Napak Tilas Jejak Khilafah di Nusantara (Reportase Acara)



Sabtu, 22 Agustus 2020 - 16:19:23 WIB



Oleh. Tri Wahyuningsih, S.Pi (Pegiat Literasi dan Media)

Gala premier perdana film Jejak Khilafah di Nusantara yang telah sukses terselenggara pada hari Kamis 20 Agustus 2020 atau bertepatan dengan 1 Muharam 1442 H, dari pagi hingga siang hari tadi.

Antusiasme masyarakat atas hadirnya film yang mengangkat tema sejarah ini, sungguh sangat luar biasa, lebih kurang 250.000 orang telah mendaftarkan dirinya melalui link tiket yang tersedia. Dan ini perdana di dunia, tiket penayangan premiere film dokumenter dipesan ratusan ribu orang.

Acara yang direncanakan akan dimulai pukul 09.00 WIB, terpaksa harus mundur lebih kurang selama satu jam, dikarenakan ada pihak yang mengganggu dan membuat distraction. Ya banyak pihak yang senang dengan film ini, namun banyak juga pihak yang tidak senang dan berusaha menghalang-halangi tayangan Film JKDN.

Namun, dengan doa orang-orang shalih dan Allah memberikan pertolongan atas Syiar dan dakwah ini, gala premier film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara dapat berjalan hingga akhir acara. Dalam segmen Greeting Speech Premiere Film Jejak Khilafah di Nusantara, Ustadz Rokhmat S. Labib menyampaikan bahwa Penetapan kalendernya Tahun Baru Islam ditetapkan ketika 'Umar bin Al-Khattab menjadi Khalifah (13-23 H/634-644 M), setelah beliau melakukan musyawarah dengan para Sahabat Rasulullah salla-Llahu 'alaihi wa sallama.

Yang dijadikan dasar bukan hari kelahiran Nabi, juga bukan wafatnya Nabi, yaitu 12 Rabiul Awal, tetapi Hijrah Rasulullah Saw. Dan yang harus dipahami kaum muslim adalah Hijrah Rasulullah Saw dari Makkah ke Madinah, bukan hanya Hijrah sebagai Nabi atau Rasul, tapi juga sebagai Kepala Negara. Maka, Peringatan tahun Hijriyah menjadi bermakna saat umat Islam sadar kini dalam kondisi lemah dan tertindas. Sadar bahwa untuk kembali mulia hanya dengan tegaknya khilafah.

Khilafah jugalah yang menyebarkan Islam ke seluruh dunia, termasuk meninggalkan jejaknya di Nusantara. "Kepalkan tangan, arahkan ke atas. Teriakkan pekik: Allaahu Akbar!!!" tutup Ustadz Rokhmat S. Labib. Kemudian acara dilanjutkan dengan Talk Show yang menghadirkan tiga orang Narasumber yakni, Ustadz Ismail Yusanto (Penasihat Komunitas Literasi Indonesia), Bung Nico Pendawa (Sutradara Film, KLI) dan Bung Septian (Sejarawan muda, KLI).

Narasumber pertama yakni Ustadz Ismail Yusanto mengatakan bahwa Film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) mempunyai peran penting untuk mengungkap kebenaran yang dikaburkan bahkan dikuburkan.

Maka penting bagi kita untuk menggali kebenaran, masa lalu itu kunci untuk menghadapi masa depan, kita harus menggali kebenaran dan apabila bisa diungkap kita bisa mendapatkan ibrah, makanya adanya film ini, untuk menimbulkan sejarah yang benar,” Beliau juga mengatakan bahwa sejarah itu sebagai obyek pemikiran yang bisa memperkuat pemikiran yang kita anut, semisal kita sebagai Muslim memahami bahwa Khilafah adalah bagian dari sejarah Islam.

“Jadi ini adalah objek dari ajaran, bukan hanya khayalan, dengan adanya sejarah itu untuk memperkuat menjadi bukti. Ini memperkuat ajaran kita juga, seperti yang dipahami oleh orang Islam bahwa Khilafah itu bagian dari ajaran Islam dan ada sejarahnya juga,” pungkas Ustadz Ismail Yusanto.

Selanjutnya, Ustadz Muh. Karebet Widjajakusuma sebagai host, dengan gaya khas nya mengulik lebih jauh tentang Film Jejak Khilafah di Nusantara ke Bung Nico Pandawa dan Bung Septian sebagai 2 orang yang memiliki peran penting dalam terciptanya Film dokumenter ini.

Nicko Pandawa sebagai Director and Script Writer Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN) menyampaikan bahwa secara akademis, film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara ini sudah melalui tahapan riset verifikasi yang akademis yang Insyaallah sudah kita pertanggungjawabkan.

Menurutnya, berlandaskan dengan riset yang sudah dilakukan dari sumber primer dan sekunder, datanya juga data pustaka juga lapangan, dan itu tersebar dari ujung Sumatera dan sampai daerah timur Ternate dan sebagainya.

Nicko menjelaskan dalam ilmu sejarah yang awal-awal itu, yang harus dilakukan adalah yuristik (mencari sumber) yang tentu temanya itu diambil berdasarkan dengan apa yang ditetapkan. “Jadi ruang kita itu harusnya se-Asia Tenggara karena kaum Muslimin di Asia Tenggara ini bukan hanya sebatas Indonesia saja tapi juga Nusantara, dan itu adalah proses yang awal yursitik,” jelasnya.

Kemudian, lanjut Nicko, diverifikasi dan dari data-data yang dikumpulkan, lalu dikritik mau dari internal maupun eksternal. Atau kritik barang atau benda yang didapatkan sama dengan penelitian. Setelah itu melakukan proses interpretasi yaitu proses meneliti atau menerjemahkan sumber-sumber yang didapatkan untuk dijadikan sebuah narasi atau videografi yang dikemas dengan berbeda dari yang lazim dilakukan oleh para akademisi.

“Yang kita tahu bahwasanya akademis itu menyalurkan penelitian itu dari tesis, skripsi dan literasi. Cuma karena target kita ini adalah masyarakat umum, kaum Muslimin pada umumnya yaitu dari berbagai macam latar belakang, dan kita ingin menghadirkan sebuah penelitian yang dicerna oleh semua pihak yaitu dengan cara audio visual,”ujarnya.

Hampir senada pula dengan apa yang disampaikan oleh narasumber ketiga, Script Writer film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) Septian AW menyatakan sebelum JKDN, selama ini belum pernah ada yang menggambarkan secara detail bagaimana hubungan Kekhilafahan Islam yang pernah menjadi adidaya dunia dengan umat Islam di Nusantara yang nantinya menjadi bagian dari perlawanan penjajahan di Nusantara.

“Saya ingin menghadirkan riwayat Khilafah ini di tengah-tengah masyarakat, melalui film dokumenter hubungan Khilafah dengan Nusantara (JKDN),” ujarnya. Film ini juga hadir untuk menjawab tantangan zaman. Bahwa dewasa ini Khilafah kembali diperbincangkan di Indonesia maupun dunia, semua isi dalam film ini bisa dipertanggungjawabkan secara akademis.

“Meski saat ini ada sentimen karena ada kata Khilafahnya, ada persoalan politik, tapi paling tidak saya ingin memastikan bahwa ini adalah tontonan yang akademis dan ilmiah meski dengan narasi ringan, dan audio visual, dan ini bisa dipertanggung jawabkan secara akademis, kalau dikatakan ini adalah propaganda itu tidak relevan,” pungkas Septian.

Sebelum masuk ke acara inti yakni pemutaran perdana Film documenter Jejak Khilafah di Nusantara, Host yakni Ustaz Muh. Karebet Widjajakusuma menekankan kembali bahwa Film ini sangat penting untuk ditonton. Karena sejarah adalah ibroh (pelajaran) bagi orang yang mau berpikir (Ulul albab).

Dan sejarah telah menunjukkan bahwa jejak khilafah itu ada di Nusantara. Dan film documenter yang ditunggu-tunggu pun tayang, dengan durasi kurang lebih 60 menit. Film ini betul-betul mengungkap sejarah yang selama ini terkubur. Begitu eratnya ternyata hubungan antara kekhilafahan Islam, sejak masa Bani Abassiyah hingga kekhilafahan terakhir kaum muslim, kekhilafahan Ustmaniyyah.

Hampir seluruh wilayah Nusantara dari Aceh, Lampung, Palembang, Pulau Jawa hingga ujung timur Nusantara, Kalimantan, Buton dan lain sebagainya, telah menjalin hubungan baik dengan kekhilafahan kaum muslim, mengirim dan menerima utusan untuk mengajarkan Islam serta membantu kaum muslim nusantara mengusir penjajah pada waktu itu.

Dalam film ini juga dinampakkan bukti-bukti otentik yang menunjukkan adanya jejak khilafah di nusantara, berupa makam para sultan keturunan Khalifah, manuskrip-manuskrip atau surat-surat yang dibawa oleh utusan Khalifah untuk menyampaikan dakwah Islam di Nusantara.

Dan berbagai bukti pasti lainnya yang sangat terang menjelaskan hubungan erat Khilafah Islam dan Nusantara. Setelah pemutaran Film JKDN episode satu (1) ini, acara dilanjutkan dengan sesi talk show dan diselengi testimoni dari beberapa tokoh daerah.

Salah satunya dari Gresik, Ustadz Imam yang sedang berada di depan makam Sunan Giri menyampaikan bahwa Ini (Makam Sunan Giri) merupakan bukti dan fakta sejarah yang tidak bisa ditutup-tutupi. Saya mengapresiasi fakta sejarah dalam film Jejak Khilafah di Nusantara ini. Bahwa kerajaan-kerajaan di Nusantara itu masih mempunyai hubungan dengan Khilafah Turki Utsmani. Artinya, dakwah dan khilafah bisa diterima para penguasa di negeri ini. [Wallahu’alam]





Artikel Rekomendasi