Kemarau Panjang: Ribuan Hektar Sawah Tadah Hujan Terdampak, Dinas PTHP Siapkan Langkah Antisipasi



Selasa, 03 November 2026 - 17:18:18 WIB



Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Pertanian (TPHP) Provinsi Jambi, Rumusdar (tengah, red)
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Pertanian (TPHP) Provinsi Jambi, Rumusdar (tengah, red)

JAMBERITA.COM — Dampak kemarau panjang yang melanda wilayah Provinsi Jambi mengakibatkan ribuan hektar padi tadah hujan mengalami pengurangan luas tanam yang signifikan. Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Pertanian (TPHP) Provinsi Jambi, total luas lahan yang terdampak mencapai 4.724,99 hektar.

Kepala Dinas TPHP Provinsi Jambi, Rumusdar, merinci tingkat kerusakan dan dampak kekeringan tersebut ke dalam beberapa kategori, yakni kategori Ringan ± 667,25 hektar, kategori Sedang ± 543,60 hektar, kategori Berat ± 1.646,30 hektar, kategori Puso (Gagal Panen) ± 1.667,80 hektar.

Rumusdar mengungkapkan bahwa wilayah yang paling parah merasakan dampak kemarau ini adalah Kabupaten Muaro Jambi, mengingat tingginya konsentrasi sawah tadah hujan di daerah tersebut.

"Paling banyak terdampak di Muaro Jambi sekitar 1.397 hektar karena di sana paling banyak sawah tadah hujannya. Berikutnya di Batanghari 311 hektar, dan Merangin 110 hektar. Tapi Muaro Jambi lah yang paling banyak. Lainnya ada tapi tidak terlalu signifikan," ujarnya.

Kondisi kekeringan ini tidak hanya memicu penurunan produktivitas, tetapi juga menyebabkan pergeseran jadwal tanam. Seharusnya petani sudah bisa melakukan penanaman pada periode Juni atau Juli, namun hingga bulan Oktober lalu proses tanam terpaksa tertunda.

"Sehingga kita prediksi untuk tahun 2026 kemungkinan produksi kita dibanding 2025 itu akan berkurang. Meski demikian, semangat petani tetap ada. Apabila hujan nantinya sudah merata dan air ada di sawah, maka petani akan mengejar masa tanam agar tidak mengalami kerugian berkepanjangan," terangnya.

Guna mengantisipasi dampak buruk kekeringan lanjutan, Dinas TPHP Provinsi Jambi telah bergerak cepat dengan menyalurkan bantuan fasilitas dan program mitigasi, di antaranya berupa bantuan Pompa Air. 

Sebanyak 86 unit pompa air telah disalurkan ke kelompok-kelompok tani yang terdampak di seluruh Provinsi Jambi, dengan catatan terdapat sumber air terdekat dan petani mandiri dalam penyediaan Bahan Bakar Minyak (BBM). Saat ini, masih tersedia sisa stok sebanyak 37 unit pompa air sebagai tambahan cadangan.

"Selanjutnya melakukan sinergi bersama Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) untuk membantu mengairi sawah-sawah yang sumber airnya masih terjangkau," ungkap Rumusdar.

Memanfaatkan informasi dan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna merancang kalender tanam yang akurat, agar ke depannya siklus tanam petani tidak berbenturan dengan musim kemarau.

Pihaknya juga berharap adanya uluran tangan dari pemerintah pusat berupa bantuan benih padi untuk meringankan beban kerugian yang dialami oleh para petani di Jambi.

Meski tahun 2026 diproyeksikan mengalami penurunan produksi akibat kemarau panjang, pemerintah tetap optimistis menatap tahun 2027. Sebagai catatan, pada tahun 2025 lalu Provinsi Jambi berhasil mencatatkan pencapaian swasembada yang baik, di mana 70 persen kebutuhan beras penduduk Jambi dapat dipenuhi dari produksi lokal, dan hanya 30 persen yang didatangkan dari luar provinsi.

"Kita berharap pada bulan November ini hujan akan cukup dan merata, sehingga bisa memacu petani kita yang mata airnya tersedia. Kita berharap tahun 2027 iklim bisa bersahabat dan petani bisa berproduksi optimal, sehingga kebutuhan beras untuk Provinsi Jambi tidak lagi tergantung ke luar provinsi," pungkasnya. (tts)





Artikel Rekomendasi