Puisi Menyayat Hati Wakili Perasaan Walikota Jambi Fasha Buat Ananda Bian



Jumat, 25 September 2020 - 10:38:46 WIB



JAMBERITA.COM- M Fabiansyah, Putra Walikota Jambi meninggal dunia di Jakarta pada Senin (21/9/2020).

Kepergian putra bungsunya ini benar-benar membuat kehilangan.

Sebuah puisi yang dibuat Mutia Jurnalis, Penulis Jambi viral. Puisi buat Ananda Bian mewakili perasaan Walikota Jambi Syarif Fasha. Puisi yang penu haru ini banyak dibagikan sejumlah netizen.


Berikut puisinya.


Anakku...

Aku dan ibumu pernah punya impian tentangmu; sebagaimana impian yang kami sematkan dalam doa-doa untuk kakak dan abangmu.. Impian itu tak pernah pudar, meski kemudian di rumah sakit kau terkapar.


Anakku...

13 september saat kita sekeluarga terkonfirmasi terinfeksi Covid, dadaku langsung bergetar. Bukan, Nak. Bukan ketakutan kematian akan datang padaku yang kutakutkan. Sekuat hajat aku bermunajat; Tuhan jagakan keluargaku, Ibumu, kakakmu, abangmu dan kau teristimewa Nak...


Kecemasan padamu itu sudah lama ada Nak, di relung dada ayahmu ini.. Namun aku menegarkan diri. Bukankah kita tidak bisa menunda atau mempercepat ia yang bernama maut itu, meski sangat ingin... Siapalah kita Nak? Kekayaan dan kekuatan seperti apa yang bisa mengelakkan kematian? Tak ada, Nak. Di titik ini, kita diuji atas nama penghambaan yang pasrah dan tawakkal... Kami ridho; setidaknya kami mencoba, Anakku...


Sebagaimana kami mencoba saling menguatkan saat kabar kepergianmu sampai juga ke telinga kami. Demi Allaah, maafkan aku, Nak.. Maafkan Ibumu pula. Di detik paling genting hidup matimu, kami justru tak ada disampingmu. Kadang aku berpikir, andai saat kritismu, ada ibumu yabg menggenggam tanganmu, menguatkanmu dalam bisikan, "Bian kuat, Nak. Berjuanglah. Kami ada di sini menunggumu..." Ah! Barangkali saat gelap peralihan hidup dan mati itu kau begitu merindukan suara ibumu. Barangkali.. Terlalu banyak barangkali yang menyesak dadaku, Nak! 


Anakku...

Kau pergi. Kau pergi di tengah gempuran pandemi. Sesuatu yang amat kujaga paparannya itulah akhirnya yang justru mengambilmu dari kami. Apakah selama ini aku terlalu jumawa, Anakku? Kau terbujur kaku dengan senyum ikhlas di sudut bibirmu. Kau tampan, Nak. Sosokmu mewarisi penuh garis-garis wajah ibumu. Dan aku tercekat; Rabb-ku, benarkah ini akhirnya? Benarkah yang terbujur kaku dan tak dapat kusentuh lagi ini anakku? Bianku?


Anakku...

Kuingat di hari-hari jelang kelahiranmu, aku dan ibumu mendiskusikan nama yang akan kami sematkan padamu. Sampai kami sepakat menyematkan nama Muhammad Fabiansyah Putra sebagai nama kebesaranmu. Ada banyak doa dan harapan di nama itu. Tak percaya rasanya, Nak.. Aku pula yang kembali menuliskan namamu -- tapi kali ini di kayu pusara sebagai penanda jasadmu ada tertanam di bawahnya. Jangan tanya remuknya hatiku, Sayang. Andai ada yang bisa kulakukan untuk menjemputmu kembali pulang. Kupastikan akan kulakukan meski harus bertukar ruang...


Saat yang paling meremukkan dada ayahmu ini, saat menegarkan hati mengazanimu. Kilatan bayangan saat mengazanimu di momen berbeda -- kelahiranmu di dunia, bermain-main di pelupuk mata. Aktifitas yang sama, Anakku. Azan menyambutmu ke dunia dan kali ini azan melepasmu kembali ke haribaan-Nya. Betapa kau, biji mataku sayang -- sebenar-benarnya hanya 'pinjaman' dariNya. Dan kami harus ikhlas saat Dia memintamu kembali dari kami. Duhai Rabb, ampuni kami yang terlanjur amat menyayangi dan menganggapnya hanya milik kami selama ini...


Anakku..

Selamat jalan, Sayang...

Di detik kau dimasukkan ke peti itu, kami tahu kami tak akan pernah bisa lagi melihat wajah manismu yang lucu. Kesayangan kami. Kami juga terus berjuang melawan pandemi. Tapi perjuangan itu tak lebih berat dari berjuang mengikhlaskan kepergianmu. Kadang terbersit ingin melakukan pembiaran agar kita bisa bersama-sama lagi. Tapi aku tahu itu bukan keinginanmu. Kau pasti akan menentangku. Kau pasti ingin aku menjaga ibumu...


Ah ya, Anakku.. Jangan kau tanya bagaimana tak berdayanya ibumu... Perempuan yang telah melahirkanmu itu mencari kekuatan dengan menatapi kedua manik mata kakak dan abangmu; mencoba mencari alasan untuk tetap bertahan. Ia bagai pejalan buta yang kehilangan tongkat. Iba melihatnya, Sayang. Ingin kurengkuh Ibumu sekedar berbagi kekuatan. Tapi seragam-seragam penahan infeksi jahanam ini menjadi penghalang. Dunia, adakah kesakitan yang lebih merobek rasa? Saat aku tinggalkan ia sendiri tiada sesiapa di sana - di bawah pusara...


Jambi 24 September 2020


Untuk Muhammad Fabiansyah Putra bin Syarif Fasha. Al Fatihah????









loading...