Silaturrahmi Di Hari Fitri



Kamis, 11 April 2024 - 14:57:08 WIB



Oleh: Amri Ikhsan*

 

Ada sesuatu yang paling cepat dapat mendatangkan kebaikan ataupun sebaliknya. "Sesuatu yang paling cepat dapat mendatangkan kebaikan," sabda Rasulullah saw., adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebajikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan kejahatan ialah balasan (siksaan) orang yang berbuat jahat dan memutuskan hubungan kekeluargaan" (H.R. Ibnu Majah).

Bersilaturahmi adalah bagian dari kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial. Menjaga hubungan baik dengan sesama memang sangat dianjurkan, terlebih dengan kerabat dan saudara (Kumparan). Hari Raya Idul Fitri adalah momentum paling elegan bagi Umat Islam untuk berinisiasi saling bermaaf maafan dan kembali berkomunikasi untuk bersilaturahmi yang mungkin selama ini belum berjalan mulus. 

Dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat, dan persoalan hidup yang begitu rumit, cepat dan kompleks, maka Idul Fitri hadir sebagai pintu yang memberi waktu dan membuka kesempatan kepada kita untuk memulai kembali komunikasi dengan semua pihak, dan sekaligus memperbaiki, memperdalam, dan mengembalikan hubungan dengan kerabat, kolega dan teman yang masih renggang. 

Idul Fitri menyiapkan tempat untuk berdamai, membuka hati, melupakan hal hal yang tidak ‘mengenakkan’ dimasa lalu. Hari Raya bisa dimanfaatkan untuk memaafkan, dan meminta maaf dan meluruskan kesalahpahaman, dan menyelesaikan berbagai masalah dengan penuh pengertian, kesepahaman dan kelembutan. 

Silaturrahmi sejatinya selama Idul Fitri tidak dapat diabaikan. Interaksi sosial ini harus membawa energi positif, mempererat hubungan interpersonal, dan menciptakan jaringan emosional yang kuat di tengah masyarakat. Inilah kesempatan untuk berbagi cerita, saling menyenangkan, saling berbagi, dan menyampaikan perasaan secara terbuka. Inshaallah, ini akan mampu mengurangi stres, mengurangi beban hidup, dan menciptakan hubungan yang lebih harmonis di tengah masyarakat. 

Allah telah memerintahkan untuk menyambung tali silaturhami dan menyandingkannya dengan perintah untuk bertakwa kepada-Nya. Ini menunjukkan betapa besar dan pentingnya kedudukan silaturahmi dalam Islam. Selain memenuhi perintah Allah, menyambung tali silaturahmi juga sebagai bentuk menunaikan hak kekerabatan. Sehingga, setiap muslim memiliki kewajiban untuk menyambungnya.

Dalam menyambung tali silaturahmi ini, Allah telah menjanjikan berbagai hikmah dan manfaat yang bakal dirasakan oleh pelakunya, baik saat di dunia, di alam kubur, maupun kelak di akhirat. Penyambung tali silaturahmi akan dilapangkan rezekinya, dipanjangkan usianya, terhindar dari su’ul khatimah, terhindar dari kefakiran, dan puncaknya akan dimasukkan ke dalam surga. (Thalib)

Dari Anas bin Malik RA bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda: “Barangsiapa senang apabila dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Silaturrahmi tidak hanya membatasinya dengan sekadar saling bersalaman menyentuhkan tangan, menanyakan apa khabar atau permohonan maaf. Ini adalah suatu kekuatan mental dan kemampuan yang tinggi dari hati manusia. Hal ini sesuai dengan asal kata dari "silaturahmi", yakni shilat atau washl, yang berarti "menyambungkan" dan ar-rahiim, yang berarti "kasih sayang". 

Pengertian "menyambungkan" adalah suatu proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung. "Menghimpun" biasanya mengandung makna dari sesuatu yang terpisah pisah dan berantakan, menjadi sesuatu yang bersatu dan utuh kembali. Dalam hal ini Rasulullah SAW. bersabda, "Yang disebut bersilaturahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang terputus" (H.R. Bukhari).  

Oleh karena itu, silaturrahmi bukanlah merekayasa gerak-gerik tubuh supaya nampak akrab, namun haruslah benar-benar bersungguh-sungguh mengkonstruksi hati agar kita mempunyai kekuatan untuk bisa berbuat lebih baik dan lebih terhormat daripada apa yang dilakukan orang terhadap kita.  

Pada suatu kesempatan Rasulullah SAW. memberikan taushiyah kepada para sahabatnya. "Hendaknya kalian mengharapkan kemuliaan dari Allah," demikian sabdanya. "Apakah yang dimaksud itu, ya Rasulullah?" tanya sahabat. Rasulullah kemudian bersabda lagi, "Yaitu, hendaknya kalian suka menghubungkan tali silaturahmi kepada orang yang telah memutuskan engkau, memberikan sesuatu (hadiah) kepada orang yang tidak pernah memberi sesuatu kepada engkau, dan hendaknya engkau bersabar (jangan lekas marah) kepada orang yang menganggap engkau bodoh" (H.R. Al-Hakim).  

Jadi, silaturahmi yang kita laksanakan benar-benar bukan karena mengharapkan imbalan, bukan karena berharap pujian dan penghargaan, juga bukan karena mendambakan mereka agar menyambungkan tali silaturahmi sebagaimana yang telah kita lakukan.   

Sungguh, Mahabenar Allah dengan firman-Nya, "Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu" (Q.S. An-Nisaa: 1). 

Silaturrahmi ini akan merekontruksi cara pandang positif kita terhadap orang lain. Silaturrahmi yang kemudian menjadi tradisi, misalnya halal bi halal, open house dsb merupakan dasar tradisi yang akan membuat dunia disekitar lebih kondusif, aman, sederhana yang akan membuat semua pihak merasa penting dan terhormat.

Jika kita merasa stres, depresi, tertekan dan segala perasaan yang menyiksa kita. Sadarilah bahwa masalah itu bukan untuk dirasakan, melainkan untuk diselesaikan. Dan salah satu cara untuk mencari solusi dari kesemua permasalahan itu adalah dengan bersilaturrahmi, berbicara dengan orang yang kompeten dengan topik itu.

Sebaik-baiknya kita, kita akan selalu jahat dimata orang lain, khususnya dimata orang yang tidak membutuhkan kita. Ketika kita tidak dihargai oleh orang orang disekitar kita, ingat bahwa kita bukan tidak dihargai, kita hanya memperbaiki silaturrahmi kita, kita sambung hubungan sosial kita dengan menganggap semua orang penting. Dan inilah inti dari sebuah silaturrahmi.

Kita akan dihargai bila kita menjalin silaturrahmi, kita berinisiasi untuk bertegur sapa, berbicara, bersalaman, berkomunikasi, membantu apapun bentuknya. Inisiasi inilah yang akan menguatkan hubungan silaturrahmi itu. Sejahat jahatnya manusia, tapi jika berniat baik untuk menjalin komunikasi, dipastikan hatinya akan luluh juga.

Allah pun telah berjanji bahwa jika manusia berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirinya sendiri, dan jika berbuat jahat, kejahatan itu kembali kepada dirinya sendiri (QS.Al Israa: 7). Memaafkan adalah untuk kebaikan dan akan menguntungkan kita sendiri. Memaafkan merupakan pondasinya silaturrahmi.

Silaturahmi yang akan kita laksanakan benar-benar bukan mengharapkan imbalan dari siapapun, bukan pula untuk mengharapkan pujian dan penghargaan. Silaturahmi ini dilaksanakan semata-mata agar kita disayang oleh Allah swt. dan tentunya untuk menyejukkan hati. Amin!

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah



Artikel Rekomendasi