Oleh: Amri Ikhsan*
Wabah pandemi memaksakan semua kegiatan terhenti, kegiatan pembelajaran yang biasa dilakukan diruang kelas dengan berkomunikasi langsung atau tatap muka, namun saat ini sebagian besar proses pembelajaran dilakukan secara daring.
Maka, berlomba lombalah satuan pendidikan, guru, siswa, orang tua menyelenggarakan dan mengikuti pembelajaran daring dengan penuh suka duka, ada yang ‘menikmati’ dan ada yang mengeluh. Apapun persepsi kita tentang pembelajaran daring ini, pemerintah tetap menganjurkan harus dilaksanakan dikarena pandemi Covid-19.
Banyak penelitian telah dilakukan, hasil survei PB PGRI mengungkapkan bahwa sebanyak 78 persen guru dan 75 persen orang tua siswa inin pembelajatan tatap muka (PTM) segeran diselenggaraka. (Tribun)
KPAI juga melakukan survei dan menemukan bahwa selama PJJ berlangsung, hanya 20,1% responden menyatakan ada interaksi, namun sebanyak 79,9% responden menyatakan tidak ada interaksi sama sekali kecuali memberikan tugas dan menagih tugas saja, tanpa ada interaksi belajar seperti tanya jawab langsung atau aktivitas guru menjelaskan materi.
Survei ini mengindikasikan bahwa pembelajaran daring selama pandemi ‘sedang ada masalah’, sedang tidak baik baik saja, tidak semulus yang diperkirakan. Survei ini juga menunjukkan adanya pro kontra terhadap pembelajaran daring ini: ada yang tidak sabar untuk kembali PTM, ada juga yang nyaman dengan pembelajaran daring.
Ternyata pembelajaran daring bukan hanya adanya alat bantu laptop, komputer dan gadget, ada sinyal, kuota cukup, terhubungnya perangkat guru dan siswa. Tidak hanya guru bisa berinteraksi suara, pesan atau dokumen dengan siswa, tapi pembelajaran daring ada syarat yang mesti dipenuhi.
Siswa dan guru yang berpartisipasi dalam pembelajaran daring memerlukan: Pertama, ICT literacy: memiliki kemampuan penguasaan ICT yang dasar sebagai alat untuk belajar, mengetahui platform belajar yang digunakan, piawai memanfaatkan internet untuk pembelajaran. Kalau tidak, rasa ketidakpercayaan diri akan muncul.
Kedua, kemandirian belajar: siswa yang sudah terbiasa untuk belajar mandiri, memiliki motivasi internal yang tinggi untuk terus belajar, belajar sesuai kebutuhan, belajar karena ada yang belum dikuasai. Kalau tidak kejenuhan akan menjadi penyakit yang akan mengganggu belaar siswa.
Ketiga, kreatifitas dan berpikir kritis: begitu banyak informasi dan materi pembelajaran didunia digital mengharuskan guru dan siswa jeli menemukan informasi dan materi yang diperlukan. Jangan dibaca semua, pilih dan pilah sesuai kebutuhan. Kalau tidak, kebosanan akan selalu menghampiri siswa. (Dabbagh, N., 2007)
Pembelajaran daring bukan tergantung pada canggih dan mahalnya gadget atau melimpahnya kuota, tapi guru ‘mau’ mengajar yang menguasai dan memutakhirkan materi, menguasi ilmu untuk mendampingi siswa, kreatif dalam mengajar, mampu memotivasi siswa, kemampuan dalam mendesain pembelajaran, mengelola system pembelajaran, mengontrol system pembelajaran
Menurut Hardianto, terdapat 8 kompetensi yang harus dimiliki oleh guru pembelajaran daring: 1)enguasai dan update Terhadap Perkembangan Internet; 2) lebih menguasai ilmu pengetahuan pokok dan pendamping; 3) kreatif dan inovatif dalam menyajikan materi; 4) mampu memotivasi siswa; 5) kemampuan dalam desain pembelajaran daring; 6) kemampuan mengelola sistem pembelajaran daring; 7) ketepatan dalam pemilihan bahan ajar online learning; 8. kemampuan dalam mengontrol pembelajaran.
Dan yang kalah penting penting kemampuan berkomunikasi intrapersonal untuk tetap menjalin interaksi atau hubungan dengan siswa yang lainnya. Komunikasi dengan media teknologi pastinya berbeda dengan komunikasi langsung. Kalau disamakan, dsinyalir akan memenculkan ‘information gap’ kesenjangan komunikasi yang akan menggangu pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan.
Kalau ini terjadi, biasanya muncul ghosting, perilaku atau tindakan memutuskan komunikasi secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan atau penjelasan apapun. Oxford dictionary mendefinisikan ghosting merupakan praktik mengakhiri hubungan pribadi dengan seseorang secara tiba-tiba dan menghentikan komunikasi tanpa penjelasan.
Alangkah tidak menyenangkan bila “ditinggal saat sedang sayang-sayangnya”. Ketika guru sudah berbusa-busa menjelaskan materi pembelajaran sementara di seberang sana siswanya tidak diketahui aktifitasnya, siswa menghilang dari pembelajaran tanpa respon dan penjelasan sementara namanya masih tertera di ruang digital namun microphone dan kameranya dimatikan.
Kenapa ini bisa terjadi, pasti ada yang ‘tidak beres’, mungkin ada yang tidak disukai siswa, mungkin ada ‘keterpakaan’ dalam pembelajaran; 1) ada indikasi guru hanya memfoto materi dan tugasnya melalui grup WA; 2) tidak ada interaksi dua arah dengan siswa; 3) tuturan guru didominasi 2 (dua) kata: kerjakan, kumpulkan; 4) bahasa guru melampaui tupoksi yang dimiliki: “Kalau tidak ikut pembelajaran, akan dikeluarkan atau Kalau tidak mengumpulkan tugas, akan tinggal kelas”; 4) standar penilaian terlalu tinggi, harus betul semua, dll.
Tidak bisa dipungkiri, sebagian siswa cukup kesulitan beradaptasi dengan model belajar daring yang mengharuskan mereka duduk lama di depan komputer. Hitungannya, kalau dalam satu haru belajar 3-4 mata pelajaran, minimal mereka harus memandang layar gadget atau laptop selama 5-6 jam ini belum termasuk mengerjakan tugas.
Jadi fenomena ghosting menjadi permasalahan klasik yang bisa menghinggapi hampir semua siswa. Pakar psikologi memaparkan: 1) hanya 10 menit siswa bisa mempertahankan konsentrasinya; 2) Setelah itu, fokus mulai berkurang dan perhatian akan teralihkan ke pikiran lain;
Kemudian, 3) setelah 10 menit berlalu, fokus bisa kembali hanya dalam hitungan detik saja; 4) setelah 30 menit, siswa akan kehilangan focus; 5) setelah itu, siswa mulai merasa lelah atau lapar, mulai gelisah, mulai ‘bemain main; 5) di menit 40 hingga 50, siswa sudah tidak bisa lagi mendengarkan kelas dengan seksama.
Oleh karena, guru harus ‘berusaha keras’ mempertahankan komunikasi dengan cara meng-update secara berkala hasil kerja siswa selama pembelajaran. Kalau bisa setiap 10 menit, guru ‘menyapa’ siswa: bisa memanggil nama, menanyakan apa kabar, menanya pemahaman siswa, meminta siswa menjelaskan kembali materi, dsb.
Pasca pembelajaran, men-share hasil tugas siswa ke grup kelas, agar siswa mengetahui hasil kerjanya. Jangan lupa share ke wali kelas mereka untuk ditindaklanjuti bila ada siswa yang tidak aktif.
Memang, pembelajaran daring tidak semudah yang dibayangkan.(*)
Penulis adalah: Pendidik di Madrasah*
Kota Jambi PPKM Level 4 , Semua Elemen Harus Bersatu Agar Level PPKM Di Kota Jambi Segera Turun



