JAMBERITA.COM- Jika banjir di Kota Jambi hanya muncul di satu atau dua lokasi, maka satu kolam retensi mungkin masih bisa diperdebatkan. Namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Setiap hujan lebat, banjir muncul di belasan titik sekaligus, tersebar di berbagai kecamatan, dari kawasan permukiman, pusat aktivitas ekonomi, hingga ruas jalan utama. Pola ini menegaskan bahwa banjir Jambi bukan persoalan lokal, melainkan masalah sistemik yang bersumber dari banyak arah aliran dalam waktu bersamaan.
Secara teknis, limpasan air hujan di Kota Jambi tidak bergerak menuju satu titik tunggal. Topografi kota, jaringan drainase, dan keberadaan anak-anak sungai membentuk beberapa zona aliran dengan karakter berbeda. Ketika hujan turun merata, puncak limpasan dari zona-zona ini bertemu hampir bersamaan. Jika hanya ada satu kolam retensi, seluruh debit puncak itu akan menumpuk di satu lokasi dan cepat melampaui kapasitas tampung.
Kondisi ini diperparah oleh tekanan dari Sungai Batanghari. Pada periode hujan ekstrem, muka air sungai kerap berada pada level tinggi, sehingga kemampuan kota membuang air ke hilir menjadi terbatas. Dalam situasi seperti ini, kolam retensi tidak bisa segera dikosongkan. Ia berubah menjadi ruang tampung pasif yang cepat penuh. Ketika banjir terjadi di belasan titik, satu kolam jelas tidak cukup untuk menahan limpasan dari seluruh kota.
Secara realistis, kolam retensi perkotaan di Jambi hanya mampu menampung sekitar 3.000–4.000 meter kubik air. Angka ini relatif kecil jika dibandingkan dengan limpasan yang dihasilkan kawasan terbangun yang luas dan semakin kedap air. Satu kawasan permukiman dan komersial saja bisa menghasilkan limpasan ribuan meter kubik dalam satu kejadian hujan lebat. Ketika limpasan datang dari banyak kawasan sekaligus, kapasitas satu kolam langsung terlampaui.
Pengalaman kota lain memperkuat argumen ini. Jakarta, Semarang, dan Surabaya sama-sama menunjukkan bahwa kolam retensi baru efektif jika jumlahnya memadai dan terintegrasi dengan drainase, sungai, serta sistem pompa. Tidak satu pun kota tersebut mengandalkan satu kolam untuk mengendalikan banjir kota. Semua membagi beban limpasan ke beberapa ruang tampung agar puncak debit tidak bertemu di satu titik.
Dalam konteks Jambi, kebutuhan empat kolam retensi adalah pilihan teknis yang rasional. Kolam pertama berfungsi memotong limpasan dari kawasan hulu perkotaan yang berkembang pesat. Kolam kedua menjadi penyangga kawasan tengah kota yang padat dan minim resapan. Kolam ketiga ditempatkan di hilir untuk menahan air ketika Sungai Batanghari tinggi, dilengkapi sistem pintu air dan pompa. Kolam keempat berfungsi memecah jarak aliran dari kawasan barat–selatan kota agar tidak membebani sistem utama secara bersamaan.
Empat kolam ini bukan proyek simbolik, melainkan cara membagi risiko dan beban hidrologi. Dengan sistem seperti ini, puncak banjir bisa ditekan, durasi genangan dipersingkat, dan jumlah titik banjir dikurangi secara bertahap. Tanpa pembagian beban tersebut, kolam retensi hanya akan menjadi penunda genangan, bukan pengendali banjir yang sesungguhnya. Di tengah fakta belasan titik banjir yang terus berulang, Kota Jambi membutuhkan solusi yang sebanding dengan masalahnya—empat kolam retensi yang bekerja sebagai satu sistem.(*)
Rektor UNJA Pastikan Sistem Digital Berjalan Normal : Tidak Ada Peretasan di Sistem Kami!
Dugaan Pelecehan Seksual Guncang UNJA, Rektor : Kami Tidak Akan Tolerir, Komitmen Penindakan!
Kejati Jambi Gelar Perayaan Natal 2025 dengan Khidmat dan Penuh Sukacita
Momen Hari Juang TNI AD ke-80, Korem 042/Gapu Jambi Gelar Do'a Bersama
Kisah Pilu Aisyah : Terenggut Banjir Jambi, Meninggalkan 'Istana' yang Belum Sempat Dihuni
Ombudsman RI Jambi : Pejabat Publik Wajib Terbuka dan Responsif!
Perancang Kanwil Kemenkum Jambi Kawal Penuntasan Ranperda Insentif & Kemudahan Penanaman Modal

