Menilik Peran Penting Pertanian Di Era Pandemi Covid 19 Bagi Perkonomian Indonesia



Kamis, 19 November 2020 - 08:44:47 WIB



Oleh : Nico Parulian Manalu ( Mahasiswa Agribisnis, Universitas Jambi )

Dunia saat ini sedang menghadapi pandemi covid-19. Pandemi ini tidak semata-mata berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga sosial ekonomi masyarakat. Di sektor pertanian, Food And Agriculture Organization (FAO) sudah memperingatkan potensi krisis pangan global. Rantai pasokan pangan dunia juga terancam di tengah pemberlakuan karantina wilayah, pembatasan sosial, dan larangan perjalanan.

Kebijakan tiap-tiap negara dalam mencegah penyebaran covid-19 turut berimplikasi pada kebijakan pangan maupun kemampuan produksi mereka. Realitas itu menunjukkan, ketahanan pangan sama pentingnya dengan kesehatan masyarakat. Jika dokter dan tenaga medis ialah tentara dalam upaya melawan penyebaran covid-19, begitu pun para petani, penyuluh, dan insan pertanian lainnya.

Sektor pertanian harus menjadi kebutuhan prioritas dalam menghadapi penyebaran Covid-19 di Indonesia. Sektor ini tidak bisa dianggap remeh, karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar umat manusia. Selanjutnya yang paling penting dalam situasi seperti ini adalah adanya jaminan akses pangan yang mudah didapat dengan harga yang wajar atau normal bagi seluruh masyarakat. Penyebaran Covid-19 sangat berbahaya dan berdampak luas ke berbagai sektor. Salah satu imbasnya adalah terganggunya produksi petani di seluruh Indonesia yang mengakibatkan kurangnya kesediaan bahan pangan.

Covid-19 juga diprediksi akan memukul eksistensi sektor pertanian, jika perkembangan semakin meluas seiring dengan tidak disiplinya masyarakat dalam menerima himbauan pemerintah serta keterbatasan pemerintah dalam memaksimalkan pencegahan dan penanganan.

Peran penting sektor pertanian dalam perekonomian Indonesia dan dunia pada kasus pandemic covid-19 saat ini, diuraikan dalam 2 hal sebagai berikut :

  1. Kebermanfaatan Sektor Pertanian

Kebijakan penanganan Covid-19 di sektor pertanian harus mengacu pada prinsip-prinsip kedaulatan pangan dan memberikan kemakmuran petani di Indonesia. “Pada saat ini petani mulai panen, tapi serapan hasil panen petani dan nelayan sulit untuk diserap di pasar. Daya beli masyarakat berkurang.

Dan bahwasanya kini Indonesia memiliki aplikasi etanee Food Marketplace adalah platform rantai pasok digital untuk industri pangan dan pertanian yang menghubungkan pemasok, infrastruktur logistik, dan penjual yang terhubung langsung secara online kepada pembeli. Digital platform tersebut aktif melayani masyarakat untuk melakukan isolasi mandiri dirumah terkait wabah virus corona. Saat ini, Etanee memberikan pelayanan pesan antar produk hasil pertanian dan peternakan.

Kini masyarakat Indonesia tidak panik dengan stok pangan. Menurut hemat penulis masyarakat harus memanfaatkan kondisi saat ini sebagai peluang untuk sama-sama saling menyadari untuk menyokong kestabilan pangan indonesia. Saat ini yang menjadi tumpuan adalah petani lokal dan juga para pengirim (logistik) produk yang menjadi penolong saat kondisi susah. Mencintai produk lokal, petani lokal dan menggunakan aplikasi karya anak bangsa adalah langkah yang dapat kita ambil untuk menjaga kestabilan ekonomi.

  1. Ketahanan pangan

Ketahanan pangan adalah hal yang paling strategis bagi suatu Negara, karena pangan adalah hal yang terpenting bagi kehidupan manusia.. Pangan adalah sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan dan air baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumen manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.

Berdasarkan UU Pangan, 2012 bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi Negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Konsep ketahanan pangan dapat diterapkan untuk menyatakan situasi pangan pada berbagai tingkatan yaitu tingkat global, nasional, regional, dan tingkat rumah tangga serta individu yang merupakan suatu rangkaian system hirarkis. Hal ini menunjukkan bahwa konsep ketahanan pangan sangat luas dan beragam serta merupakan permasalahan yang kompleks. Namun demikian dari luas dan beragamnya konsep ketahanan pangan tersebut intinya bertujuan untuk mewujudkan terjaminnya ketersediaan pangan bagi umat manusia.                                                                                                                             

Bagi Indonesia, ketahanan pangan masih sebatas konsep dan masih banyak pihak yang menganggap bahwa pangan itu hanya sekedar sebagai komoditi yang sama sekali tidak bernilai baik itu secara sosial, maupun budaya . Pada kenyataanya, permasalahan ketahanan pangan di Indonesia masih terus terjadi, masalah ini mencakup empat aspek. Empat aspek tersebut adalah (1) aspek pertama ialah aspek produksi dan ketersediaan pangan, (2) aspek distribusi, (3) aspek Konsumsi dan (4) aspek ekonomi/kemiskinan.                                                                                                                       Ketahanan pangan menghendaki ketersediaan pangan yang cukup bagi seluruh penduduk dan setiap rumah tangga. Dalam arti setiap penduduk dan rumah tangga mampu untuk mengkonsumsi pangan dalam jumlah dan gizi yang cukup. Permasalahan aspek produksi diawali dengan adanya peningkatan hasil produksi pangan besar-besaran, namun disatu sisi ternyata penduduk masih kekurangan pangan. Aspek selanjutnya adalah aspek distribusi. Dari permasalahan di atas,  ada beberapa solusi yang dapat dilakukan oleh bangsa kita agar memiliki ketahanan pangan yang baik. Diantara solusi tersebut adalah sebagai berikut :

 1. Diversifikasi pangan.

Diversifikasi pangan adalah suatu proses pemanfaatan dan pengembangan suatu bahan pangan sehingga penyediaannya semakin beragam.           Untuk menuju ketahanan pangan diperlukan keberanian mengubah pola konsumsi dan melakukan diversifikasi pangan. Potensi ketersediaan singkong yang melimpah di bumi nusantara ini bisa menjadi alternatif andalan untuk mewujudkan ketahanan panga. Selain singkong Negara Indonesia memiliki banyak sumber bahan makanan pokok lain yang dapat dilakukan diversifikasi, diantaranya adalah sukun, ubi jalar, talas, sagu, kentang dan jagung.                                                                                                               

2. Mendukung secara nyata kegiatan peningkatan pendapatan in situ (income generating activity in situ).

Peningkatan pendapatan in situ bertujuan meningkatan pendapatan masyarakat melalui kegiatan pertanian berbasis sumber daya lokal. Pengertian dari in situ adalah daerah asalnya. Sehingga kegiatan peningkatan pendapatan ini dipusatkan pada daerah asal dengan memanfaatkan sumber daya lokal setempat. Kegiatan ini dapat mengikuti permodelan klaster dimana dalam penerapannya memerlukan integrasi dari berbagai pihak, diantaranya melibatkan sejumlah besar kelompok petani di beberapa wilayah sekaligus. Kegiatan ini juga harus melibatkan integrasi proses hulu-hilir rantai produksi makanan. Pertumbuhan dari kegiatan hulu-hilir membutuhkan dukungan dari teknologi.

3. Perlu dukungan Stakeholder dalam mengembangkan BUMP (Badan Usaha Milik Petani)

Stakeholder dalam mengembangkan BUMP (Badan Usaha Milik Petani) adalah Kelompok petani, Pemerintah lokal, akademisi dan Industri

4. Pengembangan Desa Mandiri Pangan,

Untuk program Pengembangan Desa Mandiri Pangan telah dimulai dari tahun 2006 dengan jumlah desa sebanyak 250 desa, tahun 2007 sebanyak 354 desa, tahun 2008 sejumlah 221 desa, dan 349 desa untuk tahun 2009 . jumlah total sampai awal tahun 2010 adalah 1174 desa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Pada tahun 2020 Program Pengembangan Desa Mandiri Pangan sudah mencapai 2100 – 2300 desa, Program Mandiri Pangan ini bertujuan untuk memberikan bantuan modal lunak kepada rumah tangga miskin agar dapat mengembangkan usaha yang bisa menghasilkan uang sehingga kebutuhan makanan dapat tercukupi. Dengan tercukupinya kebutuhan makanan, ketahanan pangan daerah tersebut menjadi meningkat.

Sebagai penutup hendaknya pemerintah dan petani memiliki peran penting dalam menstabil ketahanan pangan yang berupa : Diversifikasi Pangan, Kegiatan Peningkatan pendapatan in situ (income generating activity in situ), dukungan Stakeholder dalam mengembangkan BUMP (Badan Usaha Milik Petani), Pengembangan Desa Mandiri Pangan. Program ini adalah solusi menghendaki ketersediaan pangan yang cukup bagi seluruh penduduk dan setiap rumah tangga. Dalam arti setiap penduduk dan rumah tangga mampu untuk mengkonsumsi pangan dalam jumlah dan gizi yang cukup.(*)

 

 

 

 





Artikel Rekomendasi