Suara HKTI, SAH Imbau Pengusaha Perkebunan Tak Buka Lahan dengan Membakar



Minggu, 06 September 2026 - 17:27:30 WIB



JAMBERITA.COM– Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Jambi, Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM, mengimbau seluruh pengusaha perkebunan di Provinsi Jambi untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Menurutnya, pembukaan lahan dengan pembakaran memiliki risiko besar terhadap terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama ketika kondisi cuaca memasuki periode kering. Karena itu, dunia usaha perkebunan harus mengedepankan metode pembukaan lahan yang aman, bertanggung jawab, dan tidak menimbulkan dampak bagi masyarakat.

“Pengusaha perkebunan harus menjadi bagian dari solusi dalam mencegah karhutla. Jangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, karena api dapat dengan cepat meluas dan sulit dikendalikan,” ujar Sutan Adil Hendra.

Ia menegaskan, pencegahan karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat, tetapi merupakan kewajiban bersama seluruh pemangku kepentingan, termasuk perusahaan perkebunan dan masyarakat.

Sutan Adil Hendra juga meminta perusahaan perkebunan memperkuat sistem pencegahan dan pengendalian kebakaran di wilayah konsesinya. Kesiapsiagaan tersebut antara lain dilakukan melalui pemantauan titik rawan, penyediaan sarana pemadaman, pembentukan tim tanggap darurat, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat sekitar.

“Perusahaan harus memiliki komitmen yang kuat. Jangan sampai baru bergerak setelah api membesar. Pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan ketika kebakaran sudah terjadi,” katanya.

Ketua HKTI Jambi itu menilai, menjaga lahan dari kebakaran juga merupakan bagian dari menjaga keberlanjutan usaha perkebunan. Karhutla tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi dapat mengganggu aktivitas ekonomi, kesehatan masyarakat, transportasi, hingga produktivitas pertanian.

Ia mengajak para pengusaha perkebunan untuk menerapkan prinsip zero burning dalam pengelolaan lahan dan membangun kolaborasi dengan petani serta masyarakat desa di sekitar kawasan perkebunan.

“Kalau lingkungan aman, masyarakat aman, maka kegiatan usaha juga akan berkelanjutan. Karena itu, jangan melihat pencegahan karhutla sebagai beban, tetapi sebagai investasi untuk menjaga keberlanjutan perkebunan,” tegasnya.

Sutan Adil Hendra berharap seluruh perusahaan perkebunan di Jambi dapat menjadi contoh dalam penerapan tata kelola perkebunan yang ramah lingkungan. Menurutnya, produktivitas perkebunan harus berjalan seiring dengan tanggung jawab menjaga lingkungan dan keselamatan masyarakat.

“HKTI mendorong dunia usaha perkebunan untuk tumbuh dan maju, tetapi pertumbuhan itu harus dibarengi tanggung jawab. Jangan membuka lahan dengan membakar. Mari kita jaga Jambi agar terbebas dari karhutla,” pungkasnya.(*)





Artikel Rekomendasi