Muhasabah Atas Kondisi Negeri



Selasa, 11 Januari 2022 - 08:28:26 WIB



Oleh: Salamatul Fitri*

 

 

 

Musahabah bermakna melakukan perhitungan atas diri sendiri atau mengevaluasi diri apakah ia telah melakukan segenap perintah Allah dan menjauhi larangan Allah ataukah belum? Musahabah akan menjadikan seorang mukmin menyadari kesalahannya, segera memohon ampunan-Nya serta bersungguh-sungguh dalam keataatan sebagai persiapan menuju kehidupan akhirat kelak. Nabi Saw. bersabda: “Orang yang cerdas ialah orang yang selalu mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian.” (HR. At-Tirmidzi). 

Selain musahabah diri sendiri, seorang muslim seharusnya juga melakukan muhasabah atas kondisi umat. Muslim belum dikatakan beriman jika tidak memiliki kecintaan dan kepedulian kepada saudaranya. Kenyataannya, umat masih terperosok dalam jurang kemunduran dan kemaksiatan. Pangkal kerusakan ini akibat pembangkangan kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya: “Telah nampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (TQS. Ar-Rum: 41).  

Bukan saja terjadi pembangkangan tetapi juga stigmatisasi negatif kepada syariah Islam dan pemeluknya. Semangat dakwah kaum muslim dilabeli radikal dan dipandang sebagai ancaman. Ulamanya di kriminalisasi dan ditahan. Dalam paham keagamaan umat disodori dengan seruan moderasi beragama yang justru menjauhkan mereka dari paham Islam kaffah. 

Moderasi agama adalah ide barat untuk menghadang islam kaffah. Ide moderasi adalah sekulerisasi yakni menjauhkan agama dari kehidupan. Moderasi ini menyimpangkan umat dari pemahaman islam kaffah, islam sebagai solusi kehidupan dimandulkan. Padahal jelas bahwa konsep islam yang sempurna mampu menjadi solusi problematika kehidupan dan membawa rahmat bagi seluruh alam, sesuai Firman-Nya: “Dan kami tidak mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (TQS. Al-Anbiya:107). 

Moderasi beragama diklaim dan dipropagandakan sebagai cara beragama dan berislam yang terbaik. Untuk mengelabui umat, propaganda dikemas dengan sebutan yang islami yakni islam moderat atau islam wasathiyyah. Padahal istilah dan ajaran ini bukan berasal dari islam dan tidak pernah digunakan ulama terdahulu. Jelas, paham moderasi beragama berasal dari ide barat untuk memandulkan islam dan menjauhkan umat islam dari islam hakiki.

Dalam bidang ekonomi, kian sulit dengan hutang yang semakin bertambah setiap tahunnya. Dilansir dari cnbcindonesia.com, Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah per akhir Oktober 2021 sebesar Rp. 6.687,28 triliun. Utang ini setara dengan 39,6% Produk Domestik Bruto (PDB). Jika dibandingkan dengan posisi September 2020, utang ini meningkat tajam yakni Rp. 809,57 triliun. Dimana tahun lalu diperiode yang sama utang berada di level Rp. 5877,71 dengan rasio 37,84% terhadap PDB. Dengan jumlah hutang demikian, artinya setiap bayi yang lahir menanggung tagihan sebesar 24 juta. 

Dalam sistem sosial, melihat fakta generasi muslim menunjukkan kondisinya tidak sedang baik-baik saja. Kehidupan liberal yang serba bebas tanpa aturan agama justru mendekatkannya dengan kemaksiatan. Tidak jarang kita temukan generasi muslim yang terpapar pornografi, gamers, melakukan kekerasan seksual kepada pasangan tidak halalnya, terlibat pergaulan bebas, mengkonsumsi minuman keras, hidup bersama dunia malam bahkan menjadi wanita panggilan, stres karena tugas yang menumpuk, hingga bunuh diri menjadi solusi akhir kehidupannya. Sungguh miris, realita yang ditemukan melihat kondisi generasi muslim di negeri mayoritas muslim ini. 

Umat muslim dibelahan bumi lainnya terus tersakiti dan terzalimi. Muslim Palestina yang masih terjajah Israel, muslim Suriah yang masih terbelenggu kebengisan penguasa sendiri, muslim Uighur yang masih menderita karena kezaliman penguasa Tiongkok, muslim Rohingya yang masih terlunta-lunta kesana kemari meminta suaka, muslim Kashmir yang mendapat diskriminasi karena minoritas dan masih banyak lagi. Masihkan kita diam? 

Oleh karena itu, wahai kaum muslim kondisi negeri sedang tidak baik-baik saja. Umat islam terpuruk dalam berbagai lini kehidupan, mengalami ketertinggalan dan kezaliman penjajah. Satu-satunya solusi adalah dengan mengembalikan penerapan syariah Islam secara kaffah dalam kehidupan. Keimanan kita kepada islam mengharuskan unuk taat secara total pada syariah-Nya. Terbukti, sistem kehidupan kapitalisme-sekuler dengan oligarkinya telah menyengsarakan umat islam dan merusak negeri ini. Jangan lagi mempercayai sistem kehidupan selain islam. Masih kah kita harus terpuruk dalam kehidupan yang rusak dan merusak ini? Allah sudah memberikan petunjuk dengan kembali kepada islam, yakni berhukum kepada hukum-Nya bukan hukum buatan manusia. Kebangkitan umat islam dari segala keterpurukan hanyalah dengan kembali pada islam dan totalitas syariah-Nya. Wallahu'alam bisshawab.(*)



Artikel Rekomendasi