Oleh : Dini*
Setiap pagi kita pasti berangkat ke sekolah, hal ini merupakan kegiatan rutin yang selalu di lakukan. Sekolah adalah Lembaga Pendidikan formal yang di Kelola oleh pemerintah, dimana setiap orang berhak belajar dan menerima ilmu disana. Di dalam sekolah, akan dilakukan kegiatan belajar mengajar di bawah pengawasan seorang guru. Oleh sebab itu, sekolah harus menyediakan fasilitas yang lengkap untuk menunjang sarana dan prasarana dalam kegiatan pembelajaran.
Di Kota Jambi, ada banyak sekolah yang siap menampung para siswa. Fasilitas yang disediakan juga lengkap dan layak pakai. Bantuan berupa dana BOS juga di berikan oleh pemerintah dan berbagai pelatihan untuk guru yang mengajar. Sekolah juga menyediakan wadah bagi siswa untuk mengembangkan bakatnya dalam kegiatan ekstrakulikuler di sekolah.
Namun hal ini agaknya berbanding terbalik dengan sekolah yang ada di desa, tepatnya di desa yang terpencil. Banyak sekolah di desa terpencil yang tidak memiliki sarana dan prasarana yang lengkap. Selain itu, guru-guru yang mengajar juga banyak yang tidak mendapat kesempatan untuk pelatihan. Padahal, guru di sana banyak yang ingin mengikuti pelatihan agar sekolahnya juga bisa maju.
Apalagi di zaman sekarang yang menuntut setiap siswa untuk menguasai keterampilan abad 21 yaitu 4 C (Critical Thinking, Communication, Creative Thinking, and Collaboration). Untuk menguasi ketrampilan abad 21 jelas dibutuhkan daya dukung dari sekolah untuk siswanya agar dapat menguasainya. Para guru juga sangat berperan penting dalam membantu siswa dalam menguasai ketrampilan tersebut.
Apa sebenarnya yang menyebabkan sekolah di desa tertinggal di banding di kota ? Yang pertama, kurangnya dukungan dari pemerintah. Pemerintah cenderung lebih memperhatikan sekolah yang di kota dan terfavorit. Banyak perhatian yang diberikan pada sekolah ini dibanding yang lain dan lebih mengutamakannya. Hal ini bisa terlihat dari Gedung, sarana dan prasarana sekolah yang bagus serta kualitas siswanya yang baik. Guru yang ada di sekolah tersebut biasanya lebih mendapat support dan dukungan lebih.
Kedua, jaringan internet. Sumber pembelajaran dan media pembelajaran tidak hanya bersumber dari buku pelajaran tapi juga bisa dari modul dan jurnal-jurnal yang ada di internet. Media pembelajaran banyak terdapat di youtube dan di internet untuk pengembangannya. Di desa, biasanya jaringan internet tidak stabil atau bahkan tidak ada sama sekali. Hal ini tentu menyulitkan bagi para guru untuk melihat referensi pembelajaran dari internet. Selain itu, banyak pelatihan guru yang menggunakan internet sekarang ini misal, mengikuti pelatihan lewat zoom, Google Meet, Youtube dan lain-lain.
Ketiga, transportasi. Di kota, banyak sekali transportasi yang bisa di naiki untuk berangkat sekolah seperti motor, bus atau angkot. Sedangkan di desa jalan menuju sekolah banyak rusak dan susah untuk dilewati serta jarak antara rumah ke sekolah yang begitu jauh. Apalagi jika turun hujan, maka jalan kemungkinan rusak parah dan sulit untuk dilewati. Kebanyakan masyarakat di desa tertinggal memiliki ekonomi menengah ke bawah, sehingga kadang ada yang tidak memiliki kendaraan. Para siswa banyak yang berjalan ke sekolah dan meminta tumpangan pada pengendara yang lewat. Hal ini tentu membuat Sebagian siswa malas ke sekolah dan ada yang berhenti sekolah.
Dengan demikian, hendaknya lebih perhatian lagi pada sekolah yang berada di desa tertinggal. Sekolah tersebut membutuhkan bantuan untuk lebih baik lagi. Pemerintah dapat memberikan pelatihan bagi para guru dan menyediakan transportasi untuk para siswa. Meskipun sulit, mereka akan tetap berusaha jika diberikan wadah oleh pemerintah.
Jika keadaan terus tidak mengalami perubahan dan sekolah tidak mengalami perubahan, maka hal tersebut telah melanggar butir Pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada sila ke 5, setiap warga negara berhak mendapat fasilitas yang sama tanpa ada perbedaan. Tentunya Setiap siswa juga berhak mendapatkan fasilitas yang sama dan hak untuk belajar. Mereka berhak mendapat perlakuan yang sama untuk meraih cita-cita dan harapan mereka, karena di Pundak mereka ada harapan orangtuanya.(*)
Penulis adalah : mahasiswa jurusan keperawatan poltekkes Jambi*
Ikuti Pelatihan Kepemimpinan Nasional II, Kadiv Yankum Kanwil Jambi Siap Akselerasi Inovasi Hukum
