JAMBERITA.COM - Nanda Yulfa ibu dari bayi yang diduga menjadi korban malapraktik Rumah Sakit Royal Prima, Kota Jambi tertunduk sedih.
Sambil memegang dan melihat foto sang anak, Nanda Yulfa menunjukkan ekspresi sedih.
Seperti yang diberitakan sebelumnya bayi berusia 16 bulan dan berinisial (AR) diduga menjadi korban malapraktik Rumah Sakit Royal Prima, Kota Jambi.
Tidak banyak bicara, Nanda yang ditemani sang kakak dan pengacara tersebut nampak diam ketika dicecar pertanyaan oleh awak media.
Menurut keterangan dari pengacaranya Tarmizi, mengatakan (AR) dibawa ke rumah sakit dengan keadaan tubuhnya sedang dalam kondisi panas, kemudian bayi tersebut meninggal dunia sebelum di tangani oleh dokter spesialis anak.
Pihak keluarga korban menduga bayi tersebut menjadi korban dugaan malapraktik oleh pihak rumah sakit.
Tidak terima akan hal tersebut, pihak keluarga pun melaporkan hal itu ke pihak Kepolisian Daerah (Polda) Jambi.
Lebih lanjut, kata Tarmizi beberapa bulan lalu (AR) bayi usia 16 bulan masuk ke RS Royal Prima Jambi pada pukul 23.00 WIB. Sesampainya di RS Royal Prima Jambi, (AR) masuk ke ruangan IGD. Saat di dalam IGD, dikasih dua pilihan yaitu boleh pulang atau dirawat.
"Sarannya lebih baik dirawat, karena hari sudah malam kasihan si dedeknya itu karena pulang jauh," katanya.
Kemudian sekitar pukul 05.00 WIB kondisi tubuh (AR) panas. Setelah itu orang tua (AR) meminta kepada perawat untuk melihat kondisi bayi 16 bulan tersebut.
Setelah perawat masuk ke dalam ruang rawat inap dimana bayi usia 16 bulan itu, pihak keluarga pun menanyakan kapan dokternya datang.
"Perawat ini menjawab, belum jamnya. Hingga pukul 08.00 WIB bayi itu kedinginan, menggigil dan kemudian perawat mematikan AC dan barulah di suntik," jelasnya.
Ditambahkan Tarmizi, dari cerita orang tua korban Waktu penyuntikan obat, bahwa perawatnya itu bingung. Apakah paracetamol dahulu atau antibiotik dahulu.
"Jadi diminta lah sama saudara korban, untuk paracetamol dahulu. Pada suntikan kedua, mau dikasih antibiotik itu tidak dicek dahulu. Biasanya kan kalau dikasih cek dulu, 30 menit baru disuntik kembali, ini malah tidak, langsung disuntik saja," tambahnya.
Tidak lama kemudian,bayi 16 bulan itu kejang- kejang dan terus disuntik lagi, lalu dimasukkan selang dari mulut. Namun, pemasangan selang pertama dari mulut gagal dan menyemburkan darah dari mulut. Lalu, dimasukkan kembali selang ke dua itu berhasil dan tidak lama kemudian AR meninggal dunia.
"Saat masukkan selang dari mulut itu Tidak ada izin secara tertulis. Waktu pasang selang itu perawatnya milih- milih, karena ada dua selang yang ini bukan, yang ini bukan," tandasnya. (Tna)
AJI Jambi Gelar Editor Meeting Perkuat Informasi Kelompok Marjinal di Media Massa
Dugaan Malapraktik, Salah Satu Rumah Sakit di Jambi Dilaporkan ke Polisi
Bawaslu Cek Logistik di Batanghari, Baru Surat Suara Presiden Yang Sampai
Pemprov Jambi Lakukan Studi Banding ke Daerah Istimewa Yogyakarta
Pemprov Jambi Perkuat Sinergisitas Pengamanan Nataru dengan Menggelar Rakor Unsur Forkopimda
Gubernur Jambi Minta Edukasi Literasi Harus Dilaksanakan dengan Tindakan Nyata


PUTR Jambi Kerinci Percepat Pemeliharaan Ruas Jalan Pungut Mudik-Sungai Kuning



