Oleh: Amri Ikhsan*
Ruang interaksi yang penuh makna semakin hilang di wajah wajah kelas kita, semua disibukkan oleh administrasi atau tugas tugas akademik lainnya. Dikejar kejar dengan dalih ketuntasan kurikulum. Tapi di saat yang sama menuntut anak untuk berperilaku positif dan memiliki akhlak yang baik tanpa diciptakannya ruang yang menjadi penyimbang antara rumah dan sekolah atau tempat kerja (Rizal, 2024).
Harus diakui bahwa para guru, percaya tidak percaya, sedang berada dalam kondisi formalistik administratif. Semuanya harus dilaporkan secara sempurna ke stakeholder. Semua pekerjaan yang merupakan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) guru harus disampaikan dan dilaporkan agar guru ‘kelihatan’ sudah bekerja.
Berdasarkan laporan tertulis itulah guru, maka diproklamirkanlah kinerja guru, kadang kadang tanpa mempertimbangkan apa yan sebenarnya yang terjadi pada siswa yang merupakan ‘user’ guru dalam bekerja. Seharusnya, siswalah yang seharusnya menjadi patokan dalam mengukur kinerja guru.
Banyak pakar menyarankan guru untuk memperbaiki hubungan dengan siswa. Hubungan yang harmonis akan berkontribusi dalam membelajarkan siswa, interaksi yang membahagiakan akan membuat siswa jauh termotivasi untuk belajar. Untuk membuat siswa bahagia dalam belajar, diyakini tidak bisa dilakukan dalam suasana formal didalam kelas, dimana pedoman guru dalam beraktivitas adalah untuk menjalankan kurikulum, menuntaskan kurikulum dan itulah bukti sudah bekerja. ‘Kasarnya’, guru bekerja untuk kurikulum, untuk ‘menamatkan’ kurikulum.
Padahal, tugas guru itu untuk memanusiakan manusia, membelajarkan siswa, membahagiakan siswa dan kurikulumlah alat bantunya. Guru idealnya terfokus pada pembangunan karakter siswa, menumbuhkan motivasi siswa bukan memaksakan menuntaskan kurikulum.
Harus disadari bahwa esensi pendidikan itu tidak terletak pada gedung megah serta lapangan yang luas, fasilitas yang canggih, lingkungan yang asri, tetapi pada kepedulian dan kehadiran ruang-ruang kebersamaan, ruang dialog dan interaksi yang setara bagi semua siswa. Ini ruang tegur sapa antara guru dan siswa. Ruang dimana formalitas untuk sementara disisihkan, dan diganti dengan percakapan santai penuh makna antara guru dan siswa dan antar siswa.
Ruang dimana para guru ‘memancing’ siswa untuk menceritakan ‘rahasia’ dan persoalan masing masing siswa yang tidak memungkinkan disampaikan di ruang kelas yang formal. Dalam ruang ini guru harus disengajakan dan diniatkan untuk membantu siswa dalam menghadapi persoalan kehidupan, mencari solusi terhadap problem siswa. Tujuannya adalah membuat siswa bahagia atau untuk membahagiakan siswa.
Dalam ruang ini, segala beban admistrasi guru disimpan dulu, guru harus membuang beban beban yang menghambat proses komunikasi ini. Pokoknya, tidak ada istilah ketuntasan kurikulum, tidak perlu RPP, program tahunan, program semester, tidak perlu ditulis dalam laporan kinerja, tidak perlu dicatat dalam e-kinerja. ‘Ngobrol’ biasa, guru bebas sebebasnya berdialog tapi santai dalam menghibur para siswanya sekaligus mencari solusi permasalahan siswa.
Ruang Ketiga (Third Place) dimaksud adalah ruang interaksi dan diskusi antara rumah (ruang pertama) dan sekolah (ruang kedua) di mana guru dan siswa dapat dengan secara egaliter (sama dan sederejat) saling berbagai inspirasi, pengetahuan, nilai dan pembelajaran hidup (Rizal). Biasanya ada permasalahan yang tidak bisa diungkapkan saat pertemuan formal, maka di ruang ketiga inilah permasalahan bisa disampaikan.
Guru dan siswa dalam ruang ini dapat berkomunikasi dan berinteraksi untuk mempererat hubungan sosial yang berdampak pada peningkatan ‘kebahagian’ siswa untuk belajar dan menggairahkan guru untuk mengajar. Karena pembelajaran sebenarnya tidak hanya terbatas pada kurikulum, tetapi kebutuhan akan pengetahuan yang bisa diterapkan dalam kehidupan siswa dan mendapat modal sosial untuk menyelesaikan masalah kehidupan di tengah masyarakat yang semakin kompleks. Diyakini komunikasi yang harmonis dalam ruang ini bisa meningkatkan motivasi guru dan siswa dalam pembelajaran.
Ruang ketiga ini akan menciptakan keharmonisan guru dengan siswa melalui dialog reflektif, saling menguatkan, dan berbagi informasi, bersilaturrahmi secara akademik, melakukan percakapan untuk menumbuhkan suasana belajar yang harmonis tanpa beban. Ruang ketiga membuat guru dan siswa dalam suasana gembira penuh keakraban, sekaligus mengurangi ‘niat’ siswa untuk melanggar peraturan pembelajaran secara humanis.
Kurikulum bukanlah segalanya, perlu ada ikhtiar guru untuk mewujudkan kebahagian guru dan siswa di lingkungan pembelajaran, itulah ‘ruang ketiga’. Diruang ini, siswa akan merasa disiapkan tempat aman untuk: 1) mengambil risiko dan mengeksplorasi solusi dan ide; 2) menumbuhkan kemampuan untuk adaptif dan fleksibel dalam penyelesaian masalah; 3) menumbuhkan keterlibatan siswa dan menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan mereka; 4) mengembangkan kemampuan guru untuk memahami siswanya; 5) membantu siswa membangun pengetahuan baru; 6) meningkatkan keterlibatan dan kepuasan guru dalam profesi guru; 7) membangun komunitas dan modal sosial. (Stevenson, L., & Deasy, RJ, 2005).
Ditemukan didalam kelas, siswa yang memiliki mental dan jiwa yang bahagia dan gembira secara konsisten berpengaruh terhadap motivasi dan minat dalam mengikuti pembelajaran. Center on the Developing Child (2007) menunjukkan secara khusus bahwa efek belajar yang menggembirakan dapat meningkatkan kapasitas arsitektur otak anak, yaitu pada saatnya otak tersebut akan memberikan pengaruh yang baik dalam membentuk perilaku sosial dan emosi anak yang cerdas. Ini artinya, pengalaman belajar anak, jika terjadi secara benar, dapat membentuk jalan bagi tumbuhnya motivasi belajar secara benar (Rakhmad, 2015).
Fakta diruang kelas secara empiris menunjukkan bahwa siswa generasi Z ini sudah tidak memerlukan banyak perintah untuk melaksanakan sesuatu. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu berinteraksi dengan media genre baru seperti media sosial, merasa nyaman dengan lingkungan yang terhubung dengan jaringan internet, lebih suka berkomunikasi dengan gambar images, ikon, dan symbol simbol, dan yang paling penting, mereka tidak betah berlama-lama untuk mendengarkan ceramah guru, sehingga lebih tertarik bereksplorasi daripada mendengarkan penjelasan guru. (Pujiriyanto, 2019)
Kalau ruang ini dilaksanakan dengan interaktif, diyakini akan berpengaruh akademik dalam pembelajaran siswa. Akhirnya, siswa akan tumbuh: 1) berpikir kritis, kemampuan siswa dalam mengevaluasi data dan informasi, membuat hubungan dan menarik kesimpulan secara rasional dan tidak memihak: 2) perasaan kritis, kemampuan siswa dalam mengatur dan memanfaatkan emosinya untuk pembelajaran.
Kemudian, 3) imajinasi kritis, kemampuan siswa untuk membayangkan dunia dan pengalaman yang berbeda dari dunia yang ada saat ini; 4) keterlibatan kritis, kemampuan siswa untuk mendiskusikan ide idenya dengan orang lain dan menjelaskan alasannya dan akhirnya menjadi 5) makhluk kritis, siswa yang berani mengambil keputusan secara mandiri dengan cara mengolah informasi, mampu menyampaikan dan berargumen secara logis yang bisa dipertanggung jawabkan (Ben Harley dan Mays Imad).
Dipercaya bahwa percakapan yang logis biasanya akan mempermudah nalar siswa dalam memahami pembelajaran. Wallahu a'lam bish-shawab!
*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah
Langkah Kuda Jendral Prabowo Subianto: Kabinet Dua Digit (1)
Etnobiologi:Memahami Hubungan Manusia dan Alam Melalui Penggunaan Tradisional Hewan dalam Pengobatan

KPK Soroti Celah Korupsi Hibah & Bansos di Jambi: Rawan Intervensi - Praktik Commitment Fee



