JAMBERITA.COM - Di tengah persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang kembali menyelimuti Provinsi Jambi, sebuah kenangan lama kembali diangkat Ratu Munawaroh. Tokoh perempuan Jambi yang merupakan istri mantan Gubernur Jambi, Zulkifli Nurdin, itu membagikan sejumlah foto kegiatan 19 tahun silam melalui akun Instagram pribadinya, Jumat (9/10/2026).
Foto-foto tersebut bukan sekadar dokumentasi masa lalu. Di baliknya, tersimpan pesan tentang perjuangan perempuan dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan, persoalan yang hingga kini masih relevan bagi masyarakat Jambi.
Dalam keterangannya, Ratu mengenang kegiatan pelatihan peningkatan peran serta perempuan dalam upaya pelestarian dan perlindungan hutan yang berlangsung pada 17–18 Desember 2007. “Keinginan kami untuk tidak berdiam diri, agar Hutan Jambi tetap Lestari,” tulis Ratu dalam unggahannya.
Hampir dua dekade berlalu, persoalan karhutla masih menjadi tantangan yang dihadapi Jambi. Bagi Ratu, kebakaran hutan dan lahan bukan persoalan baru yang seharusnya tidak terus terulang, apalagi tanpa penyelesaian yang lebih baik.
Ia menilai, pengalaman panjang menghadapi karhutla semestinya membuat semua pihak semakin memahami cara penanganannya, terlebih dengan dukungan kemajuan teknologi saat ini.
Namun, menurutnya, teknologi saja tidak cukup. Penegakan hukum harus menjadi panglima dalam upaya melindungi hutan dan lingkungan. “Supremasi hukum adalah panglimanya,” tulisnya.
Dalam refleksinya, Ratu juga menyoroti posisi perempuan ketika bencana lingkungan terjadi. Saat ribuan warga terdampak dan masyarakat harus menghirup udara bercampur asap serta serpihan debu, perempuan kerap berada dalam posisi sebagai korban sekaligus pihak yang suaranya belum cukup terwakili dalam pengambilan keputusan.
Padahal, menurut Ratu, perempuan memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian alam, lingkungan, dan hutan.
"Peran itu dimulai dari rumah. Sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anak, perempuan dapat menanamkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan dan mencintai alam sejak dini," ujarnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan juga terlibat dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam. Pengetahuan dan keterampilan mereka bahkan dapat dikembangkan untuk mengolah hasil hutan bukan kayu menjadi produk bernilai ekonomi tanpa harus menebang pohon.
Bagi Ratu, keterlibatan perempuan dalam pelestarian hutan tidak seharusnya berhenti pada kegiatan sosialisasi atau pelatihan. Perempuan juga perlu memperoleh ruang yang lebih besar dalam menentukan arah kebijakan lingkungan.
Kenangan kegiatan pada Desember 2007 itu sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian hutan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk perempuan yang selama ini memiliki kedekatan dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Ratu menyatakan dukungannya agar semakin banyak perempuan duduk di posisi pengambil keputusan dalam kebijakan yang berkaitan dengan lingkungan dan kehutanan.
Menurutnya, menjaga hutan bukan hanya soal mencegah pohon ditebang atau lahan dibakar. Lebih dari itu, diperlukan komitmen dan ketegasan dalam melindungi hutan, tanpa membiarkan kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan lingkungan dan masyarakat.
Ia juga menyinggung penelitian yang dikaitkannya dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengenai keterlibatan perempuan dalam pengelolaan hutan dan keberhasilan penghijauan.
Pesan tersebut menegaskan bahwa perempuan tidak semestinya hanya dilibatkan setelah bencana terjadi. Mereka perlu hadir sejak perencanaan, pengawasan, hingga pengambilan keputusan yang menentukan masa depan hutan.
Hampir 19 tahun setelah pelatihan itu berlangsung, pesan Ratu Munawaroh kembali menemukan relevansinya. Di tengah persoalan karhutla dan kabut asap yang berulang di Jambi, perlindungan hutan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aparat penegak hukum, melainkan juga membutuhkan partisipasi masyarakat secara luas.
Kenangan lama itu pun membawa satu pesan sederhana: menjaga hutan tidak bisa dilakukan dengan berdiam diri. Dan dalam perjuangan tersebut, perempuan harus menjadi bagian dari pengambil keputusan, bukan sekadar penonton sekaligus korban.(afm)
Resmi Dilantik, M Ali Zaini Gantikan Agus Herianto Sebagai Inspektur Daerah Provinsi Jambi
19 Tahun Berlalu: Ratu Munawaroh Kembali Suarakan Perempuan & Kelestarian Hutan di Tengah Kabut Asap
Jilid II : Mahasiswa Kembali Datangi DPRD Jambi Bawa Tuntutan & Pertanyakan Rp30 M untuk Karhutla
Lantik 13 Pejabat, Al Haris Ingatkan Soal Karhutla dan Minta Kritik Publik tak Diabaikan
Siaga di Tengah Kepungan Asap : RSUD Raden Mattaher Terjunkan Nakes & Ambulance ke Posko Karhutla
Resmi Dilantik, M Ali Zaini Gantikan Agus Herianto Sebagai Inspektur Daerah Provinsi Jambi
