Potensi Tempat Pariwisata Di Nagari Tandikek Utara



Jumat, 17 Juni 2022 - 16:05:05 WIB



Tandikek Utara merupakan sebuah nagari yang tertelak di Kecamatan Patamuan kabupaten padang Pariaman. Nagari ini berdiri pada tahun 2011. Nagari ini juga merupakan pemekaran dari nagari Tandikek. Masyarakat nagari Tandikek Utara bekerja sebagai petani. Lubuak Batu Palimauan ini berada diantara dua kampung, jadi akses jalan ke tempat ini bisa melalui Korong Tandikek Asli dan juga bisa melalui Korong Air Kelok.

Akses jalan kesini bisa dilalui dari Padang menuju arah Bukittiingi terus melaju ke arah Sicincin, Terus melaju sert abelok ke arah Koto Mambang, terus ke arah Malalak dan Belok kanan ke arah pemandian Lubuk Batu Palimauan. Dahulu ada baliho yang terpasang di persimpangan pemandian Lubuak Batu Palimauan ini tetapi sekarang sudah tidak ada lagi. Baliho tersebut bertujuan untuk memudahkan para pengunjung mudah mengakses ke arah tempat pemandian ini.

Di pemandian ini terdapat 7 lubang batu yang diyakini sebagai tempat balimau oleh Khatib Sangko. Lubang tersebut berbentuk mangkok. Khatib Sangko sendiri adalah orang yang menyebarkan agama islam di Nagari Tandikek. Sekarang sudah ada mesjid yang dahulunya terkenal dengan mesjid Mudiak Padang sekarang dinamakan mesjid Syekh Khatib Sangko yang dibangun tahun 2018 oleh Bupati Padang Pariaman ketika itu.

Tempat pemandian Lubuak Batu Paliamaun ini bukan saja tempat pemandian biasa tetapi tempat pemandian bersejarah yang ada di Nagari Tandikek Utara. Khatib Sangko mulai mengajak masyarakat di Nagari Tandikek tahun 1621 M memeluk agama islam. Sebelum diislamkan, Khatib Sangko menyuruh penduduk yang ingin menganut agama Islam terlebih dahulu mandi di Lubuak Batu Palimauan ini. Orang tersebut mandi dan dilimaukan oleh Khatib Sangko sebelum mengucapkan kalimat Syahadat sebagai pertanda masuk agama Islam. Ramuan limaunya ditempatkan di lubang yang 7 tersebut. Pemandian nan bersejarah ini yang juga merupakan tempat pemandian syiar islam yang ada di Nagari Tandikek.

Sekarang Lubang yang 7 tersebut hanya ditemukan 6 lubang. Begitu sejarahnya pemandian ini begitu asri, dingin, sejuk dan dipadati pengunjung pada masanya.
Tempat pemandian ini dibuka pada tahun 2016, pada tahun tersebut mulai dibuka tetapi baru sedikit pengunjung yang datang ke lokasi pemandian. Puncak kepadatan pengunjung terjadi pada tahun 2017 sebelum lebaran. Tempat pemandian ini sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan baik yang berasal dari Kabupaten Padang Pariaman maupun luar kabupaten. Banyak harapan masyarakat menggantungkan ekonomi mereka terhadap kawasan ini karena tempat wisata adalah tempat yang digunakan untuk menunjang sektor perekonomian.

Tahun 2017 tersebut setiap harinya sekitar 200-an orang atau lebih berkunjung ke pemandian ini, biaya yang diperlukan bagi masyarakat di tempat pemandian ini hanya 5 ribu saja untuk biaya parkir motor. Tempat pemandian ini seperti yang sudah dikatakan diatas bisa menjadi obat rematik penyakit kulit lainnya. Makanya di tempat ini ramai dikunjungi karena bisa menjadi obat tersendiri bagi masyarakat yanga ingin mandi dan juga berobat.

Masyarakat disini juga sudah menggantungkan sektor perekonomian mereka disini misalnya dengan berjualan di area sekitar pemandian, berjualan di area parkir dan berjualan di area jalan ke lokasi pemandian. Masyarakat berharap sangat pada saat itu untuk membuka kedai atau warung di tempat pemandian ini. Ada juga masyarakat yang berinisiatif membeli ban mobil(benen mobil) untuk disewakan pada saat itu. Saat itu setiap harinya pengunjung sudah dikatakan meledak karena Lubuak itu sendiri tidak bisa lagi menampung kapsitas orang yang mau mandi.

Begitu banyaknya orang yang ingin mandi di lubuak ini akan tetapi semua itu bertahan hanya beberapa bulan saja. Beberapa bulan kemudian ada salah seorang warga atau oknum masyarakat yang tidak senang dengan pemandian ini, dia mencoba mengklaim tanah tempat pemandian itu dengan tanahnya maka dia menutup akses jalan ke tempat pemandian makanya tempat pemandian ini ditutup sementara akibat sengeketa tanah yang dilakukan masyarakat. Kemunduran tempat pemandian ini juga disebabkan oleh air bah yang mengahadang dan menghanyutkan warung warga yang dibuat disekitar pemandian. Kejadian air bah ini setelah oknum masyarakat tersebut melarang aktifitas pemandian ini.

Faktor lain yang menjadi penyebab kemunduran tempat wisata ini adalah tidak adanya pengelolaan yang baik dilakukan masyarakat. Akses jalan terbagi menjadi dua juga menjadi alasan tempat pemandian ini sekalian akan mati karena di Korong Tandikek Asli tempat pemandian ini tidak dipungut biaya parkir itulah mengapa banyak wisatawan yang masuk melalui jalur ini. Itulah sebabnya pemandian ini tidak bisa mengembangkan potensinya dengan baik.

Sekarang Lubuak Batu Palimauan hanya tinggal kenangan, harapan kedepannya baik pemerintah Nagari Tandikek Utara maupun pemerintah Kabupaten Padang Pariaman agar tempat wisata yang memiliki potensi-potensi agar dikembangkan agar tempat wisata ini bisa juga menjadi landasan sektor perekonomian kedepannya. Menurut hemat penulis tempat wisata kalau pengelolaan nya baik, jelas struktur-nya dan tidak dicampur aduk dengan masalah sengketa lahan dan lain-lain, tempat wisata tersebut akan menjadi maju. Untuk itu pemerintah Kabupaten mulailah melihat tempat wisata yang niscaya memberikan potensi agar Kabupeten kita maju untuk kedepannya.

Ketika penulis menempatkan diri sebagai seorang yang paham dengan manajemen pariwisata maka hal ini adalah hal yang cukup prihatin, saya mencoba untuk membuat kembali hal itu menjadi hidup. Contohnya pengelolan yang kurang baik terhadap wisata lubuak batu palimauan yang berada di korong air kelok ini tentu adalah kondisi yang memprihatinkan, saya selaku wali nagari mislanya tentu ingin menghidupkan kembali sektor pariwisata, hal ini akan berdampak pada sektor yang paling utama adalah pereknomian. Ketika saya selaku ketua organisasi pariwisata misalnya PPJA maka saya akan berkoordinasi dengan masyarakat perihal kenapa tempat pemandian ini untuk kedepannya. Sayangnya PPJA sudah mati, Lubuak Batu Palimauan sudah juga mati dan tidak dikunjungi wisatawan lagi. Untuk keberlanjutan produk ini tentu adalah hal yang sulit karena tidak adanya dukungan dari pemerintah dan juga masyarakat yang kurang paham dengan sosialisasi tempat pariwisata serta bagaimana mengontrol tempat pariwisata tersebut dengan baik. Maka hak ini adalah hal yang cukup memprihatinkan, di Nagari Tandikek utara khususnya.

Keunikan Tempat pariwisata selalu memiliki cerita yang berkaitan dengan sejarah dari tempat tersebut. Misalnya pemandian Lubuak Batu Palimauan ini tentu memiliki keunikan dengan hal tersebut. Ketika ini hidup, bisa dibuatkan buku cerita misalnya di tempat pariwisata tersebut mengenai sejarah pemandian ini, bisa dibuat modul singkat atau tulisan misalnya sehingga wisatawan tahu dengan pemandian ini dipercaya dan diyakini oleh masyarakat. Banyak keuntungan yang akan diperoleh oleh masyarakat sekitar karena bisa memajukan sektor perekenomian masyarakat.

Estimasi peminat dari tempat wisata ini tentu banyak karena tempat wisata ini adalah pemandian dan akses ke tempat ini tidak sulit juga di tepi jalan. Strategi pemasaran dari objek wisata ini misalnya dengan membuat akun media sosial tempat pemandian sehingga orang tahu, ketika admin dari akun tersebut aktif di media sosial maka hal ini akan membuat tempat ini akan lebih mudah dikenal. Keberlanjutan wisata ini sebenarnya hanya untuk menghidupkan kembali, caranya seperti diatas dengan sosialisasi dengan masyarakat, wali nagari serta menghidupkan organisasi PPJA di Nagari Tandikek Utara. Semoga pariwisata di Tandikek Utara kembali hidup dan didukung oleh pemerintah.(*)



Artikel Rekomendasi