Cerita Desa Rantau Rasau 1 Jadi Saksi Transmigrasi Pertama Di Provinsi Jambi



Kamis, 05 Maret 2020 - 19:38:18 WIB



JAMBERITA.COM, MUARA SABAK - Transmigrasi merupakan program unggulan yang dicanangkan di era Presiden Sukarno dan Suharto untuk pemerataan penduduk di pulau Jawa ke pulau - pulau di luar Jawa termasuk di pulau Sumatera. Provinsi Jambi masuk bagian dalam program transmigrasi sejak era presiden sukarno.

Kisah sejarah terkait transmigrasi di Provinsi Jambi ternyata tersimpan di salah satu Desa di Kabupaten Tanjabtim. Mungkin banyak yang belum mengetahui, ternyata gelombang transmigrasi pertama di Provinsi Jambi berada di Kabupaten Tanjabtim, tepatnya di Desa Rantau Rasau 1, Kecamatan Rantau Rasau yang mulai sejak tahun 1967.

Mbah Yatin (80), sebagai pelaku kepala keluarga transmigrasi pertama dari pulau Jawa mengatakan, mereka pertama kali datang ke Kabupaten Tanjung Jabung bersama 50 KK lainnya, 49 kk murni peserta transmigrasi dan 1 KK sebagai kepala proyek sebutan sebagai kepala rombongan transmigrasi utusan dari pemerintah.

Para rombongan transmigrasi ini rata - rata berasal dari beberapa Kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah dan sebagian lagi berasal dari Provinsi Jawa Barat.

Tidak mudah menempuh perjalan dari Jawa hingga datang ke lokasi ini, sebelum diberangkatkan ke Provinsi Jambi, 49 KK ini ditampung terlebih dahulu di Jakarta selama 1 minggu, kemudian diberangkat menggunakan kapal laut.

"Selama perjalanan dari pulau Jawa menuju Provinsi Jambi, itu memakan waktu 1 bulan lebih baru kami sampai ke lokasi ini," ujarnya

Datang ke daerah yang masih asing bukan perkara mudah, mereka dihadapkan dengan hutan belantara dengan berbagai macam binatang buas seperti harimau, beruang dan berbagai macam hewan lainnya. Hal itu tentu menjadi ancaman yang setiap hari dihadapi mereka, belum lagi ransum yang terbatas membuat mereka harus survive bertahan hidup.

"Selama 7 bulan pertama dari kedatangan kami di lokasi transmigrasi ini, kami mendapat jatah konsumsi setiap bulannya. Kalau terlambat, kami yang jemput sendiri ke Kota Jambi," ungkapnya.

Setiap kepala keluarga mendapat jatah tanah dua hektar, seperempat hektar dialokasikan untuk tempat tinggal dan pekarangan dan hampir dua hektar digunakan untuk bercocok tanam, lahan yang diberikan pemerintah untuk 49 anggota transmigrasi digunakan sebagai lahan pertanian. Namun sayang, hingga saat ini lahan pertanian yang menjadi unggulan perlahan mulai tergerus dan alih fungsi lahan perkebunan sawit dan kelapa.

Kepala Desa Rantau Rasau, Deni Permana yang merupakan cucu dari salah satu 50 anggota transmigrasi ini menjelaskan, saat ini peserta transmigrasi yang masih hidup tinggal 5 kepala keluarga. Untuk mengenang daerah ini sebagai lokasi tujuan transmigrasi pertama, pihak Desa membuat tugu monumen transmigrasi lengkap dengan nama - nama peserta transmigrasi.

"Tujuan didirikannya tugu transmigrasi di tahun 2012 yang juga bertuliskan nama - nama 50 kepala keluarga transmigrasi ini yaitu, agar para pengunjung bisa mengetahui sejarah wilayah ini dulunya yang dibuka oleh mereka dan agar anak cucunya juga bisa mengenang jasa para pendahulunya di wilayah ini," paparnya.

"Dari 50 kepala keluarga seiring waktu jumlah jiwa di Desa ini terus berkembang hingga saat ini jumlah penduduk di Desa ini telah mencapai 2.630 jiwa," jelasnya.

Setiap tahun pada  tanggal 27 Juli, di wilayah yang lebih dikenal dengan sebutan Dusun Taman Rajo atau Prola (Proyek Lama) ini selalu menggelar sedekah bumi dan wayang kulit untuk mengenang tanggal kedatangan para transmigran ke daerah ini.

"Selain bantuan berupa pendirian tugu transmigrasi di salah satu persimpangan di ruas jalan Desa ini, pihak Desa juga membangun jalan rabat beton di kawasan pemukiman (lokasi rumah - rumah eks transmigrasi) ini," terang Kades.

Dahulu daerah ini masih bernama Desa Simpang dan masuk dalam Kecamatan Nipah Panjang Kabupaten Tanjung Jabung, sebelum dimekarkan menjadi Desa Rantau Rasau 1, Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur

Dari pantauan Jamberita.com di lapangan, saat ini telah banyak perkembangan yang dirasakan oleh masyarakat Desa ini, mulai dari akses jalan, air bersih hingga listrik sudah bisa dinikmati oleh masyarakat eks transmigrasi dan keluarganya. (hrd)




Tagar:

# TANJABTIMUR

Artikel Rekomendasi