Oleh: Amri Ikhsan*
Banyak guru yang terbiasa hidup lapang dan senang, tapi merasa ‘sempit dan menderita’ sewaktu berada didalam kelas untuk melaksanakan pembelajaran. Begitu juga, banyak guru yang tangguh dan tahan saat menghadapi ujian hidup, tapi tidak sabar dan tenang sewaktu menghadapi siswanya.
Sering juga ditemukan, siswa yang begitu periang, tetapi berubah menjadi ‘murung’ saat mengikuti pembelajaran. Ada juga siswa yang begitu cerewet, banyak bicara, tapi menjadi pendiam di ruang kelas. Di kehidupan sehari hari, siswa ini begitu aktif, berinisiatif tinggi, tapi setiba di kelas, berubah menjadi pendiam, pemalu dan serba menunggu perintah.
Ini sebagian fenomena yang bisa ditemukan dibanyak tempat, dan akan terus terjadi bila guru tidak melakukan sesuatu yang bisa ‘membahagiakan’ siswanya. Ada pendapat yang menyatakan sebenarnya siswa itu tidak terlalu mementingkan guru ‘hebat’ tapi mengimpikan guru yang menggembirakan, guru yang bisa membuat mereka bahagia. Kondisi inilah yang membuat siswa belajar.
Memang, profesi guru membutuhkan stamina dan energi yang luar biasa karena harus menghadapi puluhan siswa di kelas dengan latar yang berbeda. Jika tidak terampil menangani emosi, ini akan sangat melelahkan yang mengakibatkan terganggunya ‘perasaan’ bahagia guru dan siswa.
Tidak ada pilihan lain, guru harus mengubah paradigma pembelajaran, mengutamakan kebahagiaan diri dan siswa sebelum, selama dan pasca pembelajaraan. Ini memerlukan kerja keras, cerdas, ikhlas, dan istikomah sepanjang guru menjalankan peran sebagai tenaga pendidik. Guru harus merasa “selalu muda” untuk melaksanakan tugasnya. Guru ‘dilarang’ merasa “sudah tua”, karena akan mengurangi gairah untuk belajar dan mendidik.
Guru yang bahagia akan selalu berusaha menciptakan kelas yang menyenangkan. Guru yang bahagia akan mudah menebarkan kebahagiaan kepada siswanya. Guru harus bisa menumbuhkan kebahagiaan-kebahagiaan kecil dalam dirinya karena keberadaannya di kelas. Melihat siswa memahami apa yang dijelaskan, mengerjakan tugas tugas yang diberikan dengan penuh tanggung jawab, bersikap santun, dll.
Guru yang bahagia adalah guru yang tidak membebani dirinya dengan imbalan, ingin mendapat pujian, ingin terlihat hebat, terlihat rajin. Tapi, bahagia itu tumbuh dari pengabdian dan tanggung jawab mendidik serta mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada siswa tanpa mengharapkan balas dan jasa.
Guru yang bahagia menjadikan kegiatan pembelajaran sebagai unsur religiusitas. Mendidik adalah ibadah (Suherdi) dengan mengharapkan ‘transferan ‘gaji’ yang diperoleh di akhirat. Guru mengedepankan ketulusan dan keikhlasan saat membimbing siswa, tentu ini akan membuat hati guru lebih ringan dan sabar dalam mengahapi segala permasalahan dalam pembelajaran. Sebaliknya, ketidak ikhlasan akan sering menimbulkan kekecewaan. Puncak kekecewaan yang dirasakan menimbulka perasaan tidak bahagia.
Kalau ditelusuri ada beberapa indikasi seorang guru tidak nyaman dalam menjalankan tugasnya: terlalu seringnya mengeluh. Keluhan muncul sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap pekerjaan yang dijalaninya dan yang didapatkan. Guru semacam ini berpotensi menularkan perilaku buruknya kepada orang-orang disekitarnya. Bahkan dalam menjalankan tugas-tugasnya cenderung menyakiti peserta didik baik secara fisik maupun psikis. (MINA)
Tentu ada penyebab: 1) terlalu banyak keinginan, terlalu banyak kehendak, sehingga tidak fokus dalam pembelajaran; 2) minta dipuji (terus); 3) selalu menyalahkan siswa; 4) merasa serba tahu, pendapatnya ‘wajib’ didengar; 5) merasa sudah berjasa, sudah berbuat, tapi tidak ada pihak yang mengapresiasi; 6) di zaman kekinian, tidak mengusai teknologi, padahal, teknologi banyak membantu guru dalam pembelajaran.
Dan yang paling sering diabaikan guru adalah lupa bersyukur, sebenarnya rasa syukur yang besar kepada Tuhan mendatangkan keindahan dan kebahagiaan sekaligus memberi ketenangan dan ketenteraman hati. Rasa syukur membuat guru lebih bahagia karena rasa syukur mampu mengalirkan energi positif dari ilmu pengetahuan sehingga mampu menginspirasi siswa untuk bisa lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. (Jarnuji, 2016)
Harus diakui, guru bukanlah orang hebat yang mengetahui segalanya. Seperti manusia lainnya, guru juga memiliki kemampuan intelektual dan pengalaman yang terbatas. Dengan keterbatasan ini, guru harus melakukan terobosan terobosan akademik untuk menyelamatkan ‘kebahagiaan diri’ dan siswa.
Guru harus mampu menyesuaikan diri dengan situasi kelas, guru bisa mengubah suasana belajar sesuai dengan kebutuhan psikologis siswa (plumvillage.or.id). Guru harus memiliki banyak strategi, metode belajar yang sewktu waktu bisa digunakan. Guru tidak perlu ‘ngotot’ mempertahankan skenario pembelajaran yang sudah dirancang tapi kurang sesuai dengan situasi kelas.
Dalam kondisi tertentu, guru yang humoris, ceria berpotensi dapat mengembalikan konsentrasi siswa untuk belajar dan membuat suasana belajar kembali segar. Kalau kondisi kelas sudah kembali segar, penyampaian materi ajar dapat dilanjutkan kembali dan tentu saja membuat para siswa senang belajar, nyaman dan terhindar dari kelelahan.
Siswa dipastikan akan senang, bila guru sangat antusias dalam membelajarkan para siswanya. Guru itu akan mengerahkan setiap daya upaya untuk ‘memudahkan’ siswa dalam pembelajaran termasuk menyiapkan media pembelajaran. Semua aktivitas yang dilakukan dipastikan siswa mampu melakukannya. Ini tentu akan membantu dalam membangun dan menghidupkan serta meningkatkan motivasi siswa dalam partisipasi proses pembelajaran.
Setiap siswa itu unik, tidak ada yang sama persis. Dalam konteks ini, guru harus bersifat mudah atau bisa menerima perbedaan, dan memaklumi perbedaan pemahaman siswa. Dalam kondisi tertentu, perbedaan ini harus dimanfaatkan untuk menambah dan memperkaya pemahaman, keakraban siswa. Guru bisa memanfaatkan siswa yang pemahaman lebih tinggi untuk menjelaskan kepada siswa lain.
Tugas guru bukan hanya mengajar, memberi materi pembelajarn. Guru mestinya memiliki sifat stimulatif, mendorong siswa untuk maju,berorientasi masa depan. Rasanya ‘percuma’, apabila siswa yang ‘sudah berilmu’, setelah lulus tapi tidak melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Guru yang stimulatif akan selalu berdiskusi dengan siswa tentang prospek masa depan, bagaimana menghadapi masa depan yang penuh tantangan.
Apabila guru sudah berikhtiar melakukan yang terbaik, waktunya bagi guru untuk bertawakal. Inshaallah, dengan bertawakal, ruang kelas yang sempit akan terasa lapang, kelas yang panas akan terasa dingin, waktu belajar yang lama dan melelahkan akan terasa sebentar dan menyenangkan.
Guru bisa membeli kasur yang empuk, tapi tak akan pernah bisa membeli nyenyaknya tidur bila tidak mengajar yang sebenarnya. Guru bisa membeli obat yang mahal, tetapi tak akan bisa membeli nikmatnya kesehatan bila selalu tersakiti dalam kelas. Maka, mengajarlah dengan sebenarnya (the truly teaching).
Penulis adalah: Pendidik di Madrasah*
Fase Akhir Kejayaan ATM Era Digitalisasi, Tantangan Bank Jambi


Soroti Investigasi Kasus Meninggalnya Dokter Magang di Kuala Tungkal, Ini Saran Ombudsman

