Oleh: Muhammad Beni Saputra*
Dalam laporan ‘The Future of Jobs’ terbarunya, organisasi non-pemerintah World Economic Forum (WEF) memaparkan beberapa jenis pekerjaan yang akan naik daun dan turun kasta di tahun 2025. 3 profesi yang sangat dicari di tahun tersebut adalah ilmuwan dan analis data (data analysts and scientists), spesialis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence, AI) dan pembelajaran mesin (machine learning), dan spesialis data besar (big data specialists). Sementara itu, 3 jenis pekerjaan yang akan turun pamor, dan kemungkinan secara perlahan akan menghilang, adalah penginput data (data entry clerks), sekretaris administrasi dan eksekutif (administrative and executive secretaries), dan juru pembukuan dan penggajian (bookkeeping and payroll clerks).
Dari enam jenis pekerjaan di atas dapat disimpulkan bahwa dunia kerja di masa yang akan datang akan lebih mencari individu yang menguasai komputer dan mampu menganalisis data. Adapun tenaga kerja yang tidak begitu dibutuhkan adalah mereka yang keahliannya sudah bisa digantikan teknologi.
Laporan WEF ini layak menjadi bahan renungan gubernur Jambi periode mendatang, meskipun konteksnya lebih berdekatan dengan negara yang memiliki infrastruktur industri modern. Disrupsi teknologi merupakan keniscayaan, bukan lagi kemungkinan, dan cepat atau lambat generasi milenial serta generasi Z di Jambi akan terkena imbasnya. Oleh karena itu, siapapun yang terpilih pada Pilkada Desember mendatang wajib mempersiapkan segalanya agar efek disrupsi teknologi dapat diantisipasi.
Ada beberapa langkah strategis yang patut dipertimbangkan.
Pertama, persiapkan kemampuan bahasa asing pemuda Jambi. Bahasa asing, terutama bahasa Inggris dan Mandarin, memungkinkan generasi muda Jambi melihat, memahami, dan berinteraksi dengan dunia luar. Mereka akan lebih mengetahui berbagai perkembangan teknologi di Silicon Valley atau Shenzhen. Tidak hanya itu, menguasai bahasa asing dapat meningkatkan kualifikasi sebab terdapat banyak sekali kelas-kelas gratis yang ditawarkan kampus besar dunia di internet. Hanya bermodalkan telepon pintar dan sedikit data internet, pemuda-pemudi Jambi dapat belajar AI, Big Data, atau Machine Learning tanpa perlu terbang ke luar negeri.
Secara umum, kemampuan bahasa asing mayoritas pemuda-pemudi Jambi masih mengenaskan. Minimnya kesempatan belajar adalah salah satu penyebabnya. Bahasa asing biasanya hanya tersedia di sekolah dengan jumlah jam yang terbatas. Tempat kursus pun tidak tersedia banyak dan terpusat di Kota Jambi atau di ibu kota kabupaten. Tentu ini menjadi kendala bagi pemuda-pemudi yang berdomisili di desa. Terlebih, kursus bahasa asing memerlukan biaya yang kadang tidak terjangkau oleh kebanyakan pemuda-pemudi Jambi.
Untuk mengatasi ini, gubernur terpilih nanti dapat mendirikan pusat-pusat belajar bahasa asing gratis atau berbiaya terjangkau di setiap kecamatan. Bila perlu di setiap desa. Pengajar bisa didatangkan dari Kota Jambi atau daerah lain. Ada banyak pemuda Jambi yang fasih berbahasa asing, dan beberapa dari mereka bahkan pernah belajar di luar negeri. Cara lain yang bisa ditempuh adalah melalui kerja sama dengan organisasi kepemudaan yang bergerak di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Terdapat banyak organisasi seperti ini di Indonesia yang siap membantu sesama anak bangsa tanpa mengharapkan pamrih. Mereka bisa mengajar jarak jauh melalui internet.
Kedua, kirim pemuda-pemudi Jambi belajar di kampus-kampus terbaik dunia. Gubernur baru nanti dapat melakukan pembinaan terhadap pemuda-pemudi Jambi yang cemerlang agar mampu bersaing memperebutkan beasiswa ke luar negeri. Ada banyak beasiswa yang ditawarkan kepada anak-anak muda Indonesia tiap tahunnya: lpdp, Fulbright, Australian Awards, DAAD, Chevening, dan sederetan lainnya. Harus diakui, masih sangat sedikit pemuda-pemudi Jambi yang memenangi beasiswa-beasiswa ini. Lpdp, misalnya, dari total 25.326 penerima beasiswa, Jambi hanya menyumbang 199 orang atau setara 0.8% dari persentase nasional. Angka ini lebih kecil dibandingkan capaian beberapa provinsi di Indonesia Timur seperti NTT (621 orang), Sulawesi Tenggara (285 orang), dan Papua (287 orang). Penghalang terbesar di balik rendahnya partisipasi pemuda-pemudi Jambi ini, selain ketidakcakapan berbahasa Inggris, adalah kurangnya pembinaan dari pemerintah daerah.
Gubernur baru nanti juga bisa membuat kebijakan pemberian beasiswa kepada pemuda-pemudi jambi untuk menimba ilmu di Oxford, MIT, Harvard, atau Manchester. Aceh, Riau, Papua, dan beberapa provinsi lain telah memiliki skema beasiswa luar negeri seperti ini.
Ketiga, gubernur pilihan warga Jambi nanti harus menghilangkan mindset akhirat-sentrisme. Dalam debat calon gubernur Jambi beberapa hari lalu didengungkan rencana pemberdayaan pesantren dan pembinaan hafiz quran. Meskipun ide ini patut diberi apresiasi, gubernur Jambi nanti harus juga lebih memperhatikan ‘persoalan dunia’. Jambi tidak saja butuh pemuda-pemudi yang pandai membaca kitab kuning atau melafalkan ayat-ayat Alquran, tetapi juga yang menguasai AI, Sosiologi, Matematika, Machine Learning, dan segenap ‘kecakapan duniawi’ lainnya. Hanya dengan begini akan tercipta masyarakat yang seimbang antara dunia dan akhirat. Dan yang lebih penting lagi, skill keduniaan akan mengurangi efek disrupsi teknologi.
Terakhir, gubernur baru nanti harus memperbaiki tingkat literasi pemuda-pemudi Jambi. Tak bisa dipungkiri, hanya segelintir kaum muda Jambi yang suka membaca. Jumlah yang mampu memahami bacaan dan menulis dengan baik juga bisa dipastikan jauh lebih kecil. Hal ini seharusnya menjadi kekhawatiran karena kemampuan literasi yang mumpuni memiliki peran sentral terhadap penguasaan informasi dan pengembangan berpikir kritis-analitis. Untuk mengatasi ini, gubernur terpilih nanti dapat membuat perpustakaan digital yang bisa diakses di mana saja melalui internet. Solusi lainnya adalah menjadikan balai desa pusat membaca dengan menyediakan buku-buku dalam berbagai topik. Kebijakan ini jauh lebih mulia dari skema bagi-bagi duit untuk desa seperti yang terdengar di debat tempo hari.
Dalam pengantarnya di laporan The Future of Job, pendiri WEF, Klaus Schwab, menegaskan bahwa penduduk dunia saat ini sedang berada di dalam momen yang mendesak. Keputusan dan pilihan yang diambil sekarang, imbuhnya, akan menentukan kehidupan dan pekerjaan generasi mendatang. Jambi masih memiliki waktu untuk memilih dan membuat keputusan untuk mengantisipasi segala efek buruk dari disrupsi teknologi. Langkah-langkah strategis harus dirancang dari sekarang, dan kebijakan-kebijakan pembangunan generasi muda harus diambil. Walau bagaimanapun, sumber kekayaan suatu daerah sesungguhnya, sebagaimana yang diutarakan oleh pemenang nobel ekonomi Joseph Stiglitz, adalah kreatifitas dan produktifitas warganya. Ini artinya, masa depan Jambi bukanlah sumber daya alam yang melimpah, seperti yang dibangga-banggakan dalam debat calon gubernur kemarin, tetapi generasi mudanya.(*)
Penulis adalah: Dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi*
Visi membangun, Perwujudan Sumpah Pemuda: Tuah Fachrori Umar Menterjemahkan Visi Misi Dalam Debat


Duka di Balik Wafatnya Dokter Magang di Jambi : Menkes Janji Tak Boleh Ada Lagi Nyawa yang Gugur

