Mengupas Sosok Pangeran Ratu Raden Mattaher



Jumat, 05 April 2019 - 06:30:32 WIB



Oleh: Ali Surakhman

Raden Mattaher bin Raden Kusen gelar Pangeran Jayoninggrat bin Pangeran Adi bin Raden Mochamad gelar Sultan Mochammad Fachruddin lahir di dusun Sekamis, Kasau Melintang Pauh, Air Hitam, Batin VI, Jambi. Ia lahir tahun 1871 dari pasangan Pangeran Kusin dan Ratumas Esa (Ratumas Tija). Ibunya kelahiran Mentawak, Air Hitam Pauh yang dahulunya adalah daerah tempat berkuasanya Temenggung Merah Mato.Beliau merupakan cucu Sultan Taha Syaifuddin, pahlawan nasional dari Jambi.Hubungannya adalah ayah Raden Mattaher bernama Pangeran Kusin adalah anak Pangeran Adi, saudara kandung Sultan Taha Syaifudin.

Menurut Sovia atau biasa di panggil Via Dicky, yang memegang Stamboem Van Djambi, Raden Mattaher mempunyai 7 anak yaitu:

  1. Raden A. Rachman (Raden Buruk)
  2. Raden Sulen
  3. Raden Hamzah
  4. Ratumas Rofiah (Maryam)
  5. Raden Santun
  6. Raden Weles
  7. Raden Umar.,

Anak yang ke 3 Raden Hamzah. Raden Hamzah mempunyai dua istri. Dari istri pertama ada anak 4, meninggal. Kemudian Raden Hamzah menikah lagi dengan perempuan Malaysia, janda anak satu. Untuk itu diperlukan studi lebih dalam siapa keturunan Raden Mattaher yang ada sekarang?

Raden Mattaher diangkat sebagai Pangeran Ratu oleh Sultan Thaha. Ada tiga orang yang diangkat sebagai Pangeran Ratu oleh Sultan Thaha, yakni Pangeran Dipo, Raden Mattaher dan Pangeran Singo.

Raden Mattaher diangkat oleh Sultan Thaha sebagai Pangeran Ratu, bukan diangkat oleh rakyat. Tradisi Kesultanan Jambi, Gelar Pangeran Ratu diberikan oleh Sultan bukan oleh Rakyat. Ini meluruskan buku yang ditulis Pak Junaidi T Noor ditulis Raden Mattaher bergelar Pangeran Ratu yang diberikan oleh Rakyat setelah Wafat Sultan Thaha. Raden Mattaher mulai ikut berperang melawan Belanda umur 17 tahun, tahun 1888.

Raden Mattaher tidak pernah menjadi Raja Jambi menggantikan Sultan Thaha atau Sultan terakhir Jambi, Sultan Ahmad Zainuddin. Sebab tidak ada piagam, atau warkah dan laporan Belanda bahwa ada upacara adat Penabalan Sultan Jambi yang mengangkat Raden Mattaher sebagai Raja atau Sultan.Penabalan Raja mesti dilakukan oleh Lurah Jebus Rajo Sari keturunan Periai Rajo Sari Suku 12 Bangso.

Menurut Velds, dalam De Onderwerping Van Djambi, halaman 131-142. Disebut bahwa Raden Mattaher, pemimpin perlawanan paling penting, terbunuh ketika berusaha lari ke Singapura pada akhir Januari 1907.

Raden Mattaher gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Dusun Muaro Jambi, pada hari Jum’at, waktu subuh, tanggal 10 September 1907. Raden Mattaher dimakamkan di komplek pemakaman raja-raja Jambi di tepi Danau Sipin Jambi.

Jambi di abad 17 itu adalah negeri yang sebetulnya sangat mudah diserang para tetangganya.Tidak seperti Aceh dan Mataram. Untuk sebab yang berbeda muncul sebagai kerajaan yang kuat, Jambi harus selalu percaya diri dari tetangga-tetangganya yang agresif. Supaya dapat berhadapan dengan ancaman yang tidak pernah reda itu, menyerahkan kerajaan-kerajaan yang lemah, Jambi harus selalu mengikat diri dengan sekutu — yang selalu berubah-ubah — yaitu kerajaan-kerajaan di sekitar kawasan itu. Dan jika perlu, ia harus menyetujui kemaharajaan negeri lain yang lebih kuat.

Karena kelemahan-kelemahan itu, maka persetujuan ganda telah ditandatangani pada fase pertama hubungan Jambi-Belanda, mulai awal sampai pada 1724 kompilasi VOC memutuskan mengosongkan kantor dagangnya di Jambi dan fokus ke Palembang dengan harapan dapat membantu Sumatera dari sana.

Dua persetujuan itu disetujui pada 1630 untuk disetujui diterima Portugis dan pada 1643 yang dikeluarkan orang Cina yang melakukan perdagangan di Jambi. Sementara pada fase kedua, perjanjian disetujui dimulai pada 1833 dan 1834. Pada masa itu VOC telah dibubarkan.Perjanjian-perjanjian pada fase kedua oleh Elsbeth Locher-Scholten sebagai pintu masuk imperialisme atau upaya menciptakan negara kolonial.

Menjelang akhir abad 19 Belanda menambah kekuatannya. Dari Palembang, Jawa dan Aceh mulai berdatangan ke Jambi, maka Sultan Taha Syaifuddin menyusun strategi baru sebagai berikut:

Raden Mattaher ditentukan sebagai panglima perang ditentukan wilayah pertahanan Jambi Kecil, Muaro Jambi, Air Hitam Darat, Ulu Pijoan, Pematang Lumut, Bulian Dalam, Ulu Pauh, Payo Siamang, Jelatang dan Pijoan Dalam.

Bagian Batang Tembesi hingga Kerinci berada di bawah komando Pangeran Haji Umar Bin Yasir, gelar Pangeran Puspojoyo.

Bagian Batanghari dan Tebo langsung di bawah pimpinan Sultan Thaha Syaifuddin dan saudaranya Hamzah gelar Diponegara, yang terkenal sebagai pangeran Dipo.

Diawal abad ke-20 perjuangan rakyat melawan Belanda menghadapi banyak tantangan, satu persatu pejuang Jambi gagal dan gagal lalu dibuang ( internir ) oleh Belanda.

Sultan Thaha Syaifuddin gugur di Betung Bedara pada tanggal 26 malam 27 April 1904.  Pangeran Ratu Kartaningrat diambil dan dipindahkan ke Parigi, Sulawesi Utara.

Tahun 1906 Depati Parbo di Kerinci diambil dan dipindahkan ke Ternate-Ambon.

Pangeran Haji Umar Puspowijoyo dan adiknya Pangeran Seman Jayanegara tewas di Pemunyian, Bungo, tahun 1906.

Tahun 1906 di Pemunyian mengundang seorang pejuang perempuan bernama Ratumas Sina.

Raden Hamzah gugur tahun 1906 di Lubuk Mengkuang, dekat Pemunyian.

Tahun 1906 di kota Jambi yaitu daerah Tehok, Raden Pamuk diambil Belanda.

GJVelds dalam tulisannya “De Onderwerving van Djambi pada tahun 1901-1907, Batavia Departement van Oorlog” yang diterjemahkan oleh S.Hertini Adiwoso dan Budi Prihatna menambahkan ada beberapa Pos Belanda. Pos Belanda itu adalah sebagai berikut.

Batang Tembesi, Batang Batanghari dan perbatasan Jambi Palembang

Muara Tembesi

Muara Sekamis

Banyu Lincir (Bayung Lincir)

Muara Tabir

Muara Tebo

Penahat Muara Merangin

Surulangun-Jambi

Surulangun-Rawas Dusun Tiga

Lidung

Tanjung Gagak

Sungai Bengkal

Merlung

Taman Rajo

Menyebut perjuangan rakyat Jambi melawan kolonial Belanda abad 19 hingga awal abad 20 takkan bisa dilepaskan dari gambar nama Sultan Taha Safiuddin. Sultan Taha menjadi simbol perlawanan masyarakat Jambi melawan imperialisme Belanda. Setelah meninggalnya Sultan Taha pun, dia tetap menginspirasi masa depan melawan kolonial yang diteruskan oleh tokoh lain seperti Raden Mattaher.

Hal yang menarik adalah perlawanan saat itu dengan suasana Islam.Apa yang menarik adalah pembatasan yang menampilkan gerakan, nasionalisme, dan perjuangan Islam. Ini adalah tiga karakteristik yang tergambar dari perjuangan kemerdekaan di Jambi saat itu. [2]

Sultan Taha naik tahta tahun 1855.Sebelum naik tahta menjadi sultan, posisinya sebagai pangeran ratu atau perdana menteri saat sultan dijabat pamannya, Sultan Abdurachman Nazaruddin (1841-1855).Berbeda dengan sultan-sultan sebelumnya, termasuk menantang, sosok Sultan Taha Safiuddin berkarakter keras dan anti kompromi dengan Belanda. Ia enggan membuat piagam pengakuan kepada pemerintah kolonial Belanda, termasuk persetujuan yang dibuat dengan Belanda.

Tanggal 15 Desember 1834, ayah Sultan Taha bernama Sultan Muhammad Fachruddin melakukan perjanjian dengan Belanda setelah kondisinya terdesak diserang Belanda. Kesepakatan itu terkenal dengan nama Piagam Sungai Baung (Sorolangun). Isinya antara lain:

Negeri Jambi dikuasai dan dilindungi oleh Belanda

Negeri Belanda memiliki hak untuk menyiapkan kekuatan di daerah Jambi jika diperlukan. [3]

Perjanjian ditandatangani ayah Sultan Taha dengan Belanda yang diwakili Luitenant Kolonel Michiels. Piagam Sungai Baung ini mengubah Residen Palembang hanya berhenti sementara melawan. Belanda menyetujui sultan untuk membuat perjanjian tanggal 21 April 1853. Isinya, antara lain:

Belanda memungut cukai ekspor impor barang-barang dan untuk itu sultan dan pengeran menerima ganti rugi sebesar f.8000 / tahun.

Belanda tidak memungut dana selain berhak memonopoli penjualan garam.

Jambi bagian dari pemerintahan Hindia Belanda

Pemerintah Belanda tidak mencampuri urusan ketatanegaraan dalam Kerajaan Jambi dan mengambil keputusan adat kecuali jika ada penggelapan yang berkenaan dengan cukai pemungutan yang menjadi hak Belanda.

Belanda meminta sultan meminta tidak menjalin kerjasama dengan pemerintah dan membantu menumpas pemberontakan Paderi di Sumatera Barat. Sultan juga mengembangkan pertanian, khususnya lada. Impor tidak dikeluarkan tetapi sultan tidak diharuskan membebaskan siapa pun.

Sebagai kompensasi, Belanda menyetujui menjunjung tinggi dan melindungi hak-haknya dan menerima uang tunai f.8000. Sultan juga masih memiliki hak memungut hak dan mengelola pajak di wilayahnya.

Dampak dari perjanjian ini sangat merugikan Kesultanan Jambi.Belanda memonopoli perdagangan di Jambi. Sultan Taha tahu kondisi ini dan tak mau menyetujui perjanjian yang dibuat lawan. Berkali-kali Belanda membujuk Sultan Taha agar duduk bersama kembali dan menjalankan janji yang ada. Bulan Oktober 1857 atau dua tahun selalu naik tahta, delegasi yang dipimpin Residen Couperus berencana bertemu Sultan Taha dan meminta draf 40 pasal kerjasama. Sultan menolak bertemu delegasi ini.

Belanda terus membujuk sultan untuk kerja sama, namun selalu ditolak. Sultan menolak pasal yang ditolak merugikan Jambi. Yakni:

Jambi menjadi bagian hindia Belanda

Jambi membangun benteng di Muara Kumpeh dan benteng lain yang akan dibangun Belanda.

Jambi tidak boleh berhubungan dengan Negara lain

Orang Eropa dan Cina setuju pada sistem hukum berbeda

Suksesi turun temurun harus mendapat persetujuan Belanda.

Kembali ke Atas namun, dalam hitungan perundingan Kesultanan Jambi mewakilkan pada Pangeran Ratu. Perundingan bulan Desember 1857 dan bulan Mei 1858 tetap gagal mencapai kesepakatan. Juru runding Belanda diizinkan masuk istana dan hanya bertemu di rumah Pengeran Surio Nata Krama. Sultan diwakili Pangeran Ratu. Pertemuan dimediasi pemimpin dari komunitas orang Arab yang ada di Jambi. Misi terakhir tanggal 2 hingga 7 Juni 1858 gagal mencapai kesepakatan.

Belanda mempercayai upaya perundingan takkan berhasil dan menempuh cara lain, yaitu ekspedisi militer. Ororitas Batavia mengirimkan tim ekspedisi yang berkekuatan empat kompi berangkat dengan empat kapal uang dan kapal barang menuju Jambi.

Tanggal 2 September 1858, Sultan Taha menerima utusan yang memberikan ultimatum dalam 2 X 24 jam, sultan harus menyetujui kontrak dan mengirim utusan ke Batavia. Jika sultan ditolak, sultan akan diganti sultan baru dan status kerajaan Jambi diturunkan. Sultan Taha tetap menolak.

Belanda melakukan penaklukan terhadap istana Sultan Taha tanggal 6 September 1858. Terjadi pertempuran sengit yang berlangsung sekitar 50 pejuang Jambi terbunuh, dan banyak yang luka luka. Keraton Jambi dapat dikuasai, namun Sultan Taha bisa meloloskan diri. Belanda membujuk Pangeran Ratu Martaningrat yang notabene sepupu sultan untuk naik tahta mengantikan Sultan Taha. Pangeran Ratu menolak. Belanda akhirnya memilih Panembahan Prabu, paman Sultan Taha untuk jadi sultan. Ia naik tahta dengan gelar Sultan Ahmad Nazaruddin.

Pada tahun 1866, Sultan Ahmad Nazaruddin menulis surat meminta pengampunan untuk Sultan Taha. Surat diteruskan ke Residen Palembang, namun surat ini tak pernah diterbitkan. Sultan wafat tahun 1880 dan digantikan Sultan Ratu Muhammad Mahiluddin (1881-1885). Setelah Sultan Mahiluddin meninggal posisinya digantikan Pangeran Cakra Negara.Namun, di masa kekuasaannya, sering terjadi penyerangan terhadap orang Belanda di Jambi. Bulan Juli 1886, Belanda dan pihak keluarga sultan berunding untuk pengangkatan sultan baru. Diangkatlah saudara tiri Sultan Taha, yaitu Pangeran Suryo sebagai sultan. Ia bergelar Sultan Ahmad Zainuddin (1886-1899). Pangeran Ratu memilih anak Sultan Taha yang baru berumur tujuh tahun, yaitu Pangeran Anom Kusumo Yudho.(*)

*Budayawan Jambi

Sumber :

Sovia, Sejarahwan Jambi

Raden Mattaher: Pejuang Rakyat Jambi Melawan Kolonial,Anastasia Wiwik Swastiwi P.hD dan Dedi Arman












loading...










#DEBAT KANDIDAT PILWAKO #BAKSO TARSYID #SIDANG SUPRIYONO #PLN #DEBAT PILWAKO 1 #ZOLA DIPERIKSA KPK #BATU BARA #VONIS KETOK PALU #ZUMI ZOLA TERSANGKA #SAROLANGUN #MUARO JAMBI #MERANGIN #Miss Indonesia 2019 #Nenek Zumi Zola Meninggal #BUNGO #BERITA JAMBI #BATANGHARI #cawagub fachrori #caleg PBB Jambi mundur #ZUMI ZOLA #LHKPN #KOTA JAMBI #KERINCI #korem 042/gapu #Kemas Faried #Fachrori Rombak Pejabat #danrem 042 Gapu #SUNGAI PENUH #SUAP KETOK PALU #surat suara Jambi #abdul Fattah meninggal #PRABOWO KE JAMBI #Pemberhentian Zumi Zola #TEBO #TANJABTIMUR #TANJABBARAT #TMMD Kerinci #TABLOID INDONESIA BAROKAH #Rocky Gerung #relawan demokrasi #REKI #Edi Purwanto #UIN STS Jambi #Pelecehan seksual #bawaslu provinsi jambi #Debat Pilpres 4 #Pahlawan nasional #Raden Mattaher #Partai Berkarya #KKI WARSI #pohon asuh #Edi Purwanto #iin inawati #Jambi masa lalu #Sejarah jambi #Musri Nauli #angin kencang Bungo #Kantor Pos Bungo Diterjang Angin #Syaihu ke PTUN #Demo UINS STS Jambi #Pelecehan seksual #Penyelundupan Lobster #Lobster Jambi #masa tenang #money politic #BAWASLU KOTA JAMBI #SYARIF FASHA #FACHRORI UMAR #HASIL PILPRES 2019 #HASIL PILEG 2019 #17 April 2019 #Minyak ilegal #Polda Jambi #KPPS Dipecat #PEMILU 2019 #LOGISTIK PEMILU 2019 #KPU PROVINSI JAMBI #Caleg Gerindra Ditangkap di Sungaipenuh #Mualaf Center Indonesia #kotak suara rusak #Hasil Pileg Tanjabbar #KPPS Meninggal Dunia #Pembakaran Kotak Suara #Prediksi Kursi di Provinsi Jambi #Pleno Rekapitulasi Suara #Harga Bawang putih #PLENO KPU PROVINSI JAMBI #Sutan Adil Hendra #SIDANG PELANGGARAN BAWASLU #Ketua DPRD Kota Jambi #Kemendagri #Samsat Jambi #Ratu Munawarrah #PIlgub Jambi #Anggota DPRD pindah parpol #DPRD Sungai Penuh #aksi Mahasiswa Jambi #GUGATAN PARPOL DI MK #Polda Jambi