Rupiah Capai Rp18.023, Pemerintah disarankan Jaga Kepercayaan Pasar & Perkuat Mesin Penghasil Devisa



Kamis, 04 Juni 2026 - 20:18:18 WIB



JAMBERITA.COM - Pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp18.023 per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6/2026) menjadi sinyal penting bagi perekonomian nasional. Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi, menilai kondisi tersebut tidak semata-mata dipicu oleh gejolak global, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat sektor-sektor penghasil devisa dan memperkokoh fundamental ekonomi Indonesia.

Menurut Noviardi, tekanan terhadap rupiah saat ini merupakan hasil pertemuan berbagai faktor eksternal dan domestik yang bekerja secara bersamaan. Dari sisi global, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah meningkatkan ketidakpastian pasar dunia. Kondisi tersebut mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap aman, terutama dolar AS.

"Dalam teori flight to quality, ketika ketidakpastian global meningkat, investor cenderung meninggalkan aset berisiko di negara berkembang dan memilih instrumen yang lebih aman. Akibatnya, terjadi arus keluar modal yang memberikan tekanan langsung terhadap nilai tukar rupiah," ujar Noviardi, 4 Juni 2026.

Selain faktor geopolitik, kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang masih bertahan pada level tinggi juga membuat dolar AS semakin kuat. Kondisi ini meningkatkan daya tarik aset keuangan Amerika dan mengurangi minat investor terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah turut memperbesar kebutuhan dolar AS untuk transaksi impor energi. Dalam perspektif neraca pembayaran, kondisi ini menyebabkan permintaan valas meningkat sementara pasokan dolar di dalam negeri tidak bertambah secara signifikan.

"Ketika surplus perdagangan mulai menyusut dan kebutuhan dolar meningkat, maka tekanan terhadap rupiah menjadi semakin besar. Ini merupakan mekanisme ekonomi yang sangat klasik dalam sistem nilai tukar terbuka," jelasnya.

Faktor domestik juga dinilai berkontribusi terhadap pelemahan rupiah. Kenaikan inflasi Mei 2026 dibanding bulan sebelumnya, kebutuhan valas untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri, serta munculnya berbagai sentimen negatif di pasar keuangan membuat tekanan terhadap mata uang nasional semakin kuat.

Menurut Noviardi, pasar saat ini bergerak bukan hanya berdasarkan data ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh persepsi dan tingkat kepercayaan investor terhadap arah kebijakan pemerintah.

"Teori ekspektasi menjelaskan bahwa sentimen sering kali bergerak lebih cepat daripada fundamental ekonomi. Ketika muncul keraguan terhadap kepastian regulasi, tata kelola fiskal, atau beredarnya rumor yang tidak terkendali, pasar akan bereaksi lebih agresif," katanya.

Meski demikian, Noviardi menilai kondisi saat ini masih dapat dikelola dengan baik. Langkah Bank Indonesia melakukan intervensi melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dinilai tepat untuk menjaga stabilitas jangka pendek.

Namun, ia menegaskan bahwa penguatan rupiah dalam jangka panjang tidak cukup hanya mengandalkan intervensi moneter. Indonesia harus memperkuat sumber-sumber devisa yang berkelanjutan melalui peningkatan ekspor bernilai tambah, percepatan hilirisasi industri, penguatan sektor pariwisata, serta menarik investasi yang mampu menghasilkan devisa.

"Intervensi Bank Indonesia penting untuk meredam gejolak pasar. Tetapi pelemahan rupiah saat ini harus dibaca sebagai alarm agar Indonesia memperkuat mesin penghasil devisa. Semakin kuat struktur ekonomi dan semakin besar kemampuan menghasilkan devisa, semakin tangguh pula rupiah menghadapi tekanan global," tegas Noviardi.

Ia optimistis stabilitas rupiah dapat kembali terjaga apabila pemerintah dan otoritas moneter mampu menjaga konsistensi kebijakan, memperkuat kepercayaan pasar, serta mempercepat transformasi ekonomi yang berorientasi pada peningkatan daya saing dan ketahanan eksternal nasional. Dengan demikian, pelemahan rupiah saat ini dapat menjadi momentum perbaikan menuju fondasi ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.(*)



Artikel Rekomendasi