OPINI: Afghanistan Dan Narasi Radikal Menghadang Kebangkitan Islam



Selasa, 07 September 2021 - 08:54:49 WIB



Oleh: Farah Sari, A.Md*

 

Memperjuangkan kebangkitan Islam darikelompokmanapundemipenerapanIslamharusdinilaidenganstandaryangtelahditetapkanAllahSwtdanSunnahRasulullahSaw.Selamaperjuangantersebutsesuaidenganstandartersebutmakaperjuanganitubenar.Sebaliknyajikasudahmenyelisihimakaperjuangantersebutkelirusehinggaperludisampaikannyabagaimanaperjuanganyangbenar.

Tepatkahkekhawatiranbahwa,perjuanganTalibandiAfghanistanhinggakemenangannyaakanmemunculkanaksiradikalhinggateror?Tentuperludibuktikankebenarannyasehinggapendapatinibisaditerima.

Dikutip dari detikNews.com (19/8/2021)Kelompok Taliban berhasil menduduki pemerintahan Afganistan. Pakar terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Ridlwan Habib mengatakan kemenangan Taliban ini bisa memicu semangat kelompok radikal untuk mendirikan negara Islam."Taliban tidak setuju dengan ISIS yang menciptakan daulah sendiri, karena itu mereka tidak akan mengijinkan ISIS tumbuh di Afganistan," katanya kepada wartawan.

Masih dari laman detikNews.com ditanggal berikutnya dituliskan Kekhawatiran senada juga datang dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri mengungkap adanya dampak terhadap Indonesia dari kemenangan kelompok Taliban setelah menguasai sebagian besar wilayah Afghanistan. Polri menyebut kemenangan Taliban bisa memicu ketertarikan kelompok-kelompok radikal di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kabag Ban Ops Densus 88 Mabes Polri Kombes Aswin Siregar. Aswin awalnya memaparkan kondisi Afghanistan sejak 1980-an, yang merupakan tempat berlatih para teroris, termasuk dari Indonesia. "Afghanistan sudah lama menjadi training ground dan battle ground bagi para foreign teroris fighter, orang Indonesia yang berperang ke luar. Itu Afghanistan sudah lama menjadi training ground, training camp, dan battle ground untuk orang-orang Indonesia yang terbawa atau terpengaruh untuk ikut berjuang ke sana," ucap Aswin dalam webinar CICSR seperti disiarkan lewat YouTube Sang Khalifah, Selasa. ( detikNews.com, 24/8/2021)

Meski kemenangan Taliban di Afghanistan mendapat pengakuan banyak pihak, namun opini sumbang terus di perdengarkan agar masyarakat muslim dunia  waspada terhadap pemanfaatan situasi ini oleh kelompok radikal.

Kaum muslim harus melihat perjuangan Taliban di Afghanistan dengan kacamata yang benar (syariat Islam). Setidaknya ada dua hal penting yang harus dipahami oleh kaum muslim. Pertama, ada upaya kafir barat menciptakan islamophobia. Dalam rangka menghambat kebangkitan Islam. Kedua, kaum muslim perlu memahami bagaimana perjuangan sahih untuk kebangkitan Islam, sehingga mampu menghantarkan tegaknya sistem pemerintahan Islam  (Daulah Khilafah Islamiyyah).

Pemahan yang benar tentang hal di atas sangat penting. Karena pemahaman seseorang akan mempengaruhi tingkah lakunya. Sehingga dibutuhkan standar untuk menilai apakah sesuatu benar atau salah. Islam menetapkan standar itu adalah hukum syara yang datang dari Allah Swt. Muslim bisa mengetahuinya dengan merujuk pada Al-Qur'an dan As-sunah.

Sangat berbahaya jika muslim hanya menelan mentah-mentah opini apa saja yang beredar tentang agamanya. Tanpa melihat dari mana sumber informasi, dan apa yang dijadikan standar menilai benar dan salah. Akibatnya muslim akan menjauh dari Islam. Saling memusuhi antar kelompok kaum muslimin. Muslim akan takut dengan Islam, meninggalkan identitas keislamannya sehingga lahirlah islamophobia. Saat islamophobia merajalela tentu kebangkitan Islam  mustahil bisa diwujudkan. Inilah yang diinginkan oleh kafir penjajah musuh-musuh Islam.

Narasi Radikal dan Teror Terhadap Islam Menciptakan Islamophobia

Kini bermunculan pihak-pihak yg  menggunakan isu Taliban untuk terus mengangkat narasi radikalisme, Terorisme dan negara Islam ditengah masyarakat. Inilah bukti nyata perang global melawan terror tidak lain adalah perang global melawan setiap geliat penerapan syariat secara formal dalam tataran negara.

Sejatinya, perang melawan terorisme telah dikumandangkan oleh Presiden AS George W. Bush pascaserangan 11/9/2001. Program ini mendapatkan dukungan PBB dan negara-negara di dunia. AS kemudian membangun koalisi dengan negara-negara di seluruh dunia dan mengadakan Operation Enduring Freedom (OEF), yang dimulai pada 7/10/2001, memerangi Taliban yang dianggap bekerja sama dengan Osama bin Laden dalam peristiwa 11/9/2001.

Genderang perang ini kemudian dikobarkan AS ke seluruh penjuru dunia, bahkan hingga saat ini, untuk melawan radikalisme, terorisme, dan fundamentalisme. Sayangnya, yang mendapatkan sebutan radikal, teroris, jihadis, ataupun fundamentalis adalah kelompok kaum muslimin yang berjuang ingin menerapkan aturan Islam kafah dalam bangunan Khilafah Islamiah.

Henry Kissinger, Asisten Presiden AS untuk urusan Keamanan Nasional 1969—1975 dalam sebuah wawancara pada 2004 menyatakan, “Apa yang kita sebut sebagai terorisme di Amerika Serikat, tetapi sebenarnya adalah pemberontakan Islam radikal terhadap dunia sekuler dan terhadap dunia yang demokratis, atas nama pendirian kembali semacam Kekhalifahan.”

Sebelumnya, Rand Corporation dalam laporan risetnya yang merupakan proyek Angkatan Udara AS pada 2004 berjudul “The Muslim World After 9/11” membuat rekomendasi strategis yang harus ditempuh oleh AS untuk menghadapi tantangan dan peluang dunia muslim. Mereka meyakini, selain cara militer, para “teroris” juga perlu diperangi secara kultural dan sosial. Salah satu solusi yang ditawarkan dalam laporan tersebut adalah promosi jaringan moderat.

Pada 2007, Rand Corporation memberikan rekomendasi langkah yang harus ditempuh dalam laporan “Building Moderate Muslim Network”. Dalam laporan tersebut Rand Corporation mendefinisikan muslim moderat sebagai muslim yang mendukung demokrasi dan pengakuan internasional atas hak asasi manusia, kesetaraan gender dan kebebasan beribadah, menghargai keberagaman, menerima sumber hukum nonsektarian (nonagama), menentang terorisme dan semua bentuk kekerasan. Mulailah bermunculan kampanye untuk menjadi muslim moderat sesuai dengan rancangan Barat di berbagai negeri muslim, termasuk di Indonesia.

Kampanye Islam moderat terus berlangsung hingga kini, bahkan makin terstruktur, masif, dan sistematis. Salah satu buktinya adalah adanya panduan Moderasi Beragama yang dikeluarkan oleh Kemenag. Dalam panduan tersebut disebutkan moderat dalam beragama berarti percaya diri dengan esensi ajaran agama yang dipeluknya, yang mengajarkan prinsip adil dan berimbang, tetapi berbagi kebenaran sejauh menyangkut tafsir agama.

Perjuangan Kebangkitan Islam Harus Mencontoh Metode Rasulullah Saw

Rasulullah saw. telah mencontohkan kepada umat Islam langkah-langkah menegakkan sistem pemerintahan Islam (khilafah). Metode tersebut dibagi ke dalam tiga tahapan dakwah yaitu: (1) pengkaderan, (2) interaksi dengan umat, termasuk di dalamnya mencari dukungan dan pertolongan, (3) penerimaan kekuasaan dari pemilik kekuasaan sehingga menerapkan Islam. Inilah  yang menggambarkan tiga tahapan dalam mendirikan negara Islam di Madinah oleh Rasulullah Muhammad Saw.

Perjuangan Taliban untuk menerapkan Islam yang total dalam bingkai negara hendaknya mencontoh Rasulullah Saw tersebut. Konsisten hanya berpegang pada Islam. Tidak mau terikat perjanjian apapun dengan musuh-musuh Islam.

Berkompromi dengan musuh lalu menjadi penguasabonekabentukannegarakafirpenjajahsejatinya batil dan  lemah.LihatlahPresidenAfganistanAsrafGhaniyang“dibuang”ASbegitusaja.HusniMubarokdiMesir,ZineelAbidineBenAlidiTunisia,bahkandimasareformasinegarakita.Semuamemperlihatkanbahwapenguasabonekaakandibuangjikasudahtakdiperlukaan.

Inilah pelajaran dan tuntunan yang kita dapatkan dari perjuangan Rasulullah Saw, konsisten hanya pada Islam dan menolak segala bentuk kompromi. Tidak pernah mencampur adukkan antara yang Haq dan batil.

Metode menegakkan sistem pemerintahan Islam ini sejalan dengan metode mengubah masyarakat. Masyarakat harus memiliki pemikiran dan perasaan Islam agar  mereka memahami pentingnya penerapan Islam secara kafah. Dengan demikian, dakwah Islam menuntut adanya pembentukan opini umum yang melahirkan kesadaran umum tentang pemerintahan Islam, penting dan wajibnya menegakkan pemerintahan Islam melalui an-nushrah (dukungan/ pertolongan). Dan akhirnya sistem Islam itu hadir ditengah-tengah kaum muslimin.

Sungguh, yang menjadi kekuatan kaum muslim sehingga tidak bisa dikalahkan adalah karena islamnya. Islam bukanlah ancaman, tetapi justru menjadi pelindung umat dari segala marabahaya. Islamlah yang akan memberikan rahmat bagi seluruh alam.

Allah Swt berfirman: "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nuur [24] ayat 55).(*)

 

 

Penulis adalah: Aktivis Dakwah Islam*



Artikel Rekomendasi