Oleh: Muhammad Beni Saputra*
Tempo hari adik saya menampilkan gambar hamparan padi yang tengah menguning di status WhatsApp-nya. Padi itu tak lain adalah hasil jerih payah orang tua kami yang tetap teguh meneruskan tradisi lama: Beumo. Harus diakui, beumo tidak lagi begitu digandrungi oleh banyak penduduk desa di Jambi. Payo pun sudah banyak tertutup rumput bento karena si pemilik lebih memilih membeli beras ketimbang berpanas-panas menanam padi. Jika sebelumnya pergeseran gaya hidup ini bukanlah perkara serius, tapi tidak untuk kali ini. Krisis ekonomi serta ancaman kelangkaan bahan pangan sudah di depan mata. Tidak dapat tidak, kita mesti kembali ke sawah agar selamat dari bencana kelaparan akibat corona.
Tidak ada yang bisa memastikan kapan covid-19 berhenti menjangkiti manusia. Selama vaksin atau obat yang tepat belum ditemukan, selama itu pula virus menular itu akan bergentayangan. Berita buruknya adalah vaksin baru kemungkinan akan tersedia dalam 12 sampai 18 bulan ke depan. Itu pun belum tentu ampuh. Artinya, masa-masa kelam akibat covid-19 seperti physical distancing, penutupan gerai-gerai bisnis, peniadaan salat Jumat, pelarangan pesta pernikahan, dan peliburan sekolah akan berlangsung sampai waktu yang tidak diketahui. Kita akan hidup dalam ketidakpastian, termasuk memastikan jika esok hari, lusa, bulan depan, atau tahun depan kita masih memiliki beras untuk dimakan.
Ini bukan untuk menakut-nakuti. Berbagai lembaga dan pakar ekonomi bersepakat jika perekonomian dunia, termasuk Indonesia tentu saja, akan terjun bebas ke titik terendah. Dalam pidatonya, Managing Director Lembaga Keuangan Dunia, IMF, Kristalina Georgieva, menyebut covid-19 sebagai ‘a crisis like no other’ atau krisis yang tidak seperti biasanya, mengingat kedalaman dan durasinya yang masih belum diketahui. IMF juga meramalkan bahwa ekonomi dunia di tahun 2020 akan mengalami goncangan hebat, paling dahsyat setelah Depresi Besar (The Great Depression), krisis ekonomi parah yang berlangsung di tahun 1930-an. Pemerintah memprediksi sekitar 3.78 juta masyarakat Indonesia akan jatuh miskin, sedangkan 5.2 juta lainnya akan kehilangan pekerjaan. Angka ini tentu saja akan terus melonjak, mengingat banyak pekerja di sektor informal yang terus kehilangan sumber pendapatan akibat lesunya aktifitas ekonomi. Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani, bahkan mengakui jika krisis yang sedang melanda saat ini lebih kompleks dari krisis tahun 1997-1998 dan 2008. Dalam tataran global, saat ini sudah lebih dari 90 negara mengajukan pinjaman ke IMF untuk memperkokoh bangunan ekonomi yang kian rapuh diterjang corona.
Banyak negara juga sudah mulai proteksionis dengan menyetop ekspor bahan pangan ke luar negeri. Hal ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan dalam negeri selama beberapa bulan ke depan. Vietnam sebagai salah satu eksportir beras terbesar ke Indonesia termasuk ke dalam daftar ini. Organisasi Pangan dan Pertanian, FAO, memprediksi akan ada kenaikan harga beras. Sebagai langkah antisipatif pemerintah menyiapkan sagu. Tentu belum pasti apakah persediaan sagu cukup untuk mengisi seluruh perut orang Indonesia. Sagu pun belum tentu cocok, terlebih bagi rakyat Jambi yang sudah ketergantungan nasi sejak bayi.
Lesunya ekonomi telah dirasakan masyarakat Jambi. Harga karet kian merosot sampai ke angka Rp 3.500 per kilo, pedagang sepi pembeli, tukang ojek kehilangan pelanggan, dan beberapa mall merumahkan karyawan. Harapan kini tersemat pada komoditas sawit yang menunjukkan kenaikan harga dalam beberapa hari terakhir.
Dalam hal pangan Jambi adalah salah satu provinsi yang rentan. Data menyebutkan jika provinsi yang memiliki tanah yang cukup luas itu menempati urutan ke 5 sebagai daerah yang ketahanan pangannya paling rendah di Indonesia. Dua kabupaten, yaitu Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat termasuk dalam kategori rawan pangan, sedangkan 50 desa di Jambi berstatus sangat rentan. Pertumbuhan penduduk Jambi yang di atas rata-rata nasional tidak dibarengi dengan penambahan luasan sawah. Bahkan dalam kurun waktu 2003 sampai 2015 luas sawah Jambi terus berkurang dari 120.552 ha ke 94.735 ha. Ketimpangan ini merupakan pertanda jika Provinsi Jambi tidak menaikkan produksi beras meskipun penduduknya bertambah. Ini artinya, Jambi boleh dikatakan dalam kondisi tidak siap kalau-kalau kelangkaan beras benar-benar terjadi.
Di tengah ancaman krisis ekonomi dan kelangkaan bahan pangan akibat pandemi covid-19, sudah saatnya kita berbenah. Mulai hari ini kita harus kembali ke umo agar dalam bulan-bulan ke depan kita terselamatkan dari bencana kelaparan. Tanah yang tersedia di pekarangan, di belakang rumah, apa lagi kebun yang terbengkalai dari sekarang mesti ditanami. Ditanam apa saja yang bisa menjadi lauk nasi. Dalam keadaan krisis kita tidak bisa berharap banyak kepada pemerintah, apalagi untuk memberi makan 260 juta penduduk Indonesia. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jambi yang ‘hanya’ 1.6 triliun Rupiah juga bukan angka yang besar karena alokasinya bukan hanya untuk memberi makan 3.5 juta penduduk Jambi selama berbulan-bulan.
Hari-hari yang akan kita lalui penuh dengan ketidakpastian. Saat ini kita masih ada waktu untuk mempersiapkan diri dari hal terburuk. Ini kedengarannya memang paranoid. Tapi dalam menghadapi krisis persiapan matang merupakan prasyarat agar selamat, sebagaimana yang diajarkan oleh orang tua kita dulu, “Kurang sisik rumput menjadi, kurang siang jelupung tumbuh”. Tidak ada lagi waktu yang lebih tepat kembali ke umo selain hari ini. Payoh!(*)
Penulis adalah: Akademisi Universitas Sulthan Thaha Saifuddin Jambi*
Orang tua Hebat: Pandemi Covid-19 Menciptakan Atmosfer Keluarga yang Kolaboratif
Optimalisasi CSR untuk Bantuan Masyarakat Terkena Dampak Covid-19


Pangkas Hambatan Investasi, Kemenkum Jambi Pastikan Aturan Baru di MPP Tak Tabrak Hukum



