Peringatan Hari Santri di Muaro Jambi Dimeriahkan dengan Kirab



Rabu, 24 Oktober 2018 - 23:14:13 WIB



Suasana Kirab Peringatan Hari Santri tahun 2018 di Muaro Jambi
Suasana Kirab Peringatan Hari Santri tahun 2018 di Muaro Jambi

MUARO JAMBI - Perayaan peringatan hari santri di Muaro Jambi tahun ini digelar dengan melaksanakan kirab/pawai seluruh Santri Pondok Pesantren se-Kabupaten Muaro Jambi yang dikoordinir oleh Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKKP) Kabupaten Muaro Jambi yang diketuai Agus Ya’qub Mubarok.

Menurut Agus Ya’qub Mubarok yang merupakan pimpinan Pondok Pesantren Al-Muttaqin Ibru, bahwa peringatan hari santri ini akan menjadi sebuah rutinitas yang setiap tahun dilakukan oleh seluruh pondok pesantren di lingkungan Kabupaten Muaro Jambi. “Insya Allah ke depan akan kita adakan secara bergilir di setiap kecamatan, agar semua lapisan masyarakat dapat ikut berpartisipasi dan mengikuti rangkaian acara,” ungkap Agus.

Berdasarkan keputusan Presiden RI nomor 22 tahun 2015, 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional untuk memperingati peran besar para kiai dan santri dalam perjuangan melawan penjajah. 22 Oktober juga bertepatan dengan disuarakannya resolusi jihad mbah KH. Hasyim Asyhari.

Sejarah mencatat, para santri bersama pejuang bangsa lainnya memiliki peran besar dalam merebut kembali kedaulatan Negara dari tangan penjajah. Sepertinya, tanpa resolusi jihad NU dan pidato hadlratus Syeikh yang menggetarkan, tidak akan pernah ada peristiwa 10 November di Surabaya yang kelak diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Kiprah santri sudah teruji dalam mengokohkan pilar-pilar NKRI berdasarkan Pancasila yang bersendikan Bhineka Tunggal Ika. Santri berdiri di garda terdepan membentengi NKRI dari ancaman.

Pada tahun 1936, sebelum Indonesia merdeka, kaum santri menyatakan nusantara sebagai Darus Salam. Pernyataan ini adalah legitimasi fikih berdirinya NKRI berdasarkan pancasila. Kaum santri jugalah yang mempelopori penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa bernegara dan menyatakan bahwa NKRI sudah final sebagai konsesnsus nasional (mu’ahadah wathaniyyah).

Selepas reformasi, kaum santri menjadi bandul kekuatan moderat sehingga perubahan konstitusi tidak melenceng dari khittah 1945. Bahwa NKRI adalah Negara Bangsa bukan Negara Agama, bukan Negara Suku yang mengakui seluruh warga Negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, tanpa diskriminasi berdasarkan suku, ras, agama, dan golongan.

Kenyataan ini perlu diungkapkan untuk menginsyafkan semua pihak, termasuk kaum santri sendiri, tentang saham mereka yang besar dalam berdiri dan tegaknya NKRI. Tanpa kiprah kaum santri, dengan sikap-sikap sosialnya yang moderat (tawassuth), toleran (tasamuh), proposional (tawazun), lurus (i’tidal) dan wajar (istihad), NKRI belum tentu eksis sampai sekarang ini.

Raut penuh syukur dan kebanggaan terlukis di wajah santriwan dan santriwati seluruh pondok pesantren di kabupaten Muaro Jambi, tidak terkecuali dengan santri Ponpes Al-Muttaqin Ibru Muaro Jambi yang juga ikut berpartisipasi dalam acara yang diadakan di Gedung Serba Guna, komplek perkantoran Bupati Muaro Jambi.

Ponpes Al-Muttaqin mengirimkan delegasi 300-an di acara yang diikuti sekitar 3500-an santri ini. Turut hadir Al Mukarom KH. M. Thobroni Asy’ari yang memimpin langsung istighosah, tahlil dan doa.

Acara juga dimeriahkan dengan parade mobil hias dan hadroh Ponpes Al- Muttaqin Ibru. Semoga di masa mendatang, acara ini dapat dilaksanakan dengan lebih terorganisir dan dapat dihadiri oleh semakin banyak lapisan masyrakat. Semoga kegiatan ini menjadi momentum gerakan paham kebangsaan yang bersintesis dengan keagamaan, yang dapat menanamkan karakter resolusi jihad untuk menjaga akidah Ahlussunah Waljamaah untuk NKRI tercinta.(*)

 

Dilaporkan Oleh M. Anggoro Kasih, SP



Artikel Rekomendasi