Gubernur Al Haris di Rakor Penanganan Karhutla Jambi : Udara Kita Sudah Mulai Tidak Sehat



Senin, 31 Agustus 2026 - 22:57:31 WIB



Foto : Gubernur Jambi Al Haris.
Foto : Gubernur Jambi Al Haris.

JAMBERITA.COM - Gubernur Jambi Al Haris menegaskan pentingnya sinergi dan langkah cepat seluruh unsur dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Provinsi Jambi. Terlebih, penetapan status siaga bencana terkait el nino telah ditetapkan sejak Mei 2026 lalu.

Menurut Al Haris Kondisi tersebut semakin membutuhkan kewaspadaan karena musim kemarau tahun ini berlangsung cukup ekstrem sebagaimana yang sebelumnya diprediksi oleh BMKG. “Sejak Mei 2026 kita sudah menetapkan Jambi sebagai siaga bencana. Apa yang diprediksi BMKG terkait El Nino ternyata benar, kemarau kita luar biasa dan dampaknya juga luar biasa,” ujarnya saat memimpin rakor penanganan Karhutla, di Rumdis Gubernur, Senin (31/08/2026) 

Dikatakan Al Haris, dampak karhutla tidak hanya menyangkut kerusakan lingkungan, tetapi juga telah mulai memengaruhi kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Di sejumlah wilayah, kondisi udara bahkan telah berada pada kategori tidak sehat pada waktu-waktu tertentu sehingga perlu menjadi perhatian bersama, termasuk terhadap aktivitas pendidikan.

“Udara kita sudah mulai tidak sehat. Sebagian daerah sudah ada yang meliburkan sekolah, sebagian belum karena kondisi udara memang tidak merata. Pagi bisa sehat, tetapi sore menjadi tidak sehat. Ini tentu harus kita khawatirkan karena dapat mengganggu kesehatan masyarakat,” jelasnya.

Al Haris mengatakan, Pemprov Jambi bersama TNI dan Polri telah memperkuat penanganan karhutla dengan membentuk 81 pos yang didukung sekitar 5.100 personel dari berbagai unsur. Kekuatan tersebut melibatkan pemerintah, TNI, Polri, Manggala Agni, perusahaan, masyarakat peduli api (MPA), serta unsur lainnya.

Namun demikian, Al Haris mengingatkan bahwa karakteristik lahan gambut membuat penanganan karhutla membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Api yang terlihat padam belum tentu benar-benar telah hilang karena bara dapat kembali muncul setelah tim meninggalkan lokasi.

“Karakter gambut ini tidak bisa kita anggap sederhana. Ketika sudah dilakukan pendinginan, jangan langsung meninggalkan lokasi sebelum dipastikan semuanya benar benar padam dan clear,” tegasnya.

Ia mencontohkan kejadian di lapangan ketika tim baru meninggalkan lokasi dalam waktu sekitar 20 menit, namun kembali mendapatkan laporan bahwa titik api muncul di lokasi yang sama. Kondisi tersebut, kata Gubernur Al Haris, menunjukkan pentingnya memastikan proses pemadaman dan pendinginan dilakukan secara tuntas.

“Tim tidak bisa meninggalkan lokasi sampai memastikan sudah semua padam. Kalau belum, tolong jangan sampai kita pergi dari sana sebelum benar-benar dipastikan padam,” tuturnya.

Al Haris juga meminta para bupati dan wali kota tidak ragu mengambil langkah di lapangan. Menurutnya, Instruksi Presiden No 3 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Karhutla telah memberikan dasar yang jelas mengenai tanggungjawab penanganan karhutla.

“Bupati dan wali kota tidak usah ragu-ragu bertindak di lapangan. Kalau diperlukan penguatan komando, bisa diserahkan kepada unsur TNI, seperti Dandim, sehingga komando di lapangan tetap berjalan dengan baik,” ucapnya.

Selain kesiapan personel, Gubernur Al Haris menekankan pentingnya dukungan anggaran. Pemda diminta memastikan tersedianya pendanaan untuk penanggulangan karhutla. Apabila terdapat kab/kota yang mengalami keterbatasan anggaran, ia meminta segera berkoordinasi dengan Pemprov Jambi.

“Kalau tidak ada dana di kabupaten/kota, laporkan kepada kami. Kita akan bantu dan support agar penanganan di daerah tetap berjalan,” pungkasnya.





Artikel Rekomendasi