Melambungnya Harga Komoditi, Kapitalisme Gagal Menjamin Pangan Masyarakat



Selasa, 11 Januari 2022 - 21:40:32 WIB



Oleh: Sutiani, A. Md*

 

 

 

Awal tahun baru lalu harga-harga kebutuhan pokok kian meroket. Masyarakat banyak menggunakan bahan-bahan tersebut, tetapi sayangnya banyak petani gagal panen.

Peneliti Core Indonesia, Dwi Andreas, mengatakan saat ini harga-harga komoditas tersebut telah melewati batas harga psikologis. Harga cabai ditingkat konsumen telah tembus Rp100.000 per kilogram. Harga minyak goreng curah sudah lebih dari Rp 18.000 per kilogram dan harga telur yang mencapai Rp 30.000 per kilogram. (liputan6.com, 29/12/2021).

Indonesia merupakan negeri yang kaya akan sumber daya alam contohnya pohon kelapa sawit banyak tersebar di Indonesia disebabkan iklim di Indonesia sangat cocok untuk ditanami kelapa sawit.

Melansir dari situs Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Indonesia merupakan salah satu penghasil kelapa sawit terbesar didunia. Tiap tahunnya hasil produksi minyak sawit serta inti sawit bisa mencapai puluhan juta ton. (kompas.com, 30/08/2021).

Begitu melimpah sumber daya alam yang dihasilkan dari pohon kelapa sawit menjadi bahan pokok minyak goreng namun minyak goreng naik terus disebabkan permintaan minyak goreng dunia memiliki nilai jual yang tinggi dan turunan minyak kelapa sawit dijadikan biodiesel sehingga harga minyak di negeri ini makin susah dan mahal. Dari sini dapat kita lihat, bahwa penguasa hari ini benar-benar mencari keuntungan yang besar menyampingkan kebutuhan masyarakatnya. Rakyat dipaksa berjuang sendiri dalam memenuhi perutnya.

Maka, pemenuhan perut merupakan kebutuhan yang wajib sebab ini menjadi akar masalah yang timbul contohnya saja banyak terjadi perceraian yang ada di Indonesia para istri menggugat karena tidak bisa terpenuhi ekonomi keluarga. Belum lagi, berbagai macam bentuk kriminal yang dilakukan karena susahnya hidup disistem kapitalis pengangguran di mana-mana, maka tidak ada cara lain selain melanggar aturan Allah demi memenuhi kebutuhan perutnya.

Dalam sistem kapitalis yang berlandaskan manfaat yaitu keuntungan menjadi sebuah target dengan kesempatan natal dan tahun baru ini sesukanya dalam menaikkan harga pokok. Hidup sulit dalam wabah pandemi Covid-19 yang belum usai kini pemenuhan perut kian ditekan bagi segelintiran masyarakat menengah ke bawah. Mau sampai kapan rakyat harus dicekik dan dalam penguasaan sistem kapitalisme tidak bertanggungjawab atas pemenuhan pangan.

Padahal Rasulullah telah mengabarkan kepada kita bahwa wajibnya sebuah negara dalam menjamin pangan masyarakat karena pangan merupakan salah satu kebutuhan jasmani yang harus dipenuhi.

“Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu maka seolah olah dunia telah menjadi miliknya.” (h.r. Bukhari).

Jika yang terjadi hari ini, sebaliknya negara tidak menjamin penghidupan pangan maka berhati-hatilah atas pertanggungjawaban kepada Allah Swt. kelak seperti doa yang pernah dilakukan Rasulullah saw. “Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan dari umatku, lalu ia membuat susah umatku, maka susahkanlah dia.”

Negara gagal untuk mengantisipasi ke lonjakan harga pokok. Kebutuhan pangan merupakan yang sangat penting karena menjadi sebuah tanggung jawab negara untuk memberikan jaminan kebutuhan hidupnya. Namun sayangnya, kapitalisme masih berdiri saat ini maka negara sedikit pun tidak pernah mengayomi masyarakat sepenuhnya.

“Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap (urusan) rakyatnya”. (h.r. Bukhari).

Pada kenyataannya, jika harga yang melonjak ini mengakibatkan kemiskinan yang merajalela dan masuk dalam data statistik. Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data terkait kemiskinan di Indonesia, berdasarkan Survei Ekonomi Nasional September 2020.

Menurut data tersebut, persentase penduduk miskin pada September 2020 naik menjadi 10,19 persen, meningkat 0,41 persen pada Maret 2020 dan meningkat 0,97 persen pada September 2019.

Disebutkan, jumlah penduduk miskin pada September 2020 sebesar 27,55 juta orang, meningkat 1,13 juta orang terhadap Maret 2020 dan meningkat 2,76 juta orang terhadap September 2019. (kompas.com, 18/02/2021).

Solusi yang tepat setiap pundi-pundi masalah yang ada pada sistem hari ini, hanya ada dalam sistem Islam, yang mana telah terbukti menjamin hidup manusia. Tak hanya masyarakat yang muslim saja, tetapi juga nonmuslim. Mulai dari sandang, pangan dan papan. Untuk itu, marilah kita berjuang sama-sama untuk menegakkan sistem Islam kembali. Semoga Allah segera menurunkan janji-Nya kepada kita dengan menerapkan aturan Islam secara kafah.(*)

 



Artikel Rekomendasi