Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi Aidil Adha mengatakan, penurunan tingkat kemiskinan ini terjadi di perkotaan maupun di perdesaan. "Kemiskinan September 2025 wilayah perkotaan turun sebesar 0,27 persen poin dan perdesaan turun 0,31 persen poin," ujarnya.
Dibanding Maret 2025, jumlah penduduk miskin September 2025 perkotaan menurun sekitar 2,46 ribu orang (dari 120,30 ribu orang pada Maret 2025 menjadi 117,84 ribu orang pada September 2025).
Sementara itu, pada periode yang sama, jumlah penduduk miskin perdesaan juga menurun sekitar 7,23 ribu orang (dari 150,64 ribu orang pada Maret 2025 menjadi 143,41 ribu orang pada September 2025).
Pemicu menurunnya kemiskinan, lanjut Aidil, karena adanya program dan bantuan sosial yang diberikan langsung oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Seperti gelar operasi pasar murah dan intervensi pasar, Makan Bergizi Gratis (MBG), Program Jaringan Majukan Jambi (Pro-Jambi), pemeriksaan kesehatan gratis, KUR, UMI, dana desa, dan lain-lain.
"Itu mempunyai dampak yang signifikan terhadap penurunan penduduk miskin di Jambi. Kita nggak tahu kedepannya apakah program-program ini akan terus bergulir. Tapi kalau dilihat tadi program jaringan baik Pemda, Provinsi kemudian yang dari Pusat itu mempunyai dampak yang signifikan terhadap penurunan penduduk miskin di Jambi," katanya.
Untuk garis Kemiskinan pada September 2025 tercatat sebesar Rp713.849/kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp542.466 (75,99 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp171.383 (24,01 persen).
"Distribusi Garis Kemiskinan, September 2025 bukan makanan 24,01 persen, sedangkan makanan 75,99 persen. Peranan komoditas makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan
peranan komoditas bukan makanan," ujar Aidil.
"Kalau 75,99 persen ini sektor MBG dan program lain itu jalan, sudah bisa mencakup sebenarnya menutupi garis kemiskinan tadi. Sehingga yang sudah dibantu oleh pemerintah yang seharusnya dia belanja untuk yang 75,99 persen makanan itu bisa belanja yang lain bukan untuk makanan yang garis kemiskinan. Sehingga kalau kita lihat pengeluaran meningkat," pungkasnya. (tts)