Oleh: Witri Paujiah(*)
Salah satu yang menjadi perusak ke aktifan generasi millennial adalah rasa malas dan terbiasa dengan hal yang mudah sehingga banyak pelajar yang memilih untuk mengcopy paste dari internet, dari pada membuat dengan kemampuannya sendiri.
Berdasarkan hasil survey UNESCO (United National Education Society and Cultural Organization) pada 2012, dan World’s Most Literatur Nations yang dilakukan Central Connecticut State Unversity, New Britain, Amerika Serikat, pada Maret 2016 lalu. Indonesia sangat tertinggal dalam budaya baca.
Padahal mereka dapat membuat dari referensi terpecaya seperti dari buku ataupun dari jurnal dengan membaca. Mengcopy paste atau yang biasa di sebut dengan plagiat ini sudah menjadi salah satu penyebab rusaknya generasi millennial khususnya mahasiswa, sehingga banyak dari mereka yang menganggap segala tugas itu mudah.
Mereka mengcopy paste segala tugas tanpa memperhatikan sumbernya dan tidak mempertimbang kan baik buruknya apa yang telah mereka buat. Akibatnya mahasiswa hanya sekedar nama besar saja, mungkin bisa saja minim gagasan dan ide.
Plagiarisme secara etimologi berasa dari bahasa latin ialah plagiarus yang berarti pencuri. Pencuri di sini dapat di artikan sebagai pengambilan idea atau kata–kata dari orang lain dan kemudian di gunakan untuk dirinya sendiri tanpa izin atau mencantumkan nama atau pun alamat web yang diambil.
Hal seperti ini seharusnya tidak terjadi karena sejak awal sekolah mulai dari SD kita sudah di ajari untuk tidak mencontek tatapi kenapa sekarang generasi millennial malah membudayakan plagiarisme khususnya di kalangan mahasiswa.
Padahal sejak TK kita sudah diajari untuk menulis kata perkata dan ketika di SD diajarin untuk menulis kalimat dan kemudian pada saat SMP diajari untuk menulis cerpen, puisi dan yang liannya saat SMA diajari untuk membuat makalah, karya ilmiah dan proposal.
Tindakan plagiarisme ini sudah merambat ke berbagai kalangan tidak hanya pada pelajar saja. Namun di sini saya akan membahas plagiarisme terhadap mahasiswa. Yang akhir-akhir ini sering diperbincangkan di setiap kalangan mulai dari moral, budaya, pendidikan, etika dan ketahanan terhadap pengaruh teknologi yang sangat berkembang.
Sebagai mahasiswa seharusnya tidak melakukan hal tercela seperti plagiarisme, karena seorang mahasiswa adalah seseorang yang sedang mancari jati diri. Bagaimana akan menemukan jati diri jika segala sesuatu di kerjakan dengan mengcopy paste milik orang lain tanpa mencantumkan nama sumbernya.
Hal ini terjadi karena kurangnya penguasaan mahasiswa dalam teknik pengacuan atau pengutipan pustaka atau perujukan terhadap karya orang lain. Kebanyakan mahasiswa/mahasiswi sekarang lebih memilih hal yang lebis praktis dan instan dalam membuat karya ilmiah.
Mahasiswa akan sering terpacu dengan hal menulis dan semua sudah di pelajari tinggal mengembangkan dan diarahkan menjadi penulisan yang lebih kompleks dan sistematis, serta sesuai dengan aturan baik secara bahasa maupun struktural.
Sebagai mahasiswa seharusnya sudah tidak asing lagi dengan karya tulis, paper, esai, maupun makalah. Namun pernahkan kita berfikir untuk membuat karya tulis yang lebih orisinil bukan hanya menggabungkan tulisan-tulisan orang lain dari berbagai sumber.
Menulis memang bukanlah hal yang mudah namun hal ini dapat menjadi mudah apabila kita sering membuat bukan mengcopy paste, jika sudah terbiasa maka hal sesulit apapun akan menjadi mudah. Hal sekecil apapun akan menjadi indah ketika dilalui dengan proses yang sesungguhnya.
Oleh karena itu kita sebagai anak muda mari perbaiki dan hilangkan hal budaya plagiarisme dikalangan perguruan tinggi, yang sudah jelas merusak jiwa anak muda millennial seperti kita.
Jika hal itu terus dilakukan, lama kelamaan mahasiswa bisa hilang daya kritismenya, dan yang lebih parah lagi kita sebagai seorang mahasiswa seakan kehilangan moral dengan terbiasa mencuri ide orang lain, yang mengakibatkan kita semakin sulit untuk membangun ataupun mengembankan sebuah ide.
Penulis Adalah: Mahasiswi STIES Al-Mujaddid, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Anggota Komunitas Menulis Al-Mujaddid.(*)
Efek Perkembangan Teknologi Bagi Keberlangsungan Hidup Manusia
Akibat Pendidikan Hanya Menciptakan Gererasi yang Pintar Bukan Generasi yang Terdidik
UNJA - BKKBN Jambi Kembali Teken MoU : Kerjasama Tanpa Implementasi Tidak Ada NIlainya!



