Oleh Zarkasi dan Riri Maria Fatriani*
SILAT adat pada masyarakat Melayu Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin Provinsi Jambi merupakan salah satu bentuk produk budaya lokal Masyarakat Jambi yang masih eksis saat ini. Budaya tersebut merupakan seni bela diri yang digunakan untuk kegiatan pertunjukan yang bersifat memberi hiburan kepada masyarakat. Pertunjukan budaya silat adat tersebut dilakukan mulai pada hari kedua sampai hari ketujuh hari raya ‘Iedul Fitri setiap tahun. Pada hari kedua sampai hari ketujuh tersebut pertunjukan dimulai pada pukul 14.30 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB. Hari ketujuh merupakan puncak kegiatan yang biasanya dihadiri oleh tokoh dan sebagian besar masyarakat Kecamatan Tabir.
Pada hari raya ‘Iedul Fitri masyarakat Tabir di Desa Rantau Panjang (yang sekarang telah mekar menjadi lima kelurahan yaitu Kelurahan Dusun Baru, Kelurahan Kampung Baruh, Kelurahan Mampun, Kelurahan Pasar Rantau Ranjang dan Kelurahan Pasar Baru Rantau Panjang) berada di Desa Rantau Panjang dahulunya merupakan pusat pemerintahan Marga Batin V Tabir. Setelah hari raya sebagian masyarakat beraktivitas di sawah dan kebun karet yang berjarak satu sampai puluhan kilometer dari desa. Oleh pemuka masyarakat dahulu dibuatlah kegiatan yang bersifat menghibur masyarakat pada saat waktu desa lagi ramai setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan.
Kegiatan pertunjukan silat adat selama tujuh hari itu dilakukan di halaman rumah penduduk. Halaman rumah penduduk yang digunakan pada hari-hari pertunjukan tersebut diupayakan relatif merata di wilayah desa. Pada hari ketujuh pertunjukan silat adat dilakukan di halaman rumah adat yang disebut Rumah Tuo oleh masyarakat Rantau Panjang. Kegiatan tahunan masyarakat adat Melayu Batin V Tabir ini diperkirakan telah ada sejak dua sampai tiga ratus tahun yang lalu.
Pertunjukan silat adat ini dilakukan dengan menampilkan pasangan-pasangan pesilat dengan posisi pesilat sebagai lawan dari pasangannya. Pertunjukan dilakukan tidak sampai pada tingkat menyakiti lawan, tapi sebatas mempertontonkan jurus bela diri serta seni gerak yang bernilai tinggi. Setiap pasangan yang tampil diiringi dengan bunyi sepasang gendang dan sebuah gong dengan irama yang dapat menaikkan adrenalin kedua pesilat. Pasangan yang tampil dapat berupa anak-anak atau pemuda dari kelas pemula sampai dengan guru-guru silat senior yang ada di desa. Setiap pasang pertunjukan memerlukan waktu tampil sekitar lima sampai tujuh menit, jadi dengan rentang waktu yang tersedia akan ada sekitar 20-25 kali pertunjukan sehari.
Untuk dapat ikut serta menjadi pelaku pertunjukan silat, seseorang harus belajar tentang jurus-jurus silat yang diinginkannya. Upaya belajar tersebut dilakukan pada malam-malam hari di bulan puasa (bulan Ramadhan) pada sejumlah perguruan silat yang ada di desa. Terdapat sejumlah jurus silat yang dapat dipelajari, di antaranya silat silat pedang, silat satu lawan dua, silat kuntau, silat kamian, silat sinding dan silat balam balago. Silat balam balago merupakan jurus yang paling menghibur karena memperlihatkan keterampilan, kecepatan, ketepatan dan keindahan gerak tangan pesilat-pesilatnya.
Budaya silat adat ini terpelihara dengan baik sampai dengan pertengahan tahun 1980-an. Sampai saat itu ajang silat adat ini menjadi tempat berkumpul atau keramaian yang baik bagi masyarakat. Kegiatan ini juga menjadi momen saling kenal yang baik bagi penduduk yang tumbuh pesat, termasuk saling mengenal antar generasi mudanya. Akses keluar desa yang terbatas sebagai akibat kondisi jalan raya yang belum baik, terbatasnya kendaraan bermotor dan lemahnya kondisi ekonomi penduduk membuat masyarakat tidak banyak bepergian ke luar desa. Kondisi ini membuat pertunjukan silat adat menjadi pilihan utama hiburan masyarakat pada hari ‘Iedul Fitri.
Sejak prasarana jalan raya serta tersedianya secara mudah dan murah kendaraan bermotor, pada hari ‘Iedul Fitri penduduk banyak yang berwisata ke tempat lain di luar desa. Masyarakat banyak bepergian ke Kota Muaro Bungo (60 km arah utara), Kota Bangko (30 km arah selatan) atau ke tempat-tempat lain yang menyelenggarakan pertunjukan-pertunjukan yang menarik dalam menyambut hari raya ‘Iedul Fitri. Informasi tentang pertunjukan maupun tempat wisata yang tersedia di tempat-tempat lain dapat diperoleh dengan mudah melalui alat komunikasi tanpa batas yang ada saat ini. Acara pertunjukan di tempat lain tersebut di antaranya menyajikan hiburan kekinian yang tidak bersumber dari akar budaya lokal atau negeri sendiri.
Kondisi ini membuat pertunjukan silat adat dari tahun ke tahun semakin kurang diminati sehingga pada hari-hari awal pertunjukan sepi pengunjungnya. Kesemarakan pertunjukan silat adat yang semula ada, menjadi jauh berkurang dari tahun ke tahun. Pertunjukan dari pasangan pesilat yang semula jumlahnya banyak, akhir-kahir ini turun menjadi sekitar 10 sampai 15 pertunjukan pasangan pesilat saja per hari. Hanya silat hari ketujuh atau hari penutupan saja pengunjungnya yang masih ramai. Fenomena ini termasuk ke dalam gejala pengaruh globalisasi yang secara perlahan atau cepat membuat orang dapat lupa dengan identitas diri sendiri. Selajutnya kondisi ini dapat menyebabkan hilangnya identitas budaya lokal.
Minat generasi muda untuk belajar silat pada malam hari di bulan Ramadhan juga semakin menurun. Pengaruh teknologi komunikasi televisi dan telephone genggam (hand phone) android bisa meyediakan hiburan, informasi baru serta tampilan menarik menyita waktu, membuat perhatian serta kepedulian kepada budaya warisan leluhur semakin luntur. Penabuh gong dan penabuh gendang yang mengiringi pertunjukan silat semakin sedikit jumlahnya karena sudah berusia tua dan tidak lagi aktif berpartisipasi. Selain itu pemuda yang berminat dan mau belajar menjadi penabuh alat tersebut semakin sedikit. Kedua kondisi ini membuat generasi penerus pesilat adat serta penabuh gong dan gendang menjadi semakin sedikit.
Peralatan untuk pertunjukan silat adat yaitu gendang dan gong yang dimiliki kondisi sudah tua yang membuat suara yang dikeluarkannya tidak bulat (fokus) dan tidak kuat sehingga tidak dapat terdengar dari jarak yang jauh. Gendang dan gong baru sangat diperlukan untuk menjamin kualitas suara yang dikeluarkan. Kedua jenis peralatan ini perlu tersedia di setiap perguruan silat adat yang ada, agar proses pembelajaran silat adat menjadi lengkap. Berdasarkan informasi dari masyarakat, saat ini terdapat sebanyak sepuluh perguruan silat yang aktif sementara peralatan yang ada hanya dua pasang gendang dan dua buah gong. Berangkat dari kondisi itulah beberapa kaum terpelajar yang berasal dari masyarakat Melayu Marga Batin V merasa berkewajiban untuk berpartisipasi dengan cara melakukan penyuluhan memberikan pemahaman akan pentingnya menjaga kelestarian budaya lokal selain itu juga memberikan semangat dan dukungan serta berupaya memberikan bantuan berupa alat-alat seperti gong dan gendang yang digunakan untuk pelaksanaan silat adat tersebut.
Pentingnya pelibatan kaum terpelajar dari masyarakat Melayu Marga Batin V akan sangat membantu, dikarenakan kondisi ekonomi yang sulit akibat rendahnya harga karet rakyat secara berkepanjangan membuat masyarakat tidak mampu membeli peralatan tersebut. Berkaitan dengan itu kiranya perlu perhatian pihak yang terkait dengan pembinaan kebudayaan untuk memasukkan silat adat ini ke dalam kegiatan pembinaan serta penganggaran yang diperlukan. Begitu pula kepada tokoh adat, tokoh masyarakat dan kaum terpelajar yang berasal dari masyarakat Melayu Marga Batin V Tabir diharapkan bantuan pemikirannya guna melestarikan warisan budaya agar dapat bertahan sepanjang zaman.(*/sm)
*Dosen Fisipol Universitas Jambi



