Oleh : Ados Aleksander Sianturi
10 November adalah momentum penting dalam sejarah Indonesia yang diperingati setiap tahunnya sebagai hari pahlawan. Hari pahlawan ditetapkan dalam Keputusan Presiden nomor 316 tahun 1959 pada tanggal 16 Desember 1959 oleh Presiden Sukarno. Penetapan ini dilatar belakangi oleh terjadinya pertempuran besar – besaran di Surabaya melawan penjajah asing yang masih memiliki nafsu untuk menancapkan kekuasaannya di Indonesia.
Sejarah Singkat hari Pahlawan Pada tanggal 31 Agustus 1945 pemerintah Indonesia mengeluarkan sebuah maklumat. Maklumat tersebut berisi tentang pengibaran bendera sang saka merah putih di seluruh wilayah Indonesia yang dimulai pada tanggal 1 September 1945. Maklumat ini disambut gembira oleh seluruh rakyat Indonesia.
Wacana pengibaran bendera merah putih itupun digaungkan di seluruh wilayah Indonesia tak terkecuali Surabaya. Tak lama setelah itu, tentara Inggris mendarat di Jakarta dan mereka berada di Surabaya pada 25 September 1945.
Tentara Inggris tersebut tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) diiringi oleh tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Mereka datang dengan tujuan melucuti tentara Jepang dan memulangkan mereka ke negara asalnya. Parahnya niat ini ternyata semata – mata untuk mengembalikan Indonesia menjadi tawanan bangsa Belanda yang dimana Bangsa Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.
Hal ini tentu memicu kemarahan bangsa Indonesia ditambah lagi dengan pengibaran bendera Belanda di hotel Yamato yang mengakibatkan kemarahan mencapai stadium akhir. Mereka kemudian menaiki hotel Yamato dan merobek bagian berwarna biru dari bendera sehingga hanya tersisa warna merah dan putih saja.
Situasi pun kian memanas, akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi. Kemudian pada tanggal 29 Oktober 2019, pihak Inggris dan Indonesia menandatangani perjanjian gencatan senjata. Perjanjian ini sempat membuat keadaan menjadi stabil. Tak lama berselang setelah penandatanganan perjanjian itu, terjadi kesalahpahaman yang mengakibatkan tewasnya pimpinan tentara Inggris Brigadir Jenderal Mallaby.
Melihat hal itu, Mayor Jenderal Robert Mansergh yang betugas sebagai pengganti Mallaby pun tak tinggal diam. Dia mengeluarkan sebuah ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia bersenjata harus melapor serta meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan. Tak hanya itu, mereka pun meminta orang Indonesia menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas dengan batas ultimatum pada pukul 06.00, 10 November 1945.
Alih – alih takut dan gentar, Rakyat Indonesia di Surabaya malah sepakat dan bersatu untuk melakukan perlawanan besar – besaran. Melalui pidato Bung Tomo, semangat rakyat Indonesia kian memanas, berapi – api dan menggelora. Ribuan pejuang Indonesia dikerahkan dalam perlawanan itu. Akan tetapi hanya ada satu tujuan disana yaitu mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hingga akhirnya pecahlah pertempuran itu pada tanggal 10 November 1945 yang menyebabkan tewasnya ribuan pejuang Indonesia yang sekarang kita sebut sebagai pahlawan. Itulah alasan mengapa setiap tanggal 10 November kita memperingati hari pahlawan.
Makna Peringatan Hari Pahlawan Hari pahlawan diperingati setiap tahunnya dengan rangkaian acara yang berbeda – beda. Peringatan Hari Pahlawan tahun ini adalah yang ke 75 tahun. Peringatan tahun ini mengusung tema “Pahlawanku sepanjang Masa” yang akan dilaksanakan secara virtual untuk mengurangi penyebaran Covid 19. Tema ini sangat sarat akan makna tidak jauh berbeda dengan tema – tema yang diusung pada tahun –tahun sebelumnya. Semoga saja tema yang indah berbuah indah pula, mengingat peringatan tahun- tahun sebelumnya bagaikan angin lalu saja jika kita berkaca pada situasi negeri ini sekarang. Sangat tidak wajar jika di tahun ini peringatan hari pahlawan dilaksanakan tapi tidak disakralkan dan dihayati. Mengingat situasi negara yang kacau akhir akhir ini, dimulai dari pandemi covid 19, terguncangnya stabilitas ekonomi, pembuatan UU yang kontraversial, demonstrasi dimana – mana, penggusuran masyarakat adat, konflik agama, hingga rasisme yang sangat tidak selaras dan menjauh dari perwujudan cita – cita bangsa. Cukup menyedihkan.
Belakangan ini ritus memperingati Hari Pahlawan seperti mengalami distorsi. Kita bisa melihat sendiri bagaimana keadaannya. Makna yang berlimpah dari peringatan tersebut seakan tidak terlihat sama sekali realitas berbangsa dan bernegara. Makna peringatan hari pahlawan bukanlah hanya sekadar seremonial belaka seperti yang berlangsung selama ini. Hari pahlawan bukanlah untuk semata – mata mengingatkan kita akan sesuatu yang telah terjadi pada masa lalu melainkan untuk mengingatkan kita betapa susahnya untuk mempertahankan kekokohan negeri ini. Hari pahlawan juga bukan untuk sekadar mengingatkan kita pada peristiwa berdarah di Surabaya pada tanggal 10 November melainkan alarm pengingat sudah sejauh mana kita mewarisi nilai – nilai kepahlawanan tersebut.
Akan tetapi, kesadaran akan hal itu seakan keindahan yang terus dimimpikan tanpa adanya usaha untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari hari. Kita bisa melihat sekarang bagaimana makna dari peringatan hari pahlawan itu tak sedikitpun dihiraukan. Bisa dikatakan bahwa hari pahlawan adalah hari yang direnungkan sehari lalu dilupakan. Hari yang sarat akan makna perjuangan, ketulusan, dan pengorbanan hilang seiring bergantinya hari.
Dulu rakyat Indonesia hanya mempunyai beberapa pucuk senjata api dan selebihnya para pejuang menggunakan bambu runcing. Namun, tak sedikitpun mereka gentar sekalipun mereka tahu bahwa itu sama saja mendekatkan diri dengan kematian. Harta, tahta, kebahagiaan, bahkan nyawa mereka rela dikorbankan demi mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Pantaskah kita memperingati mereka tanpa mewarisi perjuangan mereka ?
Betapa kejamnya kita terhadap para pahlawan bila saat ini kita tidak menghayati makna perjuangan mereka. Betapa sadisnya kita jika sekarang kita hanya menundukkan kepala “hening cipta” tanpa sedikitpun “meneteskan air mata”. Betapa durhakanya kita bila kitayang menikmati kemerdekaan yang disajikan lupa akan pengorbanan mereka.
Penulis mengatakan demikian karena setiap tahun kita mengenang jasa para pahlawan. Namun terasa, mutu peringatan itu menurun dari tahun ke tahun. Kita sudah semakin tidak menghayati makna hari pahlawan. Peringatan yang kita lakukan sekarang cenderung bersifat seremonial.
Di era sekarang ini kita tidak lagi dihadapkan dengan penjajah, kita tak harus berjuang menggunakan senjata.
Kita hanya dituntut mengisi kemerdekaan dengan modal memiliki keteladanan para pahlawan, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari – hari. Sesederhana itu. Krisis Keteladanan Pahlawan
Bangsa ini telah memiliki 181 pahlawan nasional. Jumlah yang sebenarnya lebih dari cukup untuk kita jadikan sebagai sumber keteladanan yang dapat kita contoh dan aplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Akan tetapi kita sebagai penikmat kemerdekaan cenderung lebih suka menunjukkan sikap ketidakpedulian, berjuang untuk sebuah kekuasaan, dan nafsu keserakahan kepada bangsa ketimbang berlomba untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara ini sebagaimana yang telah dilakukan para pahlawan dahulu.
Bangsa Indonesia sekarang kini hidup ditengah krisis keteladanan pahlawan. Setiap tahunnya pemerintah Indonesia memberikan gelar pahlawan nasional kepada tiap – tiap yang berbakti pada Indonesia. Semestinya dengan semakin banyaknya “pahlawan resmi”, semakin banyak pula lah nilai – nilai keteladanan yang dapat kita ambil dan amalkan. Hal itu disebabkan karena banyaknya nilai luhur, dan semangat heroisme yang dapat kita ambil. Akan tetapi, kenyataan tak sesuai ekspektasi.
Gambaran sederhana dari krisis keteladanan dapat kita lihat melalui kaum kaum elite politik yang katanya hadir ditengah bangsa untuk menjadi seorang pemimpin yang bermartabat dan ingin membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Narasi kemajuan terus digaungkan guna memikat hati rakyat untuk memilihnya. Tentu, kita sebagai rakyat sangat mendambakan kemajuan sebagai langkah mengejar ketertinggalan dari bangsa lain. Alih-alih hadir sebagai pemimpin yang mendatangkan kesejahteraan, kaum – kaum tersebut lebih suka menonjolkan sikap kemunafikan dan keserakahan. Tak ada lagi hubungan mesra dengan rakyat saat sudah duduk santai di atas kursi kekuasaan. Hilang tak tahu kemana, janji tinggal janji. Ambisi politik menghalalkan semua cara untuk sebuah kepentingan dan kekuasaan. Nilai – nilai keteladanan kepahlawanan kerap ditinggalkan, perbedaan yang sangat tidak sesuai dengan pedoman bangsa kerap ditonjolkan. Kekuasaaan mereka letakkan dalam stan tertinggi, kegaduhan untuk mencapai kekuasaan itu pun seakan menjadi karya tiada henti. Sungguh tidak dapat dicontoh.
Terlihat jelas, kaum – kaum elite yang sudah duduk di kursi empuk kekuasaan tidak bisa menjadi pahlawan apalagi melahirkan pahlawan. Bagaimana tidak, mengambil inspirasi keteladanan dari pahlawan pun mereka tak pandai. Mereka yang diharapkan dapat bergotong royong untuk mencari solusi dalam setiap permasalahan bangsa Indonesia malah “gontok ruyung” saling mencari masalah tergantung kepentingan mereka sendiri. Oleh karena itu kedepannya kita harus bijak dalam menentukan pilihan terhadap pemimpin. Seseorang yang ingin jadi pemimpin dalam negara ini haruslah orang yang meneladani sikap kepahlawanan tersebut.Pemimpin yang berjuang untuk rakyat dan kemajuan bangsa Indonesia.
Tak hanya kaum elite kita sebagai masyarakat pun kerap abai untuk meneladani sikap – sikap para pahlawan tersebut.Kita masaih sering mengutamkan kepentingan kita sendiri, bersikap individualistis dan enggan memberikan peran dalam hal kepentingan orang banyak. Oleh karena itu, kita perlu melirik kebelakang dan memetik nilai – nilai tersebut untuk ditanam dalam sanubari kita.
Lantas, bagaimana kita sebagai rakyat biasa dapat meneladani sikap pahlawan yang telah gugur apabila pemimpin negara ini saja tidak menunjukkan sikap keteladanan para pahlawan? Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Presiden Sukarno mengatakan “ Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.” Jika kita ingin menjadi pribadi yang besar kita harus bisa menghargai, mengambil sikap yang patut diteladani, lalu diaplikasikan, dan prinsip ini ditanamkan dalam sanubari setiap warga negara. Jika ini berhasil, tak terelakkan lagi bahwasanya bangsa Indonesia akan menjadi suatu bangsa yang besar.
Banyak sekali sikap keteladanan para pahlawan yang kita harus warisi beberapa diantaranya yaitu, rasa cinta tanah air, berani membela kebenaran dan keadilan, berjiwa besar dan berpikir besar, rasa gotong royong, dan jiwa patriotisme. Kita tinggal memilih nilai – nilai mana yang ingin kita ambil dan terapkan. Kita harus rela mendedikasikan diri kita terhadap kepentingan orang banyak tanpa pamrih daan mengaharapkan imbalan apapun.
Kita harus mau belajar lebih giat lagi tentang nilai –nilai luhur keteladanan pahlawan dan bagaimana mengaplikasikannya dalam tindakan nyata. Hari Pahlawan adalah momentum yang tepat untuk memulainya.
Selamat Hari Pahlawan!(*)
penulis adalah: Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Jambi | Anggota GMNI Cabang Jambi
Selamatkan Negeri dari Ancaman Kedaulatan dan Perpecahan Umat
Maulana di Harla Pancasila: Implementasi Kampung Bahagia Wujud Semangat Nilai-Nilai Pancasila



