JAMBERITA.COM- Berada di Lorong kecil di Jalan Slamet Riyadi Broni, Candi Solok Sopin memang tidak sepopuler Candi di Muaro Jambi. Puluhan tahun menetap di Kota Jambi, Saya baru menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di situs ini pada Selasa (19/11/2019) lalu.
Karena saat itu, saya menemani teman-teman Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dari beberapa kota yang ingin menulis soal situs masa lalu di Jambi. Salah satunya Anggota Jogyakarta Shinta Maharani yang tertarik membuat tulisan dari situs ini. Ikut dalam rombongan Ketua AJI Jambi Ramon dan juga Wenri Wanhar penulis buku sejarah berjudul Sri Buddha: Bukan Sriwijaya dan Bangsa Pelaut: Kisah Setua Waktu, serta beberapa Anggota AJI Jambi.
Saat tiba di lokasi, hanya ada tulisan kecil yang menjadi penanda jika di kawasan ini ada Candi Solok Sipin. Lokasinya sekitar 500 meter dari jalan besar. Jalanan kecil yang tak bisa dilalui kendaraan roda empat berada di tanah yang berbukit.

Tepat di ujung jalan tertulis Cagar Budaya Candi Solok Sipin. Lahan dengan luas 12,5 meter kali 18 meter dikelilingi oleh pagar. Lokasinya berada di tanah yang paling tinggi dibandingkan tanah sekitarnya.
Didalamnya terlihat tumpukan bata merah. Jika membandingkannya dengan ukuran bata di Candi Muaro Jambi ada sedikit perbedaan. Bata disini lebih lebih besar. Sekitar satu hasta.
Dalam catatan yang ditampilkan dalam papan bacaan di situs ini disebutkan jika situ sini berasal dari periode klasik Hindu-Budha. Didalam situs ini hanya menyisakan pondasi bata. Struktur candi di dalam lahan berukuran 12,5 meter kali 18 meter.
Pada tahun 1954 situs ini pernah disurvei oleh Tim Dinas Purbakala dan pada tahun 1983 dilakukan penelitian dengan melakukan ekskavasi oleh pusat penelitian arkeologi nasional dan berhasil menampakkan sisa bangunan bata.
Namun karena letaknya di tengah pemukiman penduduk, tim tidak berhasil menampakkan denah seluruhnya. Sebagian pondasi telah rusak/hilang. Di situs candi solok sipin juga ditemuka Arca Budha, makara dan stupa.

Arca buda disimpan di Museum nasional Jakarta, terbuat dari batu pasiran setinggi 1,72 meter digambarkan dalam posisi berdiri, kedua kaki sejajar dan telapak kaki berhimpit.
Dilihat dari penggambaran arca budha tersebut arca budha tersebut berasal dari abd ke 7 Masehi.
Sedangkan makara yang ditemukan di Solok Sipin mempunyai penanggalan 986 saka atau 1064, sednagkan tulisan menggunakan bahasa dan aksara jawa kuno yang berbunyi Mpu Dharmawira. Prasasti angka tahun ditmeuka pad atahun 1902 dan pertama kali dibaca dan diterbitkan brandes. Hiasannya berupa dua raksasa yang masing masing memgang lingkaran tali di hadapan bahu kanannya dan satu raksasa membuatkan lingkaran tali di hadapan bahu kanannya da satu raksasa membuatkan lingkaran tali jatuh di bagian pinggang sebelah kiri.
Kedua raksasa tersebut digambarkan memakai kain cawat, subang telinga, gelang tangan dan gelang kaki. Hiasannya yang dipahatkan pada makara menunjukkan suatu gaya seni yang tinggi yang dapat disejajarkan dengan gaya seni terbaik di jawa yang berkembang pada masa abad ke 8 masehi. Ukuran makara cukup besar yaitu panjang 121 cm tinggi 121 cm dan lebar 71 meter menunjukkan berasal dari bangunan besar. Makara dengan prasasti angka tahun di simpan di Museum Naisonal Jakarta.

Wenri Wanhar, penulis buku sejarah berjudul Sri Buddha: Bukan Sriwijaya dan Bangsa Pelaut: Kisah Setua Waktu mengatakan jika ada arca dan makara dengan tinggi di atas satu meter maka maka ini menandakan ada bangunan besar di kawasan ini di masa lalu. “Makanya sangat disayangkan jika ini tidak digali lebih dalam karena akan menguak kejayaan masa lalu kita,” katanya.
Karena keberadaan makara berarti ada gerbang. Jika makaranya besar, maka bangunannya juga besar. “Saya kira pemerintah harus memberikan perhatian. Apalagi ini berada di tengah Kota Jambi,” katanya.
Sementara itu, salah satu warga yang kami temui di lokasi mengatakan dirinya tinggal di kawasan sekitar 9 tahun dan tidak banyak perubahan dari situs ini. Dulu ada tiga rumah di atas situs ini. Tapi sudah diganti rugi. Pembongkaran rumah dilakukan du tahun lalu. Baru dilakukan pemagaran.

Adapun sampah dan sisa pondasi di atas adalah sisa tiga rumah yang sebelumnya sudah dibongkar.
Apakah ramai yang datang kesini? Ia mengaku ada dari kalangan siswa dan pelajar. “Soalnya tidak ada yang bisa dilihat hanya bata merah itu saja,” katanya.(sm)
BREAKING NEWS: Mobil Alphard yang Hilang di Parkiran RSUD Raden Mattaher Ditemukan
Kapolda Jambi Ikuti Rapat Kerja Perdana Kapolri Bersama Komisi III DPR RI di Senayan
Jual Tanah Milik Desa, Mantan Kades Seling Merangin Jambi Syafri Resmi Ditahan
Dua Jendral Hadir di Seminar Nasional Unbari Berikan Semangat Perubahan ke Mahasiswa
