Lewat Mata Lensa Anak Muda Milineal Menjaga Tradisi



Jumat, 07 Januari 2022 - 11:20:27 WIB



Oleh: M. Ali. S*

 

 

Pada saat sekarang kita tak bisa menolak perkembang zaman, perubahan budaya, dan majunya arus tekhnologi, gelombang transformasi budaya menembus sekat sekat dan tembok tembok tebal batas batas administrasi daerah, negara, dan benua, yang mengubah arus peradaban dan perekonomian dunia, revolusi industri 4.0. sejarah mencatat penemuan mesin uap pada abad ke-18 yang dipakai untuk proses produksi barang menandai revolusi industri 1.0. Inggris memanfaatkan mesin uap tersebut untuk meningkatkan produktivitas industri tekstil dengan menjadikannya sebagai alat tenun mekanis. Ini menjadi akhir untuk peralatan kerja yang awalnya bergantung pada tenaga hewan dan manusia.

Revolusi industri 1.0 ini membuat bangsa Eropa mampu mengirim kapal perang ke semua lokasi di dunia dalam waktu yang lebih singkat. Dampaknya berlanjut sampai pencemaran lingkungan karena asap mesin uap dan limbah-limbah pabrik lainnya. Hingga sampai pada saat ini revolusi industri 4.0, Klaus Schwab selaku Ketua Eksekutif World Economic Forum (WEF) adalah orang yang untuk pertama kalinya memperkenalkan revolusi Industri 4.0. Dalam perkenalannya, revolusi ini disebut akan secara fundamental mengubah hidup dan kerja manusia. Dibanding pendahulunya, revolusi industri ini punya ruang lingkup, skala, dan kompleksitas lebih luas.

Semua kemajuan dan perubahan yang dibawa revolusi industri 4.0 mungkin membuat banyak orang merasa tidak ada revolusi lagi yang bisa terjadi. Namun, pikiran itu musnah setelah muncul era Society 5.0, sebuah konsep yang dihadirkan oleh Federasi Bisnis Jepang. Konsep yang sudah diusulkan dalam 5th Science and Technology Basic Plan ini dijadikan masyarakat masa depan yang harus dicita-citakan oleh Negeri Matahari Terbit ini. sederhananya, era society 5.0 bertujuan untuk mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik. Integrasi tersebut dilakukan untuk membuat semua hal menjadi lebih mudah. Keseimbangan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial dengan memanfaatkan sistem yang sangat mengintegrasikan kedua hal tersebut membuat semua hal menjadi mudah, terutama memperluas prospek kerja, Namun tidak bisa kita pungkiri keadaan ini juga membawa efek pada manusianya, berkurangnya sosialisasi manual yang menyebabkan pudarnya rasa, etika, dan moral, karena separoh jiwa manusia sudah bercampur dengan gelombang optik, kita semakin tergantung pada alat yang disebut gadget.

Generasi muda kita mulai meninggalkan akar tradisi leluhurnya, hilangnya ketabuan, ketabuan saling menghormati, menghargai, antara yang muda dan tua, guru dan murid, pola hidup yang semakin konsumerisme merambah sampai ke pelosok negeri, suatu saat mungkin generasi kedepan akan kehilangan identitas akan dirinya.

Namun tak semua para milinial 4.0 seperti itu, sebut saja Adinda Nabila Al Azahra yang baru beranjak 18 tahun, anak muda yang lahir, besar di kota Jambi, yang baru baru ini memenangkan lomba fotografi budaya, GRAFIKA yang diadakan Balai Pelestarian Nilai Budaya, Tanjung Pinang, Kemenritekbud, dengan objek foto Tari Selampit Delapan, dan beberapa waktu lalu, ia juga mendapat nominasi untuk foto budaya yang diadakan museum Negeri Jambi untuk kategori profesional dengan mengankat objek ragam hias pada arsitektur tradisional Kerinci, tak hanya fotografi ia juga menulis tentang sejarah dan budaya, beberapa waktu lalu tulisannya tentang falsafah “Marena dan Maliyu”, di mana pada arsitektur tradisional Kerinci yang menceritakan alam atas dan alam bawah, serta konsep manusia masa lalu yang selalu menjaga keseimbangan dan keselaran dengan alam raya.

Saat di tanya kenapa ia tertarik pada tradisi dan kebudayaan masa lampau, di mana masanya anak muda lebih cenderung ke budaya milinial ?, “saya juga menyukai drama korea, komik jepang, tik tok, bahkan drakor dulunya sudah mandarah daging pada diri saya, namun pada saat liburan saya diajak ibu berkeliling, melihat Benda Cagar Budaya, menhir menhir batu, candi, rumah rumah tua, saat itu dalam hati saya bertanya, apa yang menarik pada benda benda tua itu ?, tak seperti castle castle megah dalam komik barbie saya saat kecil, taka da yang menarik bagi saya imbuhnya”

Pada suatu Ketika saya diajak ayah untuk keliling kota jambi, memotret bangunan bangunan tua, kembali saya tak habis pikir, bangunan tua, lapuk, lusuh, kenapa di potret ?, saya tak tahan untuk bertanya pada ayah, buat apa memotret bangunan banguana tua itu ?, kata ayah, kita ada pada saat ini, karena adanya para leluhur kita, kamera ini ada karena ada proses panjang dari alat sederhana yang di pakai pendahulu kita, tak ujub ujub ia muncul seperti main sulap, untuk itu kita mesti menjaga tinggalan leluhur kita, karena suatu saat ia akan punah, setidaknya kita sudah abadikan gambarnya, agar bisa dilihat generasi selanjutnya.

Beranjak dari sana saya mulai berpikir, bagaimanapun saya mencintai drakor, saya tak akan berubah menjadi orang Korea, bagaimanpun saya menyanyangi barbie sampai mati saya tak akan menjadi tokoh barbie, bagaimanapun saya cat rambut saya warna pirang, saya takkan pernah menjadi orang barat, saya akan tetap di katakana orang Melayu, akhirnya saya mulai membaca buku yang berkaitan dengan budaya saya, disana saya mulai faham, bahwa leluhur masa lalu sudah punya peradaban tinggi, saat bangsa Viking masih bertelanjang, leluhur sudah mengenakan baju, walau itu dari kulit kayu, sejak itu saya mulai mengabadikan tinggalan leluhur masa lalu, saya bangga akan darah yang mengalir di tubuh saya, karena saya akan tetap Melayu walaupun saya rupah penampilan saya menjadi Barat.

Saat di tanya apa cita citanya, “cita cita saya tak banyak, saya ingin berbuat untuk diri saya, keluarga saya, masyarakat saya, semampunya, dan mungkin saya akan mengikuti jalan hidup saya, seperti air yang mengalir, dan saya akan tunduk pada sang pemilik Alam Raya” imbuhnya, Menjaga keselaran alam, lingkungan, dan budaya, berarti kita menjaga rumah tempat kita hidup, lahir dan mati, dan para anak anak muda harapan bangsa mesti terus kita tuntun pada kebaikan, walau kita tak bisa menolak masa 4.0 menuju 5.0.(*)



Artikel Rekomendasi