Pemikiran 65 Tokoh Untuk 65 Tahun Usia Provinsi Jambi: Sebuah Timbangan



Sabtu, 08 Januari 2022 - 14:47:55 WIB



Oleh: Jumardi Putra*

 

 

Buku berjudul 65: Perspektif Pemikiran Membangun Jambi kali pertama saya mengetahui saat ini secara simbolik oleh Ketua Badan Musyawarah Keluarga Jambi (BMKJ) Nasional Syafril Nursal, Gubernur Jambi dan Ketua DPRD Provinsi Jambi di sela rapat paripurna istimewa HUT Provinsi Jambi Ke 65 di ruang paripurna DPRD Provinsi Jambi (6/1/22).

Sempat terlintas dalam pikiran saya ketika itu harusnya buku tersebut juga diberikan kepada semua tamu undangan sehingga bisa dibawa pulang ke rumah lalu dibaca. semoga saya segera memiliki buku itu karena penasaran sosok tokoh beserta isinya.

Berselang dua hari lepas HUT Provinsi Jambi barulah saya mendapatkan buku tersebut berkat pemberian Muslimin Tanja, Ketua BMKJ DKI Jakarta. Lebih kurang dua jam dalam sekali duduk saya menyelesaikan buku setebal 206 halaman ini, yang akan menjadi bahasan saya dalam catatan kali ini.

Saya menyambut baik kehadiran buku ini. Publik di Jambi bisa mengetahui sesama warga Jambi yang memilih tinggal dan mengembangkan karir di perantauan baik dalam maupun luar negeri dengan segala dinamikanya. Mereka tumbuh berkembang jauh dari tanah kelahiran tanpa lupa jalan pulang. Mereka yang tergabung dalam buku ini datang dari beragam latar belakang pendidikan dan profesi, sebut saja seperti akademisi, birokrat, pengacara, pengusaha, jurnalis, dokter, aparat penegak hukum dan keamanan (Polisi, kejaksaan dan TNI), atlet/olahragawan, dan para profesional lainnya.

Beberapa nama tokoh di buku ini baru saya ketahui dan kiprahnya, tetapi sebagian lainnya sudah saya ketahui saat masih belajar di Yogyakarta. Secara umum sosok paling sepuh yang termuat dalam buku ini merupakan kelahiran tahun 1940 sampai yang paling muda kelahiran tahun 1992. Pendek kata, rentang waktu yang menampung fragmen-fragmen pengalaman sekaligus pemikiran para tokoh dalam meneropong perjalanan provinsi Jambi dari tempo dulu sampai sekarang.

Buku berjenis hardcover dan full color ini memuat 65 tokoh Jambi dengan disertai perjalanan singkat karir mereka masing-masing sekaligus pendapat, kritik dan harapan untuk provinsi Jambi pada usianya ke 65. Usia 65 jelas usia yang melewati perjalanan yang panjang , lengkap dengan segala macam ujian dan rintangan.

Memang buku ini tidak dibuat laiknya karya maupun opini/artikel populer dalam bentuk ilmiah yang ketat baik dari segi topik, sistematika tulisan, dan dukungan data, melainkan ditulis sebagaimana pengenalan tulisan-tulisan di rubrik tokoh/sosok di surat kabar nasional maupun lokal saban akhir pekan.

Maka tak heran pembaca akan menemukan romantisme para tokoh tentang tanah kelahirannya, masa kecil yang indah, suasana halaman yang asri, riak-ria sungai yang kerap dirindukan, dididik disiplin dan kerja keras, ekonomi keluarga yang sulit, doa dan pola didikan orangtua, jatuh-bangun meraih cita-cita, dan situasi daerah yang jauh dari pengalaman transportasi maupun media telekomunikasi canggih di masanya.

Romantisme yang demikian itu jelas sulit dielakkan karena memang para tokoh di buku ini memiliki kampung halaman, dan itu artinya menyimpan kenangan, pengalaman (pahit dan manis menjalani kehidupan), tetapi saripati yang harus diambil oleh pembaca dari kisah para tokoh ini tidak lain adalah proses panjang mereka hingga sukses sampai pada tahap sekarang dan berkontribusi bagi masyarakat luas.     

Kehadiran buku ini dalam perjalanan pembangunan adalah tradisi baik untuk dijaga dan dirawat, dan karenanya perlu banyak pihak dan lembaga dalam rangka anggota samai Jambi ke depan. Saya berharap para anggota samai HUT Provinsi Jambi ke depan akan muncul buah-buah pikiran segar dari warga Jambi tentang masa depan tanah kelahiran mereka dengan tetap kritis, membangun dan terlibat menjadi bagian dari agen perubahan.  

Menimbang masifnya penggunaan internat sekarang, galibnya kendala biaya cetak buku, ke depan bisa tercipta dalam bentuk e-book. Apa sebab? Selain tidak membutuhkan biaya yang besar juga bisa diakses secara luas oleh masyarakat di provinsi Jambi. Apatahlagi data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2020 menunjukkan jumlah pengguna internet di provinsi Jambi sebanyak 2.385.325 orang. Dengan demikian penyebarluasan pengetahuan produksi melalui internet menjadi lebih efektif dan dijanjikan. Meski saat bersamaan kita menyadari bahwa jumlah pengguna internet yang meningkat dari tahun ke tahun belum secara otomatis budaya membaca. Maka tugas kita bersama untuk tiada henti memasyarakatkan budaya melek literasi digital. 

Isi Buku Pemikiran 65 Tokoh

Pilihan 65 tokoh di buku ini diakui sebagai panitia acara HUT Provinsi Jambi Ke 65 pada tahun 2022 ini. Sepintas alasan tersebut tepat, mendalami secara mendalam ada banyak celah untuk digunakan lebih dari penyesuaian usia pendirian provinsi Jambi ke 65 (6 Januari 1957-6 Januari 2022).

Pertama, angka 65 sejatinya bisa merujuk jumlah topik tulisan dari para tokoh Jambi di perantauan yang memiliki pengalaman maupun profesi yang beragam tanpa harus membatasi jumlah tokoh sebanyak 65 orang pula. Begitu juga dari latar belakang tokoh, buku ini masih menggabungkan tokoh kelahiran Jambi dengan tokoh yang pernah bekerja di provinsi Jambi. Tentu saja pengkategorian ini tidak berlaku mutlak, tetapi bisa menjadi alternatif untuk menampung sebanyak mungkin tokoh/idividu yang bekerja, dedikasi maupun pemikiran mereka berguna bagi pembangunan provinsi Jambi.

Kedua, sosok/tokoh di buku ini belum senafas dengan agenda pengarusutamaan gender. Artinya tokoh di buku ini masih didominasi kaum lelaki sebanyak 57 orang dan perempuan hanya memiliki 8 orang. Ketiga, dari latar belakang sosok tokoh belum seimbang. Unsur akademisi 9 orang, TNI/Polri 4 orang, birokrat/pemerintahan sebanyak 10 orang, profesional 33 orang, dan penguasaha sebanyak 8 orang. Keempat, pengelompokan sosok tokoh sebagaimana poin ketiga masih perlu dikerukutkan, seperti sebut saja profesi jurnalis, dokter atau tenaga kesehatan, penceramah, atlet atau olahragawan, pengacara/advokat, Komedian, dan lain-lain. Kelima, konsep buku bisa dibuat dalam dua format yaitu pertama memuat profil sosok/tokoh Jambi yang ditulis oleh sekelompok penulis dan kedua bunga rampai berisikan pemikiran langsung dari tokoh. Agaknya dengan alasan tertentu panitia memilih strategi penyajian keduanya dalam sebuah buku seperti yang kita baca dari buku ini. Cara demikian tentu memiliki kelemahan tersendiri karena pembaca tidak mendapatkan asupan gagasan secara runtun dan sistematis dari para tokoh.     

Lima hal yang saya sebutkan di atas jelas memiliki konsekuensi baik dari segi waktu, dan persiapan teknis-non teknis lainnya. Belum lagi kesibukan masing-masing tokoh. Sementara diakui oleh panitia buku ini mulai dikerjakan tanggal 27 Agustus 2021. Artinya belum genap setengah tahun. Tidak heran bila disajikan 65 pemikiran tokoh Jambi di perantauan ini masih diakui oleh panitia menemukan kendala. Hanya saja panitia belum menjelaskan secara gambalang argumentasi penyusunan substansi buku, seleksi para tokoh yang diikutkan ke dalam buku, dan kendala dalam proses mewujudkannya.

Sebagai pribadi yang pernah bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan buku di Yogyakarta, saya bisa memahami kondisi itu, tapi justru di situlah tantangannya. Menghimpun para tokoh dengan latar belakang profesi dan keilmuan yang beragam meniscayakan landasan pijakan konseptual yang kokoh sehingga dapat merajut jalinan antar satu gagasan dengan gagasan lainnya untuk sampai pada satu gagasan pokok yang dapat menjadi sumbangan berharga bagi pemerintah provinsi Jambi maupun masyarakat Jambi secara luas.

Secara umum baik pandangan, kritik dan harapan para tokoh di buku ini tidak lain dan tidak untuk sepenuh-penuhnya kemajuan dan kesejahteraan masyarakat provinsi Jambi. Membaca pengalaman, keilmuan dan profesi yang mereka geluti dapat merasakan adanya rasa cinta di provinsi Jambi, yaitu tanah kelahiran maupun tempat sebagian dari mereka yang pernah bekerja di Bumi Pucuk Jambi Sembilan Lurah.

Para tokoh di buku ini mengamini provinsi Jambi telah dianugerahi oleh Allah SWT berupa kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang berlimpah, tetapi tidak cukup untuk mengejar ketertinggalan Jambi dari daerah-daerah maju lainnya di tanah air. Pembangunan provinsi Jambi harus melibatkan pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/kota dalam provinsi, serta pihak swasta, masyarakat, dan tentu saja kolaborasi dengan daerah-daerah lain baik di muaupun luar pulau Sumatera. 

Mereka juga menyadari bahwa menjadikan APBD sebagai satu-satunya sumber keuangan penyelenggaraan pemerintah daerah jelas tidak akan mampu. Toh, dari APBD yang terbatas itu pun masih dirasa belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pendapatan harus terus dioptimasi. Realisasi belanja harus tepat guna dan sasaran. Potensi kebocoran APBD harus betul-betul tepat melalui evaluasi evaluasi dan pengawasan oleh APIP dan lembaga penegak hukum sesuai tugas dan kewenangan masing-masing secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Maka di titik inilah kepiawaian seorang kepala daerah bersama tim skuadnya (PPD) diuji untuk mampu menjadi investor ke Jambi dalam rangka percepatan pembangunan dengan cara membuka seluas-luasnya lapangan pekerjaan, transfer pengetahuan terhadap pengetahuan spesifik, hadirnya kelompok usaha muda, bertambahnya tenaga kerja produktif dan mumpuni.

Begitu juga pemanfaatan era digital sebagai jalan “baru” kebangkitan ekonomi daerah dan mewujudkan efektifitas dan efisiensi penyelengaraan pemerintah daerah dimulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, evaluasi dan pertanggungjawaban. Tidak kalah penting juga memastikan provinsi Jambi sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan konsisten berpijak pada Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) serta memutus matarantai konflik lahan yang masih meluas dengan cara terciptanya pendistribusian hasil kekayaan sumber daya alam kepada masyarakat secara adil, pemanfaatan potensi mineral dan energi baru dan terbarukan, peningkatan produktivitas sektor pertanian dan perkebunan berbasis potensi daerah,

Puncak dan bidang pertimbangan, kegelisahan dan para tokoh di buku ini hemat saya bertumpu pada komitmen pemerintah daerah terhadap pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas dan berkeperibadian melalui pendidikan pembangunan pembangunan infrastruktur yang terencana, terencana dan terintegrasi antar wilayah sehingga benar-benar efek ganda bagi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat provinsi Jambi. 

Akhirnya, membaca buku ini mengingatkan pada obrolan saya dengan beberapa warga Jambi di perantauan di sebuah kafe di ibu kota pada medio November tahun 2020 di kedai Bakoel Koffie di jalan Cikini Raya, Menteng, Jakarta Pusat (baca di sini: https://www. jumardiputra.com/2021/08/suatu-hari-tentang-jambi-di-bakoel.html), yaitu mengharumkan nama Jambi bukan hanya menjadi tugas (apalagi beban) individu-individu yang lahir dan bermukim di Jambi. Provinsi Jambi justru akan terus maju dan berkontribusi di lapangan yang lebih luas baik di kancah global maupun di kancah global berkat kiprah putra-putri daerahnya yang tinggal di banyak tempat baik dalam maupun luar negeri. Jayalah Jambiku!.(*)

 

 

Tulisan-tulisan penulis tentang berbagai topik dapat dibaca di kanal: www.jumardiputra.com*

 

Berikut nama-nama 65 Tokoh Jambi di buku ini:

AKADEMISI

1. Erwin Amiruddin

2. Fatwa Adikusuma

3. Firwan Tan

4. Hasriadi Mat Akin

5. Johanner Sitompul

6. Havidz Aima

7. Shinta Amalina Hazrati Havidz

8. Zainal Rafli

9. Zulkoflie Abbas

POLRI/TNI

10. Irjen Pol Armed Wijaya

11. Laksda TNI Nazali Lempo

12. Letnan Jend (Purn) Sudirman

13. Irjen Pol (Purn) Syafril Nursal

PEMERINTAHAN

14. Ediar Usman

15. Estiarty Haryani

16. Febrie Ardiansyah

17. Irmansyah Rachman

18. Joni Hariyadi

19. Jonni Mardizal

20. Junus Satrio Aris Munandar

21. Nasir Usman

22. Ramzi Ahmad Zuhdi

23. Thamrin Bhiwana Bachri.

PROFESIONAL

24. Abu Muhammad Dwiono Koesen Al- Jambi (AMDK Al-Jambi)

25. Abdul Majid Djalil 

26. Agustinus Antonius

27. Aidil Akbar Madjid

28. Aji Najiullah Thaib

29. Andrea Paresthu

30. Arya Gunawan Usis

31. Asikin Hasan

32. Abdul Aziz Hamid

33. Basyarudin Thayib

34. Dyonisius Beti dan Suryani Zaini 

35. Elfira Rosa Nasution

36. Faris BQ

37. Herman Kadir

38. Hifni Hasan

39. Ismet Januar 

40. Kuseryansyah

41. Laurentius Sastra Wijaya

42. Lucky Savitry Widyakusuma

43. Mairizal Meirad

44. Muhammad Ridwansyah

45. Marion Oemar

46. Muslimin Tanja

47. Nila Rizal Noor

48. Nuzran Joher

49. Rahman Usman

50. Riska Andriyani

51. Rusfan Effendi Makalam

52. Samsul Hidayat

53. Saur Hutabarat

54. Suarna Dijaya

55. Suprapto

56. Tysa Novenny

57. Zaidul Akbar

PENGUSAHA

58. Murady Darmansjah

59. Budi Satria Isman

60. Chandra Fireta 

61. Herman Muchtar

62. Johnnie Sugiarto

63. Maridin Jamil

64. Toshen Gofar

65. Urpan Dani



Artikel Rekomendasi