai-ramai. Hanya supermarket besar yang melakukan penyemprotan dengan desinfektan secara berkala di tempatnya. Mereka juga dituntut menyediakan fasilitas handsanitiser bagi pengunjung, memperhatikan social distancing di tempat belanja serta memberlakukan pembatasan pembelian produk tertentu. Di sini sempat juga terjadi panic buying. Rak-rak makanan terutama tepung, pasta, telur, gula dan garam dan terutama tissue toilet (toilet paper) sempat kosong beberapa waktu yang lalu ketika isu Covid ditemukan pertama kali. Kondisi ini cepat dipulihkan kembali walaupun beberapa barang mengalami kenaikan harga, namun secara umum produk lokalnya masih dengan harga normal.

Fasilitas dan tenaga kesehatannya jauh lebih baik. Belum ada terdengar kasus tenaga sehatan terpapar Covid karena tugasnya, apalagi hingga kehilangan nyawa. Di sini orang yang merasakan gejala Covid bisa langsung menelpon ambulan yang datang dengan personal yang sesuai standar penanganan Covid. Salah seorang siswa SMP dimana anak saya bersekolah, pernah merasakan sakit dada saat berada di sekolah. Guru langsung menelpon ambulan dan diminta menceritakan gejala. Akhirnya yang datang adalah petugas khusus dengan APD standar Covid, walaupun ternyata si pasien hasil pemeriksaanya menunjukkan negative Covid.

Hampir semua tempat umum tutup. Mulai dari perpustakaan, rumah ibadah, pub, café, tempat kebugaran dan lain- lain serta pusat perniagaan yang tidak esensial. Restaurant semuanya hanya melayani take away. Hanya supermarket besar untuk kebutuhan makanan saja yang buka. itupun jam bukanya diperpendek antara jam 11 siang hingga jam 6 sore. Mereka fokus melayani delivery order khususnya untuk golongan yang rentan seperti usia di atas 65, disabilitas dan atau punya riwayat sakit. Golongan ini sangat dianjurkan untuk memenuhi kebutuhannya secara delivery service. Toko-toko baju dan peralatan rumah tangga hampir semuanya tutup dan hanya melayani pembelian online.

Pusat pendidikan seperti sekolah dan kampus terbuka sangat terbatas. Sekolah masih buka tapi dengan anjuran untuk orang tua kalau bisa merumahkan sendiri anaknya. Pertimbangannya karena beberapa ortu yang terpaksa bekerja tidak bisa meninggalkan anaknya di rumah. Jadi sekolah menjadi pengganti day care. Namun informasinya yang datang ke sekolah dalam satu kelaspun tak lebih dari 5 orang. Pun begitu juga dengan kampus. Hampir semua kampus membatalkan event pertemuan face to face baik kelas regular maupun event seperti konfrensi, seminar dan lain-lain dan digantikan berbasis online. Satu-satunya yang masih dibuka adalah perpustakaan dengan pemberlakukan ketat jumlah yang masuk dan pemberlakukan social distancing mengacu rekomendasi pemerintah.

Informasi tentang Covid disediakan secara resmi oleh otoritas terkait dan terbuka untuk masyarakat umum, dan tidak mengandalkan berita di media massa. Seperti halnya angka-angka yang saya sebut di atas bisa diakses di website resmi pemerintah. Meskipun Covid penyakit mematikan, namun tidak ada yang terkesan menutup-nutupi tentang penyakit ini. Memang bukan identitas pasien, atau foto diri tapi dimana tinggal dan tracking kegiatan yang mengunjungi kerumunan orang adalah prosedur yang wajib diumumkan. Apalagi seorang pejabat publik, sudah biasa mencantumkan nama dan secara tidak langsung adalah identitas, Kita tidak bicara lagi tentang ke

Respon Masyarakat Australia terhadap Pemerintah

Saya harus jujur, ini negara kaya. Hampir semua pekerja yang dirumahkan diberikan kompensasi. Pemilik usaha diberikan kompensasi untuk penutupan usahanya dan beberapa tagihan rumah tangga semacam listrik, sewa rumah, air di negara tertentu ditiadakan. Khusus di NSW, tagihan rutin tetap berjalan. Kebijakan terkait dengan hal-hal terakhir ini termasuk denda berada di tangan pemerintah negara bagian. Namun scara umum menerima kompensasi yang memadai.

Hanya pemegang temporary visa saja yang barangkali masih terpaksa bekerja. Namun merumahkan sebagian besar pekerja tentu sangat signifikan 6 menahan laju penyebaran Covid ini. Jika sebelumnya, PM Australia Scott Morrison (ScoMo) mendapat hujatan di sana sini terkait penanganan bencana bushfire (kebakaran hutan), maka kali ini ScoMo banyak mendapat apresiasi. Saat bushfire masif yang meninggalkan kerugian moril dan material dan mengundang keprihatinan dunia, ScoMo sangat terpojok baik dari kalangan pemerintahannya sendiri maupun oleh masyarakatnya. Saat itu ScoMo dianggap tidak serius dan tidak pula sensitive terhadap korban bushfire. Kunjungan ke daerah dinilai terlambat, bahkan kunjungan di salah satu lokasi berakhir dengan makian dan pengusiran.

Kali ini banyak yang memuji perdana menterinya ini. ScoMo pun sangat bangga dengan dukungan publik terhadap kebijakannya hari ini. Dalam komentar media sosialnya, saya tidak melihat satupun yang mendang negative. Hampir semuanya mengelu-elukan kepemimpinan ScoMo. Tindakan ScoMo dinilai sangat tepat untuk menyelamatkan masyarakat Australia. Covid telah mengubah wajah Australia, terutama Sydney ibukota NSW ini. Dan sepertinya moment Covid adalah era pemulihan nama buruk ScoMo pada saat menangani bushfire.

Sydney sekarang sudah seperti ghost city, kota hantu. Tidak ada lagi yang keluar hanya untuk kebutuhan tidak penting. Walaupun bis dan train masih beroperasi, tapi sudah banyak sekali kehilangan penumpangnya. Orang yang belanja seharihari pun berjalan sendirian. Bahkan bicara dan senyumpun sungkan entah karena ditutup masker, atau juga mungkin kuatir menyemburkan droplet (air liur). Opera House sebagai ikon Australia kosong, pun pantai, mall-mall lengang pengunjung. Pantai yang semula ramai dan dibolehkan, maklum sekarang Australia masih musim panas saat yang tepat sebearnya menikmati pantai, tiba-tiba ditutup begitu melihat banyaknya yang melanggar aturan social distancing.

Lockdown di Australia mulai menujukkan hal yang mengarah ke positif, terjadi perlambatan pertumbuhan kasus berdasarkan laporan. Saya tidak memilih bahasa yang tegas terhadap tren ini karena sifat virus ini ibarat hantu, tak berwujud tapi tetap gentayangan. Keberhasilan itu karena sebagian besar masyarakatnya mau  tinggal di rumah dengan pemberian kompensasi. Namun dibalik itu semua saya menilai, bukan hanya kompensasi saja yang memainkan peranan, tapi penegakan aturan juga menjadi hal yang tsk terpisahkan. Kesadaran dan ketaatan masyarakatnya juga menjadi factor pendukung. Bukankah menahan si bule untuk tidak berjemur di pantai tak kalah beratnya dengan menahan si miskin untuk tidak keluar mencari makan?

* Dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, kandidat Doktor Ilmu Politik di Western Sydney University - Australia



Artikel Rekomendasi