Ustadz Radikal Mengancam Siapa?



Minggu, 13 Maret 2022 - 12:49:07 WIB



Oleh: Yuli Farida*



Isu radikal terus digaungkan baru-baru ini, Presiden Joko Widodo mengingatkan TNI dan Polri agar jangan sampai disusupi penceramah radikal dalam kegiatan beragama. Menurut Jokowi jangan sampai dengan mengatas namakan demokrasi lantas mengundang penceramah radikal.

Tenaga Ahli Utama Kantor Stat Presiden Ali Mochtar Ngabalin mengatakan peringatan Jokowi sudah tepat. "Saya bilang kalau diibaratkan penyakit kanker, maka penetrasi paham-paham radikal ini diibaratkan sudah masuk pada stadium keempat, jangan keliru keadaan ini sanagat kritis.
Ngabalin juga mengingatkan berbahaya penceramah radikal.

"Anda bisa bayangkan kalau dia berceramah di atas mimbar dan dia membandingkan antara pilih Alquran atau Pancasila, kira-kira itu paham apa? Paham radikal," kata Ngabalin.

"Paham radikal itu dipakai oleh para ekstrimisme dan para teroris jadi mimbar-mimbar dengan trem agama dipakai untuk mengacaukan situasi politik dan situasi sosial kehidupan masyarakat. (Suara.com 06/03/2022).

Presiden Joko widodo mengingatkan para istri personil TNI dan Polri untuk tidak mengundang penceramah radikal dengan mengatasnamakan demokrasi. Jokowi juga menyinggung bahwa tidak ada demokrasi di tubuh TNI dan Polri. ( kompas.com.01/03/2022).

Merespons pernyataan Jokowi, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengeluarkan sejumlah ciri penceramah radikal, yakni pertama, mengajarkan anti-Pancasila dan pro terhadap ideologi Khilafah atau yang ingin mendirikan negara Islam.

Kedua, mengajarkan paham takfiri atau mengafirkan pihak lain yang berbeda paham ataupun agama. Ketiga, menanamkan sikap antipemimpin atau pemerintahan yang sah.
Keempat, memiliki sikap eksklusif terhadap lingkungannya, bersikap intoleran terhadap perbedaan. Kelima, berpandangan antibudaya atau kearifan lokal keagamaan (cnnindonesia, 5/3/2022).

Ada Apa dengan Penguasa?

Isu radikalisme sepertinya tidak habis-habis rezim dengungkan. Seolah-olah radikalisme adalah masalah utama negara. Permasalahan ini seolah lebih penting daripada kisruh minyak goreng yang mahal dan langka, korupsi yang merajalela, elpiji yang harganya “rasa sultan”, tahu tempe yang sempat hilang di pasaran, wabah yang tidak kunjung sirna, ekonomi yang masih seret, JHT yang ditahan, gaduh soal azan diserupakan gonggongan anjing, dan aneka persoalan negara yang tidak kunjung mendapatkan solusi.

Sebaliknya, rakyat tampak acuh tidak acuh terhadap isu ini. Beratnya beban hidup membuat mereka lebih memandang penting persoalan ekonomi, alih-alih peduli pada radikalisme.

Beberapa hari ini, di media sosial, beredar daftar nama ustaz yang terkategori radikal, meski sumbernya masih harus dipastikan. Anehnya, ustaz-ustaz yang dituding radikal itu justru merupakan deretan ustaz favorit umat. Misalnya saja Ustaz Felix Siauw yang banyak diikuti anak muda, juga Ustaz Abdul Somad yang digemari umat.

Ketika Ustaz Felix Siauw membahas daftar ini di laman media sosial beliau, para netizen justru memberikan dukungan, alih-alih termakan isu radikalisme dan menjauhi beliau. Para netizen justru berkomentar bahwa daftar ustaz radikal yang tidak boleh diundang tersebut justru layaknya rekomendasi ustaz untuk diundang dan didengarkan tausiahnya. Ini menunjukkan bahwa para ustaz yang dituding radikal tersebut justru dicintai umat.

Jika demikian banyak persoalan yang lebih krusial daripada isu radikalisme, sementara umat juga tidak ada masalah dengan ustaz yang “dicap radikal”, lantas mengapa rezim terus saja memviralkan topik ini? Seberapa mendesak isu radikalisme untuk diarusutamakan? Ataukah ada agenda di baliknya?
Tidak Akan Berhasil.

Sesungguhnya isu radikalisme bukanlah persoalan utama rakyat, melainkan isu pesanan dari negara-negara Barat (Amerika dan teman-temannya) atas nama dunia internasional untuk menjauhkan umat Islam dari agama dan ideologinya. Dengan melarang rakyat dan aparat (TNI dan Polri) untuk mengundang dan mendengarkan tausiah para ustaz tersebut, penguasa berharap tidak ada lagi yang akan membedah kezaliman penguasa dan sistem kapitalisme yang mereka terapkan, sekaligus memberi solusi Islam terhadapnya.

Cara ini persis yang ditempuh kaum Quraisy di Makkah ketika menghalangi dakwah Rasulullah saw. Mereka melarang orang-orang mendengarkan dakwah Rasulullah saw. dan mengembuskan isu bahwa beliau adalah penyihir melalui lisannya.

Apakah upaya Quraisy berhasil? Tidak. Rasulullah saw. berhasil membongkar kerusakan yang ada di masyarakat Makkah dan menjelaskan solusi Islam. Kelak, pasca-fathu Makkah, orang-orang Quraisy yang dulu mengadang dakwah Rasulullah justru kalah dan akhirnya masuk Islam, mengakui kebenaran dan keunggulan solusi Islam.

Inilah sunatullah perjuangan Islam. Allah Swt. telah menjamin kemenangan Islam, sementara sistem yang lain akan tumbang. Allah Swt. berfirman,
“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya.”(QS at-Taubah: 32).

Persoalan Utama Rakyat

Sesungguhnya persoalan utama rakyat adalah penerapan sekularisme dan kapitalisme di tengah kehidupan mereka. Akibat kapitalisme, muncul aneka fasad (kerusakan) multidimensi. Mulai dari ekonomi yang kerap resesi, politik oligarki, korupsi yang menjadi-jadi, degradasi moral, output pendidikan yang jauh dari mumpuni, kekayaan negeri yang tergadai, hingga bencana yang datang silih berganti.

Akibat penerapan sekularisme, umat jauh dari Islam, padahal solusi terhadap aneka kerusakan tersebut semuanya ada dalam Islam. Tidak hanya jauh, umat bahkan buta tentang Islam. Umat pun menempatkan Islam hanya sebagai agama ritual, sementara aspek politiknya ditinggalkan.

Oleh karena itu, agenda utama kita adalah mengganti sistem kapitalisme sekuler yang rusak dan merusak ini dengan sistem yang sahih, yakni Islam. Untuk itu, butuh dakwah masif kepada umat agar mereka paham tentang keunggulan Islam.

Dengan demikian, berbagai fitnah jahat pada Islam akan terbalas dengan elegan, yaitu melalui tegaknya sistem Islam (Khilafah) yang akan membawa kebaikan bagi semua insan, termasuk orang yang dulu pernah memfitnahnya. Wallahualam.



Artikel Rekomendasi