Kurikulum Merdeka Butuh Literasi Manusia



Rabu, 24 Agustus 2022 - 09:40:12 WIB



Saat ini pendidikan Indonesia sedang memperkenalkan Kurikulum Baru yang diberi nama Kurikulum Merdeka, dimana guru diberi kebebasan untuk mengajar dan siswa diberi kesempatan belajar secara bebas dan nyaman, tenang, santai dan gembira tanpa beban berlebihan dengan meyalurkan bakat alami yang siswa miliki, tanpa paksaan untuk mempelajari mata pelajaran tertentu diluar kesukaan dan ketertarikan mereka

Kurikulum merdeka ini kelihatannya ingin memanusiakan manusia’ dengan menempatkan kebebasan, kenyamanan, ketenangan dalam belajar. Guru sebagai ujung tombak implementasi kurikulum ini harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi ini.

Sebenarnya, guru tidak cukup hanya menguasai literasi lama, seperti membaca, menulis, dan numerasi sebagai modal dasar untuk pembelajaran. Guru harus meperkaya literasi yang selama ini menjadi andalan dengan literasi baru yang mencakup literasi data, literasi teknologi, literasi manusia (Natsir).

Literasi data terkait dengan kemampuan membaca, menganalisis dan membuat konklusi berpikir berdasarkan data dan informasi (big data) yang diperoleh. Literasi teknologi terkait dengan kemampuan memahami cara kerja mesin (coding, artificial intelligence, engineering principles, dan biotech) (UHAMKA).

Kedua literasi ini harus ditunjang dengan literasi manusia. Sebaik apa teknologi dan data yang dikuasai, kalau manusia mentalnya rusak, implemplementasi kurikulum ini tidak tepat sasaran karena literasi manusia memperlengkapi seseorang di lingkungan sosial, memberikan kekuatan untuk berkomunikasi, untuk terlibat dengan orang lain, dan memanfaatkan kapasitas manusia yang dimiliki untuk keanggunan dan keindahan (Aoun, 2017)

Literasi manusia terkait dengan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, kreatif dan inovatif dengan tujuan agar manusia bisa berfungsi dengan baik di lingkungan manusia yang lain dan dapat memahami interaksi dengan sesama manusia, Hal ini sangat diperlukan guru, apalagi dalam proses pembelajaran, guru berhadapan dengan manusia juga, yaitu siswa.

Literasi manusia memang diperlukan dalam Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM), karena literasi manusia itu mencakup dua hal, yaitu humanities dan komunikasi. Keduanya saling berkaitan sehingga literasi manusia tak dapat dipisahkan dalam proses pembelajaran, dalam berinteraksi dengan siswa, khususnya tindakan guru dan siswa dalam adab dan etika, kepekaan, serta cara berkomunikasi dan memecahkan suatu masalah

Kurikulum Merdeka dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila bisa menjadikan elemen literasi manusia sebagai basis penguatan projek: 1) secara sosial: kemampuan berinteraksi, membangun hubungan antar manusia, bekerjasama, serta memiliki jiwa kepemimpinan); 2) secara fisik: kemampuan menjadi individu yang memiliki kesadaraan akan kesehatan pribadi, masyarakat, dan lingkungan); 3) secara intelektual: kemampuan problem solving dan berpikir kreatif;

Kemudian, 4) secara kultural: kemampuan memahami beragam budaya dan beradaptasi dengan budaya berbeda; dan 5) secara emosional: kemampuan meningkatkan kualitas mental health yang semuanya saling berkaitan dan bersinergi sebagai dasar yang dibutuhkan dalam mendukung kelancaran berkomunikasi untuk memantapkan penguatan projek ini. (SPICE of Learning Philosophy)

Literasi manusia memang selaras dengan Kurikulum Merdeka karena literasi ini mencakup keterampilan agar guru dan siswa bisa berfungsi dengan baik dilingkungan sekolah dan masyarakat agar tercipta interaksi dan komunikasi yang baik dan santun, tidak kaku (Kemenristek Dikti) dan membuat interaksi dan komunikasi berjalan secara alamiah sesuai dengan kodrat manusia (Aoun, 2017).

Jadi, bisa dipastikan Kurikulum Merdeka belum sempurna implementasinya tanpa ada penerapan literasi manusia, karena literasi ini memiliki kontribusi terhadap keterampilan berkomunikasi dan memiliki peran yang sangat vital sebagai pondasi guru dalam melaksanakan pembelajaran disamping literasi ‘lama’ dan ‘baru’, yaitu literasi data dan literasi teknologi.

Literasi manusia adalah kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, kreatif dan inovatif. Misalnya, kepemimpinan (leadership), kerjasama (team work), kecakapan (agility), dan kewiraswastaan (entrepreneurship). (Aoun, 2017)

Kalau memang Kurikulum Merdeka ingin ‘memanusiakan manusia’ yang tercermin dalam proyek penguatan profil pelajar Pancasila, literasi manusia bisa membantu guru dalam konteks ini karena literasi ini mencakup tentang bagaimana seharusnya guru memimpin, menghargai, memuliakan, bekerjasama dengan orang yang berada di bawahnya atau orang lain dan dalam lingkungan belajar.

Penguatan literasi manusia dalam Kurikulum Merdeka dapat dilakukan melalui kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Literasi manusia: 1) tidak ‘membolehkan ‘langsung’ mengajar tanpa melihat kebutuhan peserta didik; 2) mengabaikan tahap perkembangan maupun pengetahuan yang dimiliki peserta didik sebelumnya; 3) menyamaratakan metode pembelajaran dan menggunakan satu metode yang itu-itu saja tanpa melakukan evaluasi terhadap metode yang digunakan; 4) menggunakan hanya satu perspektif misalnya hanya melihat kemampuan kognitif peserta didik, tanpa melihat faktor lain seperti sosial, emosi, atau spiritual.

Literasi ini tidak menganjurkan; 1) pembelajaran dengan konteks yang tidak relevan dan tidak menarik untuk peserta didik; 2) interaksi dengan peserta didik hanya memberikan dan menagih tugas; 3) proses belajar bertujuan tes atau ujian akhir; 4) pembelajaran dengan kegiatan yang sama dari tahun ke tahun dengan soal tes dan ujian yang sama.

Oleh karena itu, literasi manusia dipandang bisa menguatkan IKM, khususnya untuk menghadapi kondisi ini: 1) manusia itu berbeda beda, kita harus mengakui perbedaan itu, jangan pernah berasumsi orang lain akan mengikuti pendapat kita; 2) biarkan orang lain berkreasi, berkarya sesuai dengan kemampuannya, jangan ukur atau nilai orang lain dengan ilmu yang kita miliki.

Kemudian 3) harus diingat dunia ini berputar, tidak selamanya kita ‘diatas’, berbuat baiklah selagi kita ‘berkuasa’, adillah dengan semua orang, jangan pernah memilih, memilah, mengelompokkan orang berdasarkan kriteria kita buat sendiri; 4) berbeda pendapat terhadap isu tertentu itu wajar, tapi jangan buat kesimpulan kita berbeda dalam semua hal.

Selanjutnya, 5) hati boleh ‘panas’, tapi bahasakan dengan santun agar orang lain tidak tersinggung; 6) di media sosial, posting, tweet, comment sesuatu yang kebenarannya sudah terbukti, dilarang menuduh nuduh, dll.

.Kita boleh menguasai banyak literasi, tapi kita tidak akan nyaman hidup bila tidak memperhatikan literasi manusia, cara praktis untuk ‘menundukkan’ manusia. Semoga!



Artikel Rekomendasi