Candi Solok Sipin, Situs Masa Lalu di Tengah Kota Jambi yang Terabaikan



Kamis, 21 November 2019 - 09:31:07 WIB



JAMBERITA.COM- Berada di Lorong kecil di Jalan Slamet Riyadi Broni, Candi Solok Sopin memang tidak sepopuler Candi di Muaro Jambi. Puluhan tahun menetap di Kota Jambi, Saya baru menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di situs ini pada Selasa (19/11/2019) lalu.

Karena saat itu, saya menemani teman-teman Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dari beberapa kota yang ingin menulis  soal situs masa lalu di Jambi. Salah satunya Anggota Jogyakarta Shinta Maharani yang tertarik membuat tulisan dari situs ini. Ikut dalam rombongan Ketua AJI Jambi Ramon dan juga Wenri Wanhar penulis buku sejarah berjudul Sri Buddha: Bukan Sriwijaya dan Bangsa Pelaut: Kisah Setua Waktu, serta beberapa Anggota AJI Jambi.

Saat tiba di lokasi, hanya ada tulisan kecil yang menjadi penanda jika di kawasan ini ada Candi Solok Sipin. Lokasinya sekitar 500 meter dari jalan besar. Jalanan kecil yang tak bisa dilalui kendaraan roda empat berada di tanah yang berbukit.

Tepat di ujung jalan tertulis Cagar Budaya Candi Solok Sipin.  Lahan dengan luas 12,5 meter kali 18 meter dikelilingi oleh pagar. Lokasinya berada di tanah yang paling tinggi dibandingkan tanah sekitarnya.

Didalamnya terlihat tumpukan bata merah. Jika membandingkannya dengan ukuran bata di Candi Muaro Jambi ada sedikit perbedaan. Bata disini lebih lebih besar. Sekitar satu hasta.

Dalam catatan yang ditampilkan dalam papan bacaan di situs ini disebutkan jika situ sini berasal dari periode klasik Hindu-Budha. Didalam situs ini hanya menyisakan pondasi bata. Struktur candi di dalam lahan berukuran 12,5 meter kali 18 meter.

Pada tahun 1954 situs ini pernah disurvei  oleh Tim Dinas Purbakala dan pada tahun 1983 dilakukan penelitian dengan melakukan  ekskavasi oleh pusat penelitian arkeologi nasional dan berhasil menampakkan sisa bangunan bata.

Namun karena letaknya di tengah pemukiman penduduk, tim tidak berhasil menampakkan  denah seluruhnya. Sebagian pondasi telah rusak/hilang. Di situs candi solok sipin juga ditemuka Arca Budha, makara dan stupa.

Arca buda disimpan di Museum nasional Jakarta, terbuat dari batu pasiran setinggi 1,72 meter digambarkan dalam posisi berdiri, kedua kaki sejajar dan telapak kaki berhimpit.

Dilihat dari penggambaran  arca budha tersebut  arca budha tersebut  berasal dari abd ke 7 Masehi.

Sedangkan makara yang ditemukan  di Solok Sipin  mempunyai penanggalan 986 saka atau 1064, sednagkan tulisan menggunakan bahasa dan aksara jawa kuno yang berbunyi Mpu  Dharmawira. Prasasti angka tahun ditmeuka  pad atahun 1902 dan pertama kali dibaca dan diterbitkan brandes. Hiasannya berupa dua raksasa yang masing masing memgang  lingkaran tali  di hadapan bahu kanannya dan satu raksasa membuatkan lingkaran tali di hadapan bahu kanannya da satu raksasa membuatkan lingkaran tali jatuh di bagian pinggang  sebelah kiri.

Kedua raksasa tersebut digambarkan memakai  kain cawat, subang telinga, gelang tangan dan gelang kaki. Hiasannya yang dipahatkan  pada makara menunjukkan suatu  gaya seni yang tinggi yang dapat disejajarkan  dengan gaya seni terbaik di jawa yang berkembang pada masa abad ke 8 masehi. Ukuran makara cukup besar yaitu panjang 121 cm tinggi 121 cm dan lebar 71 meter menunjukkan  berasal dari bangunan besar. Makara dengan prasasti angka tahun di simpan di Museum Naisonal Jakarta.

Wenri Wanhar, penulis buku sejarah berjudul Sri Buddha: Bukan Sriwijaya dan Bangsa Pelaut: Kisah Setua Waktu mengatakan jika ada arca dan makara dengan tinggi di atas satu meter maka maka ini menandakan ada bangunan besar di kawasan ini di masa lalu. “Makanya sangat disayangkan jika ini tidak digali lebih dalam karena akan menguak kejayaan masa lalu kita,” katanya.

Karena keberadaan makara berarti ada gerbang. Jika makaranya besar, maka bangunannya juga besar. “Saya kira pemerintah harus memberikan perhatian. Apalagi ini berada di tengah Kota Jambi,” katanya.

Sementara itu, salah satu warga yang kami temui di lokasi mengatakan dirinya tinggal di kawasan sekitar 9 tahun dan tidak banyak perubahan dari situs ini. Dulu ada tiga rumah di atas situs ini. Tapi sudah diganti rugi. Pembongkaran rumah dilakukan du tahun lalu. Baru dilakukan pemagaran.

Adapun sampah dan sisa pondasi di atas adalah sisa tiga rumah yang sebelumnya sudah dibongkar.

Apakah ramai yang datang kesini? Ia mengaku ada dari kalangan siswa dan pelajar. “Soalnya tidak ada yang bisa dilihat hanya bata merah itu saja,” katanya.(sm)



Artikel Rekomendasi