Jambi Terkepung Asap Pekat, Gubernur Al Haris : Kita Hanya Bisa Mohon kepada Allah!



Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:03:21 WIB



Foto : Gubernur Jambi Al Haris.
Foto : Gubernur Jambi Al Haris.

JAMBERITA.COM - Kabut asap pekat kian mengepung Provinsi Jambi akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Gubernur Jambi, Al Haris, memantau langsung pergerakan titik api dan arah angin melalui layar monitor aplikasi SiPongi di Posko Udara Satgas Karhutla Provinsi Jambi, Jumat (9/10/2026). Dari hasil pantauan tersebut, Al Haris mengungkapkan kondisi terkini yang memprihatinkan serta kendala berat yang dihadapi tim di lapangan.

Berdasarkan data SiPongi, titik api tersebar di beberapa wilayah seperti Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, dan Tebo. Namun, penyebab utama pekatnya kabut asap yang menyelimuti wilayah ini adalah pergerakan arah angin yang mengunci dan mengarah seluruh asap menuju Jambi.

"Hal yang tidak bisa dimungkiri adalah arah angin yang semuanya terkunci dan menuju ke Jambi," tegas Al Haris saat memaparkan kondisi terkini bersama Kalak BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah.

Gubernur menegaskan bahwa tim pemadam darat telah bekerja maksimal dengan membuat sekat kanal dan melakukan penyiraman. Namun, ia mengakui adanya perbedaan besar antara memadamkan kobaran api dan mengatasi kabut asap yang sudah terbawa angin.

"Semua tim bekerja. Kalau ada api yang membakar, Insyaallah tim berusaha untuk memadamkannya. Tapi kalau sudah berupa kabut asap, tim tidak bisa apa-apa, kecuali Allah yang bisa menghentikannya. Kita hanya bisa memohon kepada Allah agar arah angin tidak ke Jambi atau agar hujan segera turun," ungkap Al Haris.

Selain faktor angin, upaya penanganan lewat jalur udara juga mengalami jalan buntu. Operasi penyiraman air (Water Bombing) terpaksa dihentikan akibat jarak pandang (visibility) yang sangat buruk dan membahayakan penerbangan.

"Kendala kita yang pertama, kita tidak bisa melakukan langkah-langkah Water Bombing karena sampai hari ini jarak pandang kita masih di angka 1.000 meter. Padahal, standar penerbangan itu harus di atas 1.800 meter," jelasnya.

Satu-satunya harapan lain adalah pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan. Namun, tim udara masih bersiaga menunggu kondisi awan dan jarak pandang membaik. Jika kondisi pada malam hari mendukung, operasi TMC akan segera diterbangkan.*





Artikel Rekomendasi