Dekan Humaniora UBR Jambi, Dr. Rahima: Apalah Arti Otak Cerdas dan Gelar Akademis jika Tubuh Rapuh?



Senin, 18 Mei 2026 - 16:53:21 WIB



Foto : Dekan Humaniora UBR Jambi.
Foto : Dekan Humaniora UBR Jambi.

JAMBERITA.COM - Apalah arti otak yang cerdas jika ia terpenjara di dalam tubuh yang rapuh? Apalah arti tumpukan gelar akademis jika sang pemiliknya kehilangan daya untuk melangkah karena abai terhadap kebugaran fisiknya?”

Pertanyaan retoris sekaligus krusial ini dilontarkan oleh Dekan Fakultas Humaniora Universitas Bali Dwipa Rektorat (UBR) Jambi, Dr. Rahima, saat menyampaikan orasi ilmiah dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-IV UBR Jambi pada Sabtu (16/05/2026).

Di hadapan ratusan wisudawan, orang tua, dan civitas akademika, Dr. Rahima membawa pesan kuat tentang pentingnya kebugaran sebagai investasi jangka panjang demi mewujudkan generasi masa depan yang sehat dan bermakna.

Dalam orasinya, Dr. Rahima menyoroti tantangan kesehatan global yang kini bergeser dari penyakit infeksi ke Penyakit Tidak Menular (PTM). Mengutip data WHO, sekitar 31% populasi dewasa di dunia kurang beraktivitas fisik, yang memicu lonjakan penyakit jantung, stroke, diabetes, hingga kanker.

Kondisi di Indonesia pun setali tiga uang. Kemajuan teknologi dinilai menciptakan paradoks intelektual: generasi muda saat ini menjadi yang paling terpapar informasi, namun secara fisik menjadi yang paling rentan dalam sejarah akibat bangga menjuluki diri sebagai "kaum rebahan".

Data Kementerian Kesehatan tahun 2024 menunjukkan grafik mengkhawatirkan pada angka obesitas, hipertensi, dan diabetes di usia muda. "Peningkatan indeks kebugaran nasional setiap tahun memang ada, namun posisinya masih berada pada kategori rendah," ungkap Dr. Rahima.

Sebagai institusi pencetak lulusan kesehatan, Dr. Rahima menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk membangun kesadaran kebugaran. Ia membagikan empat strategi ilmiah yang dapat diterapkan sehari-hari:

1. Aktivitas Fisik Teratur dan Terukur: Sesuai rekomendasi WHO, minimal 150 menit per minggu untuk intensitas ringan-sedang (seperti jalan cepat, jogging, sepeda, berenang) atau 75 menit per minggu untuk intensitas berat.

2. Nutrisi Seimbang: Menerapkan prinsip "Isi Piringku" dengan porsi buah dan sayur kaya antioksidan alami yang tinggi, karbohidrat secukupnya, protein berkualitas, serta hidrasi yang cukup.

3. Istirahat dan Tidur Cukup: Berperan vital dalam regenerasi sel, pemulihan otot (recovery), dan menjaga keseimbangan hormon.

4. Manajemen Stres: Melalui relaksasi, aktivitas spiritual, serta dukungan sosial demi menjaga keseimbangan mental dan fisik.

Menariknya, Dr. Rahima memaparkan hasil penelitian berbasis kajian biomolekuler yang dilakukannya. Riset tersebut membuktikan bahwa olahraga yang aman bagi jantung justru yang dilakukan secara teratur dengan adanya masa recovery (2–3 kali seminggu dengan intensitas ringan-sedang). Pola ini terbukti meningkatkan antioksidan alami dan menghambat penuaan sel.

Sebaliknya, latihan fisik berat yang dipaksakan setiap hari tanpa recovery justru memicu hormon stres pada otot jantung, membentuk radikal bebas, hingga berisiko menyebabkan kerusakan otot jantung. "Banyak kejadian serangan jantung saat olahraga yang kita temui sehari-hari. Kuncinya bukan cuma tentang kuat bergerak, tapi tentang menjaga jantung agar tetap sehat. Berdasarkan grafik penelitian kami, latihan fisik konisten selama 10 minggu terbukti efektif menurunkan rerata denyut nadi recovery," jelasnya mendalam.

Di akhir orasinya, Dr. Rahima mengingatkan para wisudawan bahwa peran mereka di masyarakat bukan sekadar mencari kerja, melainkan menjadi role model gaya hidup aktif bagi lingkungan sekitar. ?Ia juga menyampaikan rasa bangganya atas keteladanan nyata yang ditunjukkan oleh Rektor UBR Jambi, yang dinilainya konsisten menerapkan gaya hidup sehat sehingga menjadi inspirasi bagi seluruh dosen, pegawai, dan mahasiswa dalam mewujudkan budaya kampus yang bugar dan produktif.

"Perjalanan menuju kebugaran adalah investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak terlihat hari ini, tetapi akan sangat terasa di masa tua. Bugar tubuhnya, sehat jantungnya, dan kuat masa depannya!" pungkasnya.(afm)





Artikel Rekomendasi