Generasi Muda Pecinta Adat: Kader dari Rumpun Adat Depati Setio Jambi



Sabtu, 09 November 2024 - 17:09:58 WIB



Oleh: Randi Stiawan*

 

 

Seloko Adat Melayu Jambi merupakan tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun dan telah menjadi bagian integral dari identitas budaya masyarakat Jambi. Lebih dari sekadar rangkaian kata, Seloko adalah sebuah falsafah hidup yang mengandung petuah dan nasehat yang telah lama menjadi pedoman sosial bagi masyarakat Jambi (Halim dan Pahrudin 2020). Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai penuntun dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga sebagai cerminan nilai-nilai dan norma-norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Oleh karena itu, Seloko telah bertransformasi menjadi simbol identitas budaya yang membedakan masyarakat Jambi dari komunitas lain.

Dalam konteks tradisi lisan di Indonesia, Seloko memiliki kesamaan dengan warisan budaya dari berbagai daerah lain. Sebagai contoh, masyarakat Sunda memiliki "Babasan," yang merupakan kumpulan perumpamaan dan pepatah yang masih digunakan hingga saat ini (Hendayana 2020). Di masyarakat Angkola-Mandailing, dikenal "Poda Na Lima," yang merupakan falsafah hidup yang diwariskan untuk menjaga keseimbangan hidup jasmani dan rohani (Izuddinsyah Siregar, Ahmad Rusli 2022). Demikian pula, masyarakat Bone memiliki "Tamsil," yang berfungsi sebagai perumpamaan atau kiasan untuk memberikan nasehat (Andi Tenri Sua n.d.). Di Minangkabau, terdapat "Petatah-Petitih" yang mengandung makna serupa. Kesamaan ini menunjukkan bahwa tradisi lisan seperti Seloko adalah elemen penting dalam mempertahankan identitas budaya dan menjaga kesinambungan nilai-nilai leluhur di tengah perubahan zaman.

Seloko Adat Melayu Jambi, yang berlandaskan pada prinsip-prinsip hukum Islam, memiliki peran sentral dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Tradisi ini diterapkan dalam upacara adat, prosesi pernikahan, penegakan hukum adat, dan bahkan dalam interaksi sosial sehari-hari. Namun, seiring dengan derasnya arus modernisasi, Seloko menghadapi tantangan serius dalam hal kaderisasi. Saat ini, pelestarian Seloko cenderung hanya didominasi oleh generasi tua, sementara generasi muda menunjukkan sikap pasif dan kurang tertarik untuk melanjutkan tradisi ini. Kondisi ini, jika dibiarkan berlarut-larut, berpotensi mengakibatkan Seloko sebagai identitas budaya tergerus oleh waktu dan perkembangan zaman.

Terdapat sebuah Seloko yang berbunyi "So Buek Duo Pakai Tigo Wariskan," yang menegaskan bahwa apa yang telah dibuat oleh para pendahulu harus diteruskan oleh generasi sekarang dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Ajaran ini menggarisbawahi pentingnya kesinambungan dalam tradisi dan budaya. Tantangan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana menjembatani dan merangkul generasi muda agar mereka dapat menghargai, memahami, dan meneruskan tradisi Seloko di tengah derasnya pengaruh modernisasi.

Untuk menjawab tantangan ini, salah satu langkah strategis yang dapat diambil adalah dengan mengintegrasikan Seloko ke dalam konteks perkembangan zaman agar tetap relevan. Pendekatan ini memerlukan transformasi dalam cara Seloko diajarkan dan disosialisasikan kepada generasi muda, dengan memanfaatkan metode yang lebih modern dan sesuai dengan dinamika kehidupan mereka. Edukasi yang aktif dan inovatif dari para pelaku Seloko kepada generasi muda sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Seloko dapat diterima dan diapresiasi oleh mereka.

Sebagai langkah awal dalam upaya pelestarian mendukung program pemerintah Melalui program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan tahun 2024 yang diselegarakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V, maka diusulkan untuk mengadakan workshop Seloko Adat Melayu Jambi. Workshop ini tidak hanya bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang Seloko, tetapi juga untuk merubah stigma bahwa Seloko hanya relevan bagi generasi tua. Workshop ini akan melibatkan peserta lintas generasi, dengan tujuan menciptakan kesinambungan dalam pelestarian Seloko dan memastikan bahwa tradisi ini tetap hidup dan relevan di masa depan. Workshop ini diharapkan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan Seloko dengan generasi muda, sehingga nilai-nilai adat Melayu Jambi dapat terus diwariskan dari generasi ke generasi.(*)

 

Penulis adalah: Generasi muda pecinta adat (kader dari Rumpun Adat Depati Setio Jambi)

Salah satu penerima bantuan fasititasi bantuan kebudayaan dari balai pelestarian kebudayaan wilayah V



Artikel Rekomendasi