Bima Arya di UNJA: Pemimpin Sejati Tak Boleh Menghindar dari Persoalan



Rabu, 15 April 2026 - 13:08:00 WIB



Foto : Wamendagri.
Foto : Wamendagri.

JAMBERITA.COM - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, memberikan motivasi mendalam kepada ratusan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Jambi (UNJA) dalam acara bedah buku "Babad Alas", Rabu (15/4/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Bima menekankan pentingnya keberanian bagi seorang pemimpin untuk menghadapi perbedaan dan persoalan tanpa menghindar. Acara yang dihadiri oleh Rektor UNJA, Prof Helmi, Gubernur Jambi Al Haris, serta jajaran kepala daerah ini menjadi panggung bagi Bima Arya untuk membedah filosofi kepemimpinan modern.

Salah satu momen menarik terjadi saat sesi tanya jawab, ketika seorang mahasiswa melontarkan pertanyaan kritis terkait isu-isu krusial. Menjawab pertanyaan tersebut, Bima Arya memberikan perumpamaan melalui sosok Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Wijaya. Ia mengapresiasi cara Teddy dalam menghadapi awak media.

"Ada lihat itu kan? Bagaimana ketika wartawan bertanya, satu per satu dijawab oleh Teddy. Saya senang bila ada pemimpin yang seperti itu; tidak menghindar, berani menyelesaikan persoalan, dan memahami perbedaan," ungkap Bima di hadapan audiens.

Menurutnya, kemampuan untuk memberikan penjelasan yang jernih di tengah tekanan adalah ciri pemimpin yang memiliki penguasaan masalah yang kuat.

Bima Arya juga membagikan tips utama bagi para mahasiswa yang ingin terjun ke dunia kepemimpinan. Ia menegaskan bahwa karakter seorang pemimpin tidak lahir di zona nyaman, melainkan dari benturan-benturan pandangan.

"Tips utamanya adalah, biasakan terbentur dengan perbedaan, maka Anda akan menjadi pemimpin," tegasnya yang langsung disambut tepuk tangan antusias dari para mahasiswa.

Pesan ini mengandung makna bahwa mahasiswa harus berani berdialog, berdiskusi, dan menghadapi opini yang berbeda untuk mengasah kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

Kegiatan bedah buku ini bukan sekadar seremonial, melainkan menjadi ruang edukasi bagi mahasiswa Fisipol UNJA untuk memahami dinamika politik dan pemerintahan secara langsung dari praktisi. Bima berharap, lewat proses "terbentur" oleh berbagai isu dan perbedaan tersebut, mahasiswa Jambi mampu tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang inklusif dan solutif bagi daerahnya.(afm)





Artikel Rekomendasi