Oleh: Assoc. Prof. Dr. Pahrudin HM, M.A.*
Tiga tahun lagi, rakyat Indonesia kembali akan memilih para wakilnya di Senayan, termasuk di Provinsi Jambi. Secara matematis, tiga tahun adalah angka yang lama sehingga disebut: Belanda masih jauh. Tetapi secara strategi politik, tiga tahun adalah angka yang dekat dan waktu yang membuat para kandidat harus segera mempersiapkan logistik untuk berkontestasi dengan segala dinamikanya. Lalu, siapakah kira-kira yang akan sukses melenggang ke kursi DPR-RI mewakili pemilih di Provinsi Jambi pada Pemilu Nasional 2029 nanti?
Hasil Pemilu 2024 menyediakan titik pembanding empiris. Dapil Provinsi Jambi memperoleh delapan kursi DPR RI, hasil dari pilihan rakyat yang disediakan oleh partai politik yang berkontestasi di Negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini. Berdasarkan data Pemilu 2024, persaingan partai dan calon berlangsung melalui kombinasi kekuatan organisasi, suara personal, dan persebaran dukungan di tingkat kabupaten/kota.
Pemilu 2024 menempatkan Cek Endra (Partai Golkar) sebagai pemilik suara terbanyak (101.112), diikuti Hasan Basri Agus (Partai Golkar) 87.884 suara, Edi Purwanto (PDI-P) 81.984 suara, Syarif Fasha (Nasdem) 72.885 suara, H. Bakrie (PAN) 67.792 suara, Rocky Candra (Gerindra) 64.026 suara, Elpisina (PKB) 63.261 suara, dan terakhir, Zulfikar Ahmad (Demokrat) dengan 50.927 suara. Delapan orang inilah yang secara sah menjadi wakil rakyat Jambi sampai 2029 di Senayan.
Peroleh suara di Pemilu 2024 tersebut dapat digunakan sebagai baseline politik, bukan proyeksi otomatis hasil 2029. Sebagai Petahana, kedelapan nama tersebut (minus H. Bakrie yang meninggal dunia beberapa waktu lalu) memiliki keuntungan berupa rekam jejak dan pengenalan publik, sekaligus juga menghadapi evaluasi terkait kinerja legislasi serta aktivitas politik mereka di Provinsi Jambi. Sementara itu, penantang baru dapat membangun dukungan melalui jaringan komunitas, pelayanan konstituen, dan agenda yang relevan, sekaligus juga harus menghadapi tantangan membangun pengenalan publik serta organisasi politik di Provinsi Jambi.
Berdasarkan strategi politik, terdapat lima variabel yang menentukan sukses tidaknya seorang kandidat pada Pemilu Nasional 2029, yaitu:
Pertama, modal elektoral petahana. Perolehan suara Pemilu 2024 menjadi indikator awal mengenai bagaimana kapasitas kandidat dalam menjangkau pemilih di Provinsi Jambi yang terdiri dari beragam karakter wilayah. Kandidat dengan perolehan suara terbesar tentu saja sukses menjangkau hampir sebagian wilayah di Provinsi Jambi. Namun demikian, untuk mencabar peluang sukses serupa di Pemilu 2029 tentu harus memperhatikan apakah dukungan di 2024 tersebut bertahan, berpindah, atau bergantung pada struktur partai dan koalisi yang mungkin berubah menjelang 2029. Pemilu 2024 membuktikan bahwa hampir seluruh Wakil Rakyat Jambi di Senayan merupakan elit utama partai politik utama di Jambi, selain Rocky Candra. Kepemimpinannya dalam partai dan ketokohannya dalam masyarakat berhasil dimanfaatkan untuk menjangkau pemilih di beragam wilayah di Provinsi Jambi.
Kedua, kekuatan partai politik. Pada Pemilu yang menerapkan sistem proporsional terbuka, perolehan kursi partai dan suara calon sama-sama penting. Perubahan kepemimpinan partai, penempatan nomor urut, persaingan internal, serta keputusan pencalonan dapat memengaruhi peluang seseorang mempertahankan kursi. Oleh karena itu, suara personal seorang kandidat pada Pemilu 2024 tidak dapat dipisahkan dari konteks organisasi partai politiknya. Konteks ini terutama berlaku pada Hasan Basri Agus pada Pemilu 2024, dimana perolehan suara Golkar turut berkontribusi secara signifikan pada keterpilhannya kembali menuju Senayan. Sementara terutama dalam konteks persaingan di internal partai, Rocky Candra sukses menggunakannya untuk melenggang ke Senayan pertama kalinya, menggusur elit utama Gerindra Jambi selama ini.
Ketiga, jaringan kewilayahan. Kandidat yang akan bertarung di Pemilu 2029 perlu membuktikan bahwa dukungannya tidak hanya terkonsentrasi di satu kabupaten atau kota. Delapan Wakil Rakyat Jambi Pemilu 2024 merupakan figur-figur yang memiliki basis dukungan yang hampir merata di seluruh wilayah Provinsi Jambi. Pemetaan suara per kecamatan dan desa, jika tersedia secara sah dan dapat diverifikasi, dapat membantu menjelaskan sebaran dukungan tanpa mengasumsikan bahwa asal daerah otomatis menentukan pilihan pemilih.
Keempat, kinerja representasi. Beragam kegiatan Wakil Rakyat Jambi 2024 seperti aktivitas legislasi, pengawasan pemerintah, penyaluran aspirasi, dan keterbukaan kepada konstituen merupakan indikator yang dapat digunakan untuk menilai hubungan Anggota DPR-RI dengan masyarakat. Ukurannya bukan sekadar frekuensi kunjungan atau besarnya publikasi, melainkan manfaat dan pertanggungjawaban yang dapat dibuktikan. Delapan Wakil Rakyat Jambi 2024 memiliki caranya sendiri dalam menjalankan fungsinya kepada masyarakat. Edi Purwanto, misalnya, dikenal sebagai figur yang mampu mewujudkan aspirasi rakyat di bidang infrastruktur, Rocky Candra di bidang pertambangan, lingkungan dan advokasi sosial-hukum, dan Cek Endra di bidang kepemudaan dan pembangunan berkelanjutan. Sementara Elpisina merepresentasikan diri melalui fasilitasinya terkait sumur minyak rakyat dan isu-isu sosial lainnya, Hasan Basri Agus di bidang keagamaan, Fasha di bidang energi dan pertanahan, begitu juga dengan Zulfikar Ahmad. Sementara itu, semasa hidupnya, H. Bakrie dikenal publik Jambi sebagai anggota DPR yang bergelut dengan isu-isu infrastruktur dan perumahan.
Kelima, munculnya penantang baru. Kehadiran figur-figur potensial baru juga turut menambah ketatnya kontestasi menuju Senayan 2029. Beragam sosok berlatar belakang kepala daerah, istri kepala daerah, pengusaha, aktivis, akademisi, maupun organisasi masyarakat dapat memasuki persaingan Pemilu 2029. Meskipun jabatan, sumber daya, dan popularitas para penantang baru tidak otomatis menghasilkan suara, tetapi kehadirannya tidak dapat dianggap sebelah mata. Nama-nama seperti, Dr. Nadhiyah Maulana dan Hesti Haris, merupakan dua sosok yang paling diperhitungkan, sekaligus dapat menjadi penantang tangguh bagi Wakil Rakyat Jambi selama ini. Dr. Nadhiyah merupakan istri Walikota Jambi, Dr. Maulana, yang telah dikenal publik sebagai figur yang sangat dekat dengan rakyat melalui beragam aktivitas sosialnya. Sementara Hesnidar, SE (Hesti Haris) merupakan istri Gubernur Jambi saat ini, Dr. Al Haris, yang juga dikenal secara luas oleh masyarakat melalui kegiatan-kegiatannya. Belum lagi dengan Ratu Munawaroh, istri mantan Gubernur Jambi yang mungkin saja akan kembali maju pada Pemilu 2029. Tiga figur ini berasal dari kalangan perempuan, aspek yang tidak terepresentasikan dalam komposisi Wakil Rakyat Jambi di Senayan hasil Pemilu 2024 lalu. Jangan lupa juga, sosok yang akan menggantikan Alm. H. Bakrie sebagai representasi PAN yang merupakan pemenang Pemilu Legislatif Provinsi Jambi 2024. Sebagai sosok pengganti, figur pengganti H. Bakrie ini tentu juga ingin meneruskan kiprahnya di DPR dengan sukses di Pemilu 2029. Meskipun para penantang baru perlu memenuhi persyaratan pencalonan dan membangun dukungan yang terukur, tetapi statusnya sebagai figur-figur yang dikenal luas oleh masyarakat menempatkan mereka sebagai kompetitor yang sepadan dengan para wakil rakyat yang ada selama ini.
Pada akhirnya, memprediksi peluang kandidat DPR RI Dapil Jambi pada Pemilu 2029 dimulai dari hasil Pemilu 2024, kemudian dilanjutkan dengan analisis perubahan dukungan, kinerja representasi, kekuatan partai, dan dinamika pencalonan. Delapan anggota terpilih pada periode 2024-2029 menyediakan titik awal untuk penelitian, tetapi belum cukup untuk menyusun peringkat peluang secara ilmiah.
Analisis yang lebih kuat membutuhkan data survei representatif yang mengukur popularitas, penerimaan publik, dan pilihan elektoral secara komprehensif dan profesional dari lembaga riset yang kredibel. Melalui survei tersebut akan dipotret dan dipetakan kekuatan, kelebihan dan kekurangan kandidat di berbagai wilayah, penilaian aktivitas legislasi, serta partai politik pengusung. Tanpa data tersebut, klaim mengenai kandidat yang paling berpeluang masih berupa spekulasi. Dalam politik elektoral, perolehan suara di Pemilu 2024 adalah modal awal untuk melangkah di Pemilu 2029, bukan jaminan sukses masa depan. Peluang pada Pemilu 2029 perlu diuji melalui kinerja legislasi, organisasi partai politik, persebaran dukungan kewilayahan, kompetisi antar kandidat dan kepercayaan publik.
Dekan Fisipol Universitas Nurdin Hamzah
Direktur Eksekutif Public Trust Institute (PUTIN)
Ketua Masyarakat Kebijakan Publik Indonesia (MAKPI) Klaster Sumbagsel
Membaca Elektabilitas Prabowo 2026: Ketika SMRC dan PPI Menghasilkan Angka Berbeda
KPK : HARKODIA di Lima Wilayah, Termasuk Jambi, Bukan Hanya Serimoni


