Menelusuri Jejak Islam di Nusantara dan Jambi



Jumat, 21 Agustus 2020 - 10:38:15 WIB



Farah Sari, A.Md
Farah Sari, A.Md

Oleh: Farah Sari, A.Md*

 

 

Sejarah islam di Nusantara tidak  bisa dilepaskan dari eksistensi dan peran Khilafah Islamiyyah. Begitu juga dengan sejarah keterikatan Jambi, sebagai bagian dari wilayah Nusantara dengan Islam dan Kekhilafan Islam. Museum Negeri Jambi banyak menyimpan benda bersejarah. Menurut data yang ada koleksi benda-benda bersejarah Museum Negeri Jambi berjumlah sekitar 2.855 buah.

Medali emas bersegi tujuh dari Turki (Khilafah Utsmaniyah) merupakan salah satu dari lima koleksi utama yang menjadi icon museum selain 2 buah arca Avolokiteswara yang terbuat dari emas, sabuk emas dan kalung emas.

Medali bersegi tujuh ini berbentuk seperti matahari terbit dengan dihiasi tujuh buah bintang dan bulan sabit kecil di sekelilingnya. Di tengah medali, terdapat bundaran warna merah, bertuliskan huruf Arab. Salah satunya adalah angka yang menunjukkan tahun, yaitu 1298 H. Diduga, itu merupakan tahun disaat medali itu diserahkan Khalifah.

Medali ini menjadi bukti adanya hubungan kesultanan Jambi dengan kekhilafahan turki Utsmani. Medali atau Bintang penghargaan Kesultanan Turki sebagai regalia Kesultanan Jambi berada di Jambi, tepatnya di Museum Negeri Jambi sejak 31 Mei 2002. Sebelumnya regalia kesultanan itu berada di Kemaman, Terengganu, Malaysia, disimpan di kediaman Engku Zubir Bin Engku Ja'far. Ungkap Budi Prihatna seorang museolog yang bekerja di Museum Perjuangan Rakyat Jambi. (kajanglako.com,11/0/17)

Hubungan yang terjalin ini juga menjadi kunci perjuangan di Nusantara termasuk kesultanan Jambi melawan penjajahan.

Untuk menghadapi Belanda, Jambi meningkatkan persiapan pertahanan dan perlengkapan perjuangan di dalam dan mengadakan kegiatan hubungan dengan luar negeri.

Pangeran Ratu Martha Ningrat diperintahkan Sultan dengan beberapa orang pengiring, berangkat melalui Singapura menuju Turki, guna mengadakan perundingan dengan pemerintah di sana. Dalam hal diantaranya, pengakuan atas kerajaan Islam Jambi di bawah pimpinan Sultan Taha Saifudin dan bantuan senjata kepada Jambi dalam menghadapi Belanda penjajah itu, sebagai kerjasama dalam blok Islam.

Muhibbah ini berhasil dan sebagai pengakuan Kerajaan Turki, Sultan Turki menyerahkan bintang tertinggi Kerajaan Turki kepada Pangeran Ratu Amarta Ningrat untuk minta disampaikan kepada Sultan Taha Saifudin.

Dalam bantuan militer, oleh karena jarak kedua negara ini sangat berjauhan yang tidak dapat dengan mudah dijangkau dengan cepat, apalagi tentunya ada blokade pemerintahan Belanda. Untuk tahap pertama, pemuda agama dalam rombongan itu tidak ikut pulang dan masuk dalam rekrutmen angkatan bersenjata Turki untuk menerima latihan perang sebagai biang atau menjadi instruktur pelatihan nantinya di Jambi dalam perang menghadapi Belanda. (jambiindependent.co.id, 14/3/20)

Untuk itu sangat penting menggali kembali  jejak sejarah khilafahan di Nusantara termasuk di Jambi. Hal ini bertujuan untuk menolak anggapan bahwa, perjuangan menegakkan khilafah adalah perjuangan yang tidak pernah ada sejarahnya atau  ahistoris. Padahal bukti sejarah telah menegaskan bahwa hubungan kekhilafan Islam dan Nusantara adalah sebuah fakta sejarah yang tidak bisa dihapuskan.

Kesultanan Islam di Nusantara termasuk di Jambi yang memiliki hubungan dengan Khilafah Islamiyyah, seharusnya tidak hanya sekedar menjadi romantisme sejarah. Karena pembelaan Khalifah kepada muslim yang didzholimi para penjajah telah terbukti. Karena Para Khalifah memahami apa yang dikatakan Baginda Nabi SAW dari Imam Muslim dari al-A’raj dari Abu Hurairah- : “Sesungguhnya imam (khalifah) itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.”

Atas dasar inilah Khalifah memberi bantuan dan dukungan kepada Nusantara termasuk Jambi agar bisa lepas dari kafir penjajah. Hubungan historis antara Khilafah Islamiyah dengan para sultan di Nusantara khususnya wilayah Sumatera sudah lama terjalin erat dan harmonis. Bahkan dalam perkembangan penelitian Sejarah Islam di Nusantara diyakini bahwa Islam sudah masuk wilayah Nusantara ini adalah pada abad ke-7 bukan abad ke-13.

Beberapa lembar fakta sejarah terbaru terhadap jejak penerapan syariah di Nusantara khususnya wilayah Sumatera telah mencatat dengan jelas dan otentik mengenai jalinan kerjasama para Sultan dengan Khilafah Islamiyah. Pada tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman pernah mengirim surat kepada khalifah Umar bin abdul Aziz dari Khalifah Bani Umayah meminta dikirimkan da’i yang bisa menjelaskan Islam kepadanya.

Surat itu berbunyi: “Dari Raja di Raja yang adalah keturunan seribu raja, yang isterinya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Allah. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukum-Nya.”

Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama 'Sribuza Islam'. Sayang, pada tahun 730 M Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Budha.

Hal yang juga tidak kalah penting saat ini adalah kebutuhan akan hadirnya seorang Khalifah. Ditengah kondisi Nusantara dan dunia yang mengalami krisis multidimensi. Harapan akan hadir seorang pemimpin yang melindungi   dan memberikan jaminan kesejahteraan pada umat  manusia umumnya dan muslim khususnya.

Saat ini terjadi krisis multidimensi yang tak kunjung menemukan solusi. Sehingga dengan kehadiran seorang Khalifah yang menerapkan syariat Islam yang datang dari Allah SWT akan menjadi solusi tuntas atas problematika kehidupan ini.

Kedamaian dan kesejahteraan yang pernah terwujud dalam sejarah penerapan syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah itu telah diungkapkan secara jujur oleh Will Durant seorang sejarawan Barat :

"Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas, dimana fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan tersebar luas, hingga berbagai ilmu, sastra, filsafat dan seni mengalami kemajuan luar biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad."

Keagungan Khilafah Islamiyyah itu kini menjadi harapan dan cita-cita umat. Hal ini bisa terjadi karena adanya berbagai aktivitas dakwah yang dilakukan oleh kelompok dakwah ideologis. Kelompok dakwah yang bertujuan melanjutkan kembali kehidupan Islam  yang dulu pernah ada.

Mereka bersungguh-sungguh melakukan penyadaran ditengah-tengah masyarakat. Jadi wajar saja akan muncul antusiasme masyarakat terhadap opini khilafah dan perjuangan penegakkannya. Antusiasme yang datang hampir dari seluruh penjuru negeri-negeri muslim dunia. Meski musuh-musuh Islam dan kafir penjajah Barat terus berupaya menghadang kebangkitan Islam. Tapi yakinlah janji kemenangan atas kaum muslim adalah pasti dari Allah SWT. Janji akan kembali tegaknya Khilafah Islamiyyah.

Allah SWT berfirman: "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS An Nur : 55)*

 

 

Penulis adalah: Aktivis Dakwah Islam, Jambi*



Artikel Rekomendasi